Seorang bijaksana memberi nasihat begini, “Hendaklah kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Korintus 1:10).
Ada sepasang suami istri yang sering bertengkar. Hidup keluarga mereka seperti di atas bara api. Selalu panas. Kehangatan sebagai suami istri jarang terjadi. Padahal keduanya sudah dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan. Empat anak mereka tahu tentang ketidakharmonisan keluarga mereka. Namun mereka cuek saja, karena hidup mereka berkecukupan.
Sang istri sering teriak-teriak memarahi suaminya. Kalau sudah terlalu keras, sang suami membalas dengan menampar wajah sang istri. Hal seperti ini merupakan pemandangan yang sudah biasa. Setelah pertengkaran selesai, hidup mereka tampak baik-baik saja. Namun situasi hidup mereka seperti api di dalam sekam. Kemarahan dan sakit hati tetap menyala. Tidak ada pengampunan dan cinta yang menguasai masing-masing pribadi.
Suatu hari mereka pun memutuskan untuk berpisah. Sang istri tetap tinggal di rumah bersama dua anak perempuan, sang suami tinggal di rumah yang lain di kota yang lain bersama dua anak laki-lakinya. Awal-awalnya mereka saling rindu. Namun lema-kelamaan kerinduan kian menghilang.

Singkirkan Egoisme
Hidup bersama orang lain tidak selalu mudah. Selalu ada tantangan untuk menyamakan visi dan misi hidup. Pandangan hidup yang tidak sama sering menjadi pemicu perpecahan. Namun semestinya bangunan keluarga didasarkan pada visi dan misi yang sama.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa memperjuangkan kedamaian dalam hidup bersama dalam keluarga. Suami istri itu mengandalkan ego masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah untuk hidup bersama yang lebih baik. Akibatnya, mereka mesti berpisah. Mereka tidak memikirkan kepentingan anak-anak mereka.
Keluarga yang kurang harmonis membuka jalan bagi masuknya kejahatan. Apalagi keluarga yang hanya mengandalkan cinta diri yang berlebihan. Para anggota keluarga melakukan tugas-tugas atau pekerjaan hanya demi kepentingan diri sendiri. Tidak ada kepedulian satu terhadap yang lain. Kejahatan mudah sekali menancapkan kukunya dalam keluarga seperti ini.
Orang beriman membutuhkan kekuatan dari rahmat Tuhan untuk membangun hidup bersama yang harmonis. Untuk itu, yang diandalkan adalah pengampunan dan cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Orang tidak lagi mengarahkan seluruh hidupnya kepada dirinya sendiri. Tetapi orang mengarahkan hidupnya bagi kepentingan bersama yang lebih baik dan bahagia. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati.
**Frans de Sales SCJ
