RD Dominggus Koro selaku ketua Unio Keuskupan Agung Palembang turut menyampaikan ungkapan dukacitanya atas kepergian salah satu saudaranya.
“Beliau menjadi imam selama 30 tahun dengan setia. Tuhan yang mencintainya, telah mengambilnya. Kita amat mencintai beliau, tapi kita mesti menyerahkannya kepada Allah,” katanya.
Seperti yang dikatakan Romo Koro, kehadiran dan doa para umat sungguh menghibur dan menguatkan seluruh imam Unio Keuskupan Agung Palembang. Mereka tidak merasa sendiri dalam peristiwa duka ini

.
“Terima kasih keluarga, ibu, yang telah mempersembahkan Romo Boni menjadi imam diosesan di keuskupan ini. Terima kasih Pansos Bodronoyo yang mendukung Romo Boni dalam pelayanannya.”
Kepergian Romo Boni memang begitu cepat. Semua orang yang mengenalnya tentu merasa kaget, karena tak pernah ada riwayat Romo Boni sakit. Tapi siapapun yang mendnegarnya harus harus menerima bahwa beliau mengakhiri jalan hidupnya dengan menjalani tugas imamat.
“Romo Boni saudaraku, kami rekan rekan Unio kapal kagum akan pemberiam dirimu pada kaum miskin, lewat Pansos Bodronoyo. Engkau mengajak untuk berbagi, tidak banyak bicara tapi mewujudkan karya nyata. Banyak orang mengamini karyamu dalam melanjutkan karya Tuhan. Semoga penghayatanmu menjadi teladan bagi kami. Semoga langkahmu ringan dan lurus menuju surga. Berbahagialah bersama Tuhan dan para kudus.”
** Maria Sylvista
