Memupuk Persahabatan
(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)
“Aku berusaha melakukan segala sesuatu, dan menanggung aneka derita demi kasih dan kemuliaan Hati Kudus.”
(St. Margareta Maria)
Pengajaran dan sharing
St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa “hukum persahabatan berbunyi: kita akan mengalami sukacita bila tinggal bersama sahabat. Sebaliknya persahabatan akan retak bahkan hilang kalau melalaikan kunjungan dan perjumpaan!” Tuhan Yesus menetapkan Ekaristi sebagai konsekuensi menyebut kita sahabatNya: “Aku menyebut kamu sahabat” (Yoh 15:15). Sahabat yang baik senantiaa tinggal bersama. Sakramen Mahakudus adalah kehadiran Tuhan Yesus untuk tinggal bersama kita sebagai sahabat-Nya. Dia ingin tetap menjalin persahabatan itu.
Maka sakramen ini merupakan tanda kenangan dan sekaligus kesatuan dalam persahabatan-Nya dengan kita manusia. Ekaristi adalah bukti betapa besarnya cinta Yesus kepada kita. Dia bersabda, “ambillah anugerah besar ini dan lakukan setiap kali untuk mengenang kehadiran-Ku!” Ekaristi bukan simbol, bukan pula obyek yang dikuduskan, tetapi Yesus sendiri, seluruhnya dan tak terbagi; itu adalah Yesus yang berupa Hosti! Bossuet mengatakan, “Demi mencintai umat manusia, Ia telah menjelma menjadi manusia, hal yang tidak mengherankan terjadi dalam Ekaristi! Dalam Ekaristi Yesus mencintai kita pribadi lepas pribadi”
Nabi Yesaya berkata, “Sungguh engkau Allah yang menyembunyikan diri” (Yes 45:15). Dalam Sakramen Mahakudus, Allah menyembunyikan diri dalam sekeping roti. Dalam peristiwa Inkarnasi yang tampak adalah manusia, ke-Allah-an-Nya tersembunyi. Sekali lagi sebagai sahabat yang baik, Ia tinggal bersama kita dalam Sakramen Mahakudus; di sana Ia menyembunyikan kemusiaannya dan tampak dalam wujud roti. St Bernardus berkata, “Yang Ilahi tersembunyi, yang manusiawi tersembunyi: hanya kasih yang paling dalam saja yang terlihat!”

Reaksi Jiwa
Oh, penebusku yang kucinta, kehadiran-Mu penuh kasih hanya untuk umat manusia. Dalam Sakramen ini Engkau menyembunyikan keagungan-Mu dan merendahkan kemuliaan-Mu demi mencintai kami; Engkau begitu jauh melangkah karena terbakar oleh kasih-Mu sampai Engkau melepaskan hidup ilahi-Mu.
Selama Engkau di altar nampak tidak mempunyai apa-apa kecuali cintai-Mu kepada umat manusia. Ya, betapa besar kasih yang Kau curahkan kepada kami. Dan apa balasan kami kepada-Mu, oh, Anak Allah yang agung? Persahabatan akan retak dan ambyar kalau melalaikan kehadiran. Ampuni aku yang sering absen – tidak hadir di hadapan-Mu!
Oh, Yesus, begitu besar cinta-Mu kepada manusia dan Engkau merindukan manusia hidup dalam kemuliaan-Mu. Tetapi apa balasan kami terhadap sobatku yang setia? Aku sering “absen – tidak hadir di samping-Mu!”
Aku yakin Engkau tahu betapa tinggi risikonya terhadap penampilan-Mu itu! Aku lihat dan Engkau sendiri telah merasakan betapa sedikitnya orang yang menghormati-Mu! Mereka tidak peduli bahwa Engkau ada dalam Sakramen Mahakudus itu.
Aku melihat sendiri banyak orang yang menghina-Mu dengan melempar Sakramen ke kotak sampah; membuangnya ke air atau membakarnya ke dalam api. Dan saya tahu sebagian besar dari mereka adalah orang yang percaya kepada-Mu, oh Tuhanku.
Banyak juga yang datang ke gereja tanpa persiapan. Atau tidak memiliki sikap devosi kepada-Mu. Ada pula yang meninggalkan Engkau sendirian di atas altar tanpa lampu bernyala atau ornamen yang pantas untuk menandai kehadiran-Mu.
Engkau banyak mengalami luka karena tindakan yang tidak pantas terhadap-Mu! Oh Tuhanku, bisakah aku mencuci noda-noda itu dengan air mataku atau bahkan dengan darahku? Bisakah aku membuat silih untuk mereka yang meletakkan Engkau di tempat yang tidak layak? Bisakah aku membuat silih bagi mereka yang menolak, mengejek dan melecehkan cinta-Mu yang begitu besar dan tulus itu?
Sikap membuat silih, mungkin berlebihan! Tapi paling tidak aku ingin sering mengunjungi-Mu dan menyembah-Mu dalam Ekaristi. Terimalah, oh Bapa yang kekal, ini adalah sedikit rasa hormatku dari aku orang yang hina dina ini. Sungguh aku ingin mempersembahkan sikap silih bagi mereka yang merendahkan Putera-Mu dalam Sakramen mahakudus; terimalah ini dan persatukan dengan penghormatan tak terbatas yang dilakukan oleh Yesus Kristus di kayu salib, dan yang setiap hari dipersembahkan di atas altar suci.
Oh, Yesusku, dapatkah aku menangisi dosa manusia dengan kasih kepada Sakramen Mahakudus! Oh Yesus sahabatku. Semoga nama-Mu dikenal dan dicintai oleh semua bangsa!
Visitasi kepada Bunda Maria
Oh, perawan yang penuh kuasa, di tengah kurangku bersyukur kepada penyelamat kekalku, aku masih memiliki keyakinan besar bahwa aku tetap akan engkau selamatkan; dan aku yakin bahwa engkau ibuku yang begitu kaya akan rahmat sampai St. John Damascene menyebutmu “Samodera rahmat!”
St. Bonaventura menyebutmu “kumpulan rahmat” (Assemblage of graces), karena engkau menjadi sumber semua rahmat; St. Ephrem, menyebutmu “sumber rahmat dan penghiburan!”; dan St. Bernardus menamaimu “kebaikan yang sempurna!”
Aku tahu betapa besar keinginanmu melakukan sesuatu demi kebaikanku, dan ini berarti engkau merendah dirimu, sampai St. Bonaventura berkata, “barangsiapa tidak minta rahmat mereka berdosa melawanmu!”
Oh ratu yang begitu kaya, bijaksana dan penuh belaskasih; aku melihat bahwa engkau tahu jauh lebih baik daripada apa yang aku inginkan, dan engkau jauh mengasihiku daripada aku mengasihimu! Mintakan rahmat untuk keselamatan jiwaku kepada Allah dan saya akan puas! Ya Tuhan Allahku, curahkanlah rahmat yang Bunda Maria mintakan kepadaMu untukku! Amin. **
Yohanes Haryoto SCJ
