Aku harus gimana dong? Suamiku Cemburuan!

Romo, saya seorang ibu yang sudah punya dua orang anak. Setiap hari saya mengantar dan menjemput kedua anak saya itu ke sekolah. Sementara suami saya hingga kini tidak pernah peduli terhadap sekolah anak-anak kami. Dia lebih sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi dapur kami. Namun sering kali dia mengomeli saya, kalau saya pulang terlambat setelah mengantar atau menjemput anak-anak.


“Wah, kunjungi pacar lama, ya?” Dia sering mengejek saya begitu saya telat sampai di rumah. Saya merasa tersinggung setiap kali mendengar kata-kata seperti itu. Bagaimana mungkin saya masih mau main selingkuh dengan lelaki lain? Saya kan sudah punya anak dan suami? Tidak ada niat sedikit pun kembali ke pacar lama yang juga tinggal di kota yang sama.

Saya sudah menambatkan hati pada suami saya untuk selama hidup. Jadi saya tidak tahu mau buat apa. Sudah capek mengantar dan menjemput anak malah masih dicurigai suami seperti itu.
Saya mohon bantuannya, Romo.

Bagaimana saya mesti menghadapi hal seperti ini? Saya juga punya perasaan. Saya tidak ingin hubungan dengan suami retak. Saya sangat mencintai anak-anak saya. Saya ingin tetap membangun keluarga yang baik. Saya hanya berharap agar suami saya berubah pikiran. Tidak memikirkan yang bukan-bukan tentang saya. Saya sendiri mau mengerti persoalan hidup suami saya.

Salam dalam Tuhan Yesus,

Seorang Ibu

Ilustrasi suami cemburuan | Foto: Majalah FIAT

Ibu yang lagi capek. Betapa banyak kasus besar terjadi dalam kehidupan keluarga bermula dari masalah kecil yang dibiarkan berlalu tanpa penyelesaian. Kebanyakan dari masalah itu bersumber pada kurang lancarnya komunikasi antara suami dan istri. Itulah kesan yang pertama-tama muncul dalam pikiran saya setelah membaca surat ibu.

Saya menduga ada suasana komunikasi yang tidak lancar terjadi dalam hubungan ibu dengan suami. Komunikasi ini terutama lebih menyangkut relasi hati dan perasaan.


Dugaan saya ini bersumber dari kurangnya pengertian dan perhatian dari suami terhadap diri ibu sendiri. Ibu mengatakan bahwa suami ibu tidak pernah peduli dengan sekolah anak-anak dan lebih sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Ini tanda-tanda yang semestinya mendapat perhatian serius dalam hubungan suami dan istri.


Saya menganjurkan agar ibu mengadakan refleksi dan koreksi diri, yaitu bertanya diri, ada apa dengan suami ibu? Lalu bagaimana ibu sendiri selama ini? Mengapa suami ibu sampai tega melemparkan kata-kata seperti itu, sementara ibu bekerja keras mendampingi anak-anak dengan mengantar dan menjemput mereka.

Saya mengerti bahwa ibu membutuhkan ‘pengakuan dan penghargaan’ atas kerja ibu. Namun yang ibu dapatkan adalah kecurigaan yang menyakitkan. Apakah selama ini masalah yang menyangkut kejujuran relasi ini sudah diselesaikan dengan tuntas atau belum? Atau bagaimana perhatian atau waktu yang ibu berikan kepada suami selama ini?

Apakah sebagai suami istri Anda mempunyai waktu khusus berdua untuk membina relasi yang lebih intim dan jujur sebagai suami istri? Kalau hal itu tidak mungkin terjadi, justru inilah masalah yang sebenarnya dan seharusnya mendapat perhatian. Anda berdua mesti pikirkan serius.


Ibu mempunyai suatu kekuatan batin yang baik. Kesadaran ibu sebagai seorang istri yang tidak mungkin berpikir ‘eneh-aneh’, karena hati ibu sudah tertambat pada anak-anak dan suami sungguh merupakan kekuatan dasar dalam membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera. Kesadaran ini juga bisa menjadi alasan dan dasar untuk berbicara dari hati ke hati.


Apakah ibu pernah membicarakan secara khusus ketersinggungan ibu dengan ‘ejekan’ sang suami itu? Kalau itu sekedar ‘cara canda’ untuk mencari perhatian ibu yang mungkin selama ini terlalu sibuk dengan anak-anak, maka tidak perlu dianggap serius. Balas canda itu dengan canda. Tetapi kalau canda itu merupakan ‘sindiran’, inilah saat seorang suami dan istri mesti duduk, melepaskan segala urusan harian mereka dan memusatkan hati, pikiran dan pembicaraan pada masalah yang terjadi.


Tingkat komunikasi dari hati ke hati antara suami istri terjadi bila mereka sudah sampai pada rasa saling percaya, adanya saling mengerti dan menghargai. Keresahan ibu memang beralasan, terutama bila hal ini benar-benar terjadi bahwa suami tidak peduli dengan anak-anak. Karena pendidikan anak bukanlah tugas ibu semata-mata, melainkan tugas kedua orang tua.


Kesalahan fatal orangtua jaman modern ini adalah mereka telah merasa mendidik anak-anak secara baik bila sudah memberi segala keperluan yang dibutuhkan, terutama kebutuhan materi. Hal ini tidak benar. Anak membutuh¬kan kasih dan perhatian, dan bukan hanya materi. Betapa sering seorang suami lari dari tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anak dan membe¬bankan pendidikan anak-anak ini hanya pada istri.


Semoga Anda semakin bisa berkomunikasi dengan baik dengan suami Anda. Dengan demikian kecurigaan suami Anda tidak berlanjut dan tanggungjawab pendidikan anak-anak Anda menjadi tanggungjawab bersama. Berkat Tuhan melimpah atasmu. **

V. Tejo Anthara SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.