Hidup beriman merupakan suatu warisan istimewa dalam hidup ini. Karena itu, orang tidak boleh ceroboh dalam menjalani hidup imannya
Karena ceroboh, seorang anak mengorbankan hak anak sulungnya kepada adiknya. Biasanya dalam keluarga mereka secara turun-temurun telah diciptakan hak istimewa bagi seorang anak sulung. Anak sulung mendapatkan keistimewaan dalam hal hak waris. Dia akan mendapatkan setengah warisan dari orangtuanya. Sedangkan adik-adiknya akan berbagi setengah hak warisan.
Namun anak sulung itu ceroboh. Suatu ketika dia sangat lapar. Dia mendatangi adiknya yang sedang memasak daging piaraannya. Dia meminta adiknya untuk berbagi, karena perutnya yang sedang kosong. Dia ingin mengenyangkan perutnya dengan makanan itu. Namun sang adik tidak mau memberikannya.
Si sulung berkata, “Kalau kamu memberi saya makan sepiring daging itu, saya akan memberikan setengah dari warisan saya.”
Sang adik terkejut mendengar kata-kata sang kakak. Serta merta dia memberikan semua daging yang sudah selesai dia masak. Sang kakak melahap habis daging itu. Dia tidak sadar bahwa dia telah kehilangan hak waris dari orangtuanya.

Menata Hidup
Sering kecerobohan membuat orang terpuruk dalam hidup. Orang yang ceroboh membawa dirinya ke jurang kehancuran. Banyak orang tidak menyadari hal ini. Banyak orang menggampangkan hal ini. Namun setelah mereka sadar lalu mereka merasa bahwa diri mereka sudah tidak punya apa-apa yang bisa diperjuangkan.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk menata hidup kita, agar selalu membangun hal-hal yang baik dalam hidup. Anak sulung itu kurang perhitungan. Dia terlalu cepat memutuskan hal yang sangat bermakna bagi dirinya hanya demi sepiring daging. Akibatnya, dia kehilangan setengah dari warisan orangtuanya. Dia kehilangan keistimewaan dalam hidupnya.
Dalam hidup ini, kita mesti senantiasa berhati-hati dalam memutuskan hal-hal yang sangat menentukan bagi hidup kita. Jangan karena kesenangan diri, kita rela kehilangan keistimewaan hidup kita. Kita mesti berjuang untuk mempertahankan hal-hal istimewa yang telah kita miliki, misalnya iman kita. Kita tidak menggampangkan hal-hal yang menjadi prioritas hidup kita.
Orang beriman tentu senantiasa memperjuangkan imannya dalam hidup yang nyata. Orang beriman tidak menggadaikan imannya dengan harta duniawi yang mudah hancur. Mari kita terus-menerus memperjuangkan iman kita dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita mengalami sukacita dan damai. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
