Tiada yang lebih pasti daripada membangun kesetiaan bagi hidup bersama.
Dalam kisah kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa di Taman Firdaus, dituturkan bahwa Tuhan tidak menghancurkan manusia pertama. Sebelum mengusir mereka keluar dari Taman Firdaus, Tuhan membuat sebuah janji keselamatan yang akan terlaksana di kemudian hati.
Tuhan berfirman dalam janji-Nya, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kejadian 3:15).
Janji Tuhan itu kemudian terpenuhi dengan hadirnya seorang perempuan bernama Maria yang lahir di Nazareth. Tumitnya meremukkan kepala si jahat, ketika melahirkan Mesias.

Tumbuhkan Kesetiaan
Dalam dunia ini banyak orang membuat janji-janji. Misalnya, pada masa kampanye, para politisi membuat janji-janji untuk merebut suara sebanyak-banyaknya demi meraih kursi di DPR. Soalnya, apakah janji-janji yang mereka ucapkan itu mereka tepati?
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk senantiasa memegang teguh janji-janji yang telah kita ucapkan. Tuhan menepati janji-Nya yang telah diucapkan-Nya ribuan tahun lalu. Tuhan tidak mengingkari janji-Nya. Mengapa? Karena janji-Nya itu diucapkan demi keselamatan jiwa manusia. Penepatan janji itu mengangkat manusia dari lumpur dosa. Manusia dibebaskan dari perbudakan iblis.
Bercermin pada kesetiaan Tuhan pada janji-Nya, kita manusia pun mesti berjuang untuk setia pada janji-janji kita. Mereka yang hidup sebagai suami istri mesti saling setia untuk membangun keluarga yang bahagia. Ketidaksetiaan sering menjadi pemicu kekacauan dalam hidup berkeluarga. Ujungnya adalah ketidakbahagiaan.
Mari kita terus-menerus memperjuangkan kesetiaan kita satu sama lain. Dengan demikian, hidup bahagia menjadi bagian dari perjalanan hidup kita yang panjang di dunia ini. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
