Romo, saya punya dua anak laki-laki yang berangkat dewasa. Anak saya yang besar sekarang duduk di kelas dua SLTP. Dia rajin ke gereja. Dia aktif sebagai misdinar di paroki kami. Akhir-akhir ini saya menjumpai sesuatu yang lain dalam diri anak pertama saya ini.
Dia mulai belajar ilmu kebal sama seseorang di kota kami. Soalnya sekarang dia menjadi anak yang tidak percaya diri. Dia cepat sekali tersinggung dan cepat marah. Sasarannya adalah saya dan anak saya yang bungsu (sekarang duduk di kelas enam SD). Bagaimana saya menghadapi anak saya yang berubah seperti ini, Romo? Saya sibuk mengurus bisnis. Sementara suami saya sering keluar kota. Saya mohon bantuan Romo. Terima kasih.
Ibu Nani W.

Ibu Nani yang sibuk. Mencermati masalah yang ibu tuliskan, secara spontan saya berpikir dan menjadi yakin bahwa ada kebutuhan pokok seorang anak yang lagi tumbuh dewasa yang hilang dari anak ibu. Kebutuhan pokok itu adalah kasih dan perhatian dari seorang ibu. Anak seumur anak ibu adalah umur transisi. Orang bilang ‘anak baru gedhe’ (ABG), yaitu peralihan dari masa kanak-kanak menuju ke masa dewasa.
Dia sedang berusaha untuk menemukan jati dirinya, namun demikian dia tidak bisa dibiarkan sendirian. Dia membutuhkan orang lain yang bisa membantu dalam pencarian diri. Orang yang paling dekat untuk menjadi teman dalam pencarian diri itu adalah bapak dan ibunya.
Tetapi kenyataannya ibu dan suami Anda terlalu sibuk dengan bisnis. Waktu ibu habis untuk bisnis itu, sedangkan waktu bapak tersita untuk pergi ke luar kota. Di sinilah sumber masalahnya, mengapa anak ibu mencari pelarian lain yaitu belajar ilmu kebal. Belajar ilmu kebal adalah bentuk ia mencari perhatian. Selama ini ia kehilangan kasih dan perhatian ibu. Dia akan membuat masalah karena merasa dikecewakan dan kurang diperhatikan.
Mungkin ibu akan bertanya, ‘apa yang kurang’? Toh semua kebutuhan anak sudah tercukupi. Uang saku berlebihan. Segala kebutuhan lainnya sudah tersedia: mobil ada, televisi dengan alat-alat elektronik lainnya ada, komputer ada. Mungkin ibu akan mengatakan sebagai orangtua ibu sudah bertindak bijaksana dan baik terhadap anak-anak. Mungkin betul. Tetapi mungkin ibu perlu menyadari, bahwa anak ibu itu manusia yang mempunyai kebutuhan lain selain kebutuhan materi. Dalam masa perkembangan ini kebutuhan yang dia inginkan adalah kasih dan perhatian. Justru dua hal ini yang kurang ibu berikan kepada anak ibu. Anak ibu butuh dipuji dan dikritik. Jangan biarkan dia sendirian mencari jati dirinya.
Kemampuan mental untuk membedakan mana yang baik dan buruk masih belum kuat. Bagaimana pun besarnya badan, dia masih tetap anak yang tergantung pada kasih orangtua.
Kalau ibu tidak mau kehilangan anak ibu, rangkullah kembali anak ibu. Berikan kasih dan perhatian yang dia perlukan. Hindari teguran yang bernada marah. Ajaklah sharing (berbagi pengalaman) dari hati ke hati. Saya yakin meski ibu begitu sibuk, ibu masih bisa menyediakan waktu untuk anak-anak ibu.
Pada dasarnya anak ibu itu baik dan patuh, apalagi dia begitu aktif dalam kegiatan misdinar. Saya yakin perubahan sikapnya terjadi bukan karena dia berubah karakter atau kepribadian, tetapi lebih sebagai cara untuk menunjukkan dirinya bahwa dia anak yang bisa mandiri dan dewasa. Namun rasanya caranya itu yang kurang tepat.
Saya yakin ibu adalah ibu yang bijak, maka pasti juga akan rela mencari waktu untuk memberi perhatian dan kasih yang lebih untuk anak-anak ibu. Berkat Tuhan melimpah untuk ibu.
Untuk keluarga-keluarga atau pribadi, Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.
Pertama, tempatkan posisi Anda sebagai orangtua, mengapa Anda membiarkan anak Anda belajar ilmu kebal?
Kedua, sudah cukupkah Anda mengenal sifat-sifat dan kelakuan anak-anak Anda?
Ketiga, apa yang menjadi prioritas Anda dalam mendidikan anak-anak Anda? Mengapa Anda punya prioritas itu?
Keempat, langkah-langkah konkrit apa yang Anda buat untuk menghadapi anak-anak Anda yang sudah terlanjur belajar magic atau ilmu-ilmu kebal? **
V. Teja Anthara SCJ
