“Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku,” kata Nabi Hababkus (Habakuk 3:19). Namun banyak orang tidak mau berharap pada Tuhan. Mereka menaruh pengharapan pada hal-hal yang palsu.

Saat masih balita, orangtua Oprah Winfrey bercerai. Ia diasuh oleh neneknya. Mereka hidup dalam kemiskinan. Bahkan ia mesti menggunakan karung sebagai pakaiannya. Suatu hari, neneknya jatuh sakit. Ia mesti kembali tinggal dengan ibunya.
“Ibu saya adalah seorang pembantu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Pada umur sembilan tahun, saya diperkosa secara bergiliran oleh sepupu, paman, dan keluarga teman saya. Akhirnya saya muak dan kabur dari rumah pada usia 13 tahun dalam keadaan hamil,” tutur Oprah tentang masa lalunya.
Pada usia 14 tahun, ia melahirkan anak pertama. Sayangnya, anak itu telah meninggal dalam kandungannya. Lantas ia mengunjungi ayahnya yang berprofesi sebagai tukang cukur rambut di Negara Bagian Tennessee, Amerika Serikat. Saat itu, ia mencurahkan segala kekecewaan dan kesedihannya.
Ia kemudian belajar di SMA. Kerja kerasnya terbayar. Ia menjadi siswa unggulan dan lulus sebagai murid terbaik. Ia juga memenangkan beberapa penghargaan dalam bidang pidato. Ia kemudian mengambil kuliah jurusan Komunikasi di Tennessee State University.
“Di sela-sela waktu kuliah, saya mengambil pekerjaan sebagai penyiar di radio lokal. Setelah lulus, saya mulai meniti karir di bidang pertelevisian. Tidak mudah sebagai orang kulit hitam untuk berkarir di dunia televise, karena dianggap kurang menjual,” kata Oprah yang kini menjadi milyarder ini.
Oprah Winfrey mengaku ia memiliki mimpi besar dan tidak menyerah. Di usia sembilan belas tahun, ia akhirnya menjadi wanita kulit hitam pertama yang menjadi pembawa berita. Ia ditunjuk menjadi pembaca berita di program AM Chicago, acara yang kemudian menjelma menjadi program paling banyak di tonton di Amerika Serikat pada saat itu. Pada 1986, AM Chicago pun berubah nama menjadi Oprah Winfrey Show.
Berani Bertaruh
Badai kehidupan sering melanda hidup manusia. Namun apakah manusia mesti menyerah pada badai kehidupan itu? Tampaknya manusia mesti terus-menerus berjuang. Di dalam badai itu pasti ada pengharapan. Ada sukacita besar, ketika orang berhasil melewati badai itu.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani bertaruh dalam kondisi kehidupan kita masing-masing. Tidak selamanya kegelapan menyelimuti hidup manusia. Pasti ada jalan terang, ketika manusia mau berjuang dalam hidup ini. Oprah Winfrey berhasil melintasi hari-hari gelap hidupnya. Ia berjuang untuk merebut kesuksesan bagi hidupnya. Kini ia boleh menjadi orang yang tersohor dan terkaya di tempat tinggalnya.
Karena itu, yang mesti kita bangun dalam hidup ini adalah kreativitas demi kreativitas. Ketika satu jalan tampak buntu, ada jalan lain yang terbuka untuk kita lintasi. Jangan terpuruk, ketika Anda dilanda oleh badai kehidupan. Kita mesti menantang badai itu dengan penuh pengharapan bahwa suatu ketika badai itu pasti berlalu.
Tentu saja kita tidak berjuang sendirian. Sebagai orang beriman, kita mesti menyadari bahwa ada Tuhan yang hadir dalam badai kehidupan kita. Tuhan menatap kita dengan penuh kasih sayang. Tuhan pasti memberikan bantuanNya untuk kita. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
