30 Langkah Menuju Kesucian (5)

Menemukan Nilai Diri dalam Pandangan Allah

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000.)

Pengantar


Seri ke-5 ini memuat langkah ke-4 menuju kesucian. Langkah pertama adalah menanggapi Panggilan Tuhan dengan cara menyesuaikan diri, agar perasaan dan pikiran kita sama dengan Kristus. Langkah kedua ialah tindakan kita sesuai dengan tindakan Allah. Menyadari bahwa mencintai itu kata kerja, artinya mencintai terwujud dalam tindakan atau perbuatan bukan sekedar omongan atau wacana belaka.

Seri ketiga dan keempat memuat langkah ketiga yaitu memahami bahwa kita diciptakan karena Allah yang mencintai kita. Mencintai berarti tinggal bersama! Kesucian kita akan berproses kalau kita tinggal bersama Kristus. Seri ke-5 ini memuat langkah keempat ialah menyadari betapa luhur nilai hidup kita di mata Allah.

Doa


Yesus, penebusku, seluruh dunia tahu, seluruh dunia mengatakan, betapa besar cintaMu kepada dunia! Engkau begitu mencintai orang kecil, untuk itu Engkau memilih menjadi miskin. Engkau mencintai pendosa; di depan umum Engkau menerima wanita Samaria, Magdalena wanita yang berdosa besar (Luk 18:10-14; Yoh 4:7, dsb).Engkau menanti dan merangkul anak hilang tatkala kembali. Betapa berharganya aku ini di mataMu! Amin.

Pengajaran


Dalam perwahyuan-Nya, St. Mechtilda melihat malaikat Kerahiman dari Surga turun mendekati orang berdosa. Ia berpakaian putih. Setiap hari ia menghadap Allah dengan membawa orang berdosa. Sikap Kerahiman Allah ini dianugerahkan kepada manusia untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya, yaitu hari kiamat. (Perwahyuan ini sama dengan yang diterima oleh St Faustina).

Pada hari khiamat hukum yang berlaku bukan lagi belaskasih atau kerahiman tetapi hukum keadilan dengan prinsip: “yang benar diganjar dan yang salah dihukum!” Mari kita menyadari “apa keinginan yang hidup dalam Hati Allah Bapa kita!”

Allah Mencari Kita


Keinginan Allah yang paling pokok adalah “kebahagiaan manusia” – “aku datang agar kalian memiliki hidup dan memilikinya secara berkelimpahan!” (Yoh 10:10). Allah menjumpai kita melalui PuteraNya – “Allah mencintai dunia sampai Ia mengutus anak tunggalNya” (Yoh 3:16).

Ketika setan masuk ke dalam dunia, ketakutan merajai atau menguasai hati manusia. Kedamaian dan kebahagiaan manusia musnah. Setan itu dulunya bersama dengan Allah. Ia lari dari Allah; ia menyakiti dirinya sendiri karena ia kehilangan rasa bersalah dan kesuciannya. Padahal sikap bertobat karena menyadari kesalahannya dan kesucian adalah keutamaan yang membuat Allah berkenan padanya.

Apa yang dibuat oleh Allah demi kebahagiaan manusia dan diriNya? Ia sendiri datang dalam keadaan miskin, rendah dan mengambil wujud manusia yang menderita. Kita tidak pernah bisa memahami mengapa manusia begitu berharga di mata Allah.

Kita tidak mampu mengerti bagaimana Ia bisa bahagia dengan keberadaan kita yang tidak luhur seperti manusia pertama yang Dia ciptakan; kita hanyalah debu, gagal dan hancur. Allah ingin membarui manusia!

Bersama Anak TunggalNya, semua yang Dia miliki sudah diberikan kepada manusia; dan sekarang saatnya Dia memberikan diriNya sendiri seutuhnya. St Yohanes Salib memberi alegori tentang Inkarnasi demikian: “Bapa memberikan ciptaan kepada PutraNya sebagai mempelaiNya. Tetapi sang mempelai itu seorang budak, dibelenggu dengan rantai besi.

Bapa mengatakan kepada Sang Sabda: “PuteraKu, inilah mempelai wanitamu, yang telah Aku ciptakan segambar dengan Aku, di mana Aku sangat mencintainya. Tebuslah mereka dari perbudakan. Untuk menebusnya, dikau juga harus menjadi seperti mereka dan tetap memegang hukum kasih. Jadilah manusia seperti mereka; mereka akan bahagia melihatMu!”

Jawab Sang Sabda Kekal: “KehendakMu terjadilah!” “Aku akan pergi dan menemui isteriKu; akan saya sembuhkan penderitaan dan kecemasannya; aku akan rela mati agar mereka hidup dan akan kutuntun kembali ke BapaKu!”


St. Fransiskus Assisi memujiNya: “Oh Kristus, Engkau tidak mampu lagi melawan kasih yang gila, karena demi kasih itu Engkau rela turun ke bumi!” “Allah telah menjadi manusia, agar manusia menjadi seperti Allah sebagaimana Kristus menjadi manusia” (St Gregorius Nazianze). Maka Inkarnasi adalah keputusan Allah demi cintaNya kepada manusia.

Yesus Menampakan Wajah Allah Kepada Kita


Allah tidak pernah ingkar janji. Umat manusia teriak kepada Allah, “Oh, Tuhan dengarlah! O, Tuhan bersegeralah! Jangan tunda-tunda demi sumpahMu!” (Dan 9:19). Umat manusia sangat rindu akan Allah, dan Inkarnasi adalah bagian Allah yang menakjubkan untuk memuaskan keinginan umat manusia.

Kata Yesus kepada Filipus, “Siapa yang melihat Aku, ia melihat Bapa juga” (Yoh14:9). Origenes menjelaskan Condescension (perendahan hati Allah) dengan berkata, “Betapa sulitnya memahami kerendahan hati Allah secara menyeluruh.

Untuk itu, telah tersedia ukuran kecil atau miniatur, yaitu Sabda Ilahi. Ia telah merendahkan dirNya sendiri, membuat dirinya kecil dan tidak berarti, menghampiri kita dengan gambaran Allah Bapa yang mengagumkan! Bunda Maria telah menutupi Sabda Ilahi dengan pakaian daging, dan sejak itu kita bisa bertemu Allah!” Dengan demikian “kebaikan dan kelembutan Allah penyelamat kita kelihatan” (Tit 3:4).

Mari kita kontemplasi pada Kanak-Kanak Yesus – “ia menjadi seperti kita” (Ibr 2:17). Seorang anak kecil telah memberitahu kepada kita sebagai Allah, kebesaranNya mengatasi semua yang besar dan memerintah kita untuk menyembahNya – di Betlekem. Ia begitu kecil yang sangat tergantung pada kasih kita.

Perawan Maria telah menghadiahkanNya kepada dunia; ia angkat di tangannya dan wajahNya tersenyum manis. Setiap umur manusia boleh menggendongNya dan memperhatikanNya. Gembala miskin tanpa takut mendekat dan mencium kaki dan tangan si kecil. Ia adalah Anak Domba Allah.

Ia sumber sukacita Ilahi! Ia juga ingin para muridNya menjadi anak domba dan belajar daripadaNya, “lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Ia sungguh Allah yang baik, yang kemanusiaan nampak begitu nyata. Mesias yang lembut datang ke dunia sebagai “penerjemah Kebaikan Allah”, kata St Ambrosius.

Sebelum Ia datang, manusia tahu kuasa Allah, kebijaksanaanNya, dan keadilanNya, tetapi mereka tidak tahu melimpahnya BelaskasihNya. Dalam diri Penebus, sikap adil dan damai berpelukan satu sama lain; dan orang yang takut akan Allah menjadi dekat mencintai Penciptanya.

Kristus dicintai orang seluruh dunia, Walau masih di gendongan mamanya, anak kecil mencintai Yesus; anak muda tatkala diterjang godaan mereka datang kepadaNya, mohon mengampunan. Rahasia sukacita semua muridNya, atau kekuatan para martir, sumber pertobatan, kemurnian para perawan, berpusat pada apa yang dikatakan oleh St. Cicilia, “I Love my Christ!” Ia adalah pelindungku, penghibur dan teman bahkan milikku juga oh Yesus.

Buket Rohani


Tuhan kita rindu lahir, dan sekarang sudah lahir karena mencintai kita dan Ia ingin kita cintai! Kita sangat berharga di mataNya” (St Alphonsus Liguori). **

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.