Setelah tiba di Palembang jenazah Rm. Alexander Sapta Dwi Handoko di semayamkan di Gereja Katolik Santo Fransiskus de Sales, Selasa (25/5/2023) yang lalu. Esoknya Rabu, (25/5/2023) diadakan Misa Arwah Tirakatan pada pukul 19.00 WIB.
Kurang lebih 1000 umat hadir dalam perayaan ekaristi tersebut. Romo Andreas Suparman sebagai Pimpinan Provinsial SCJ Indonesia menjadi selebran utama. Lima imam yang menjadi konselebran yaitu Rm. Blasius Sumario SCJ, Rm. Julianus Sukamto SCJ, Rm. Paulus Sarmono SCJ, Rm. Florentinus Sepiono SCJ dan Rm. Laurensius Suwanto SCJ serta didampingi oleh kurang lebih 30 imam SCJ lainnya.
Dalam homilinya Rm. Andreas menjelaskan makna Sint Unum yang tertulis di dinding bagian atas dalam gereja St. Fransiskus de Sales.

“Ternyata semboyan Sint Unum merupakan penggalan dari doa Yesus yang kita dengarkan dalam injil Yoh 17: 11b-19. Ya Bapa yang kudus peliharalah mereka dalam namamu. Nama yang kau berikan kepadaku supaya mereka menjadi satu sama seperti kita. Doa ini sungguh dasyat karena Yesus sendiri yang doa. Inti doanya pun begitu sederhana yakni peliharalah mereka agar mereka menjadi satu.,” jelas Rm. Andreas

Ia pun menambahkan bahwa Sint Unum merupakan sebuah harapan Yesus yang sangat mendalam dan begitu penting kepada muridnya dan kita semua. Harapan itu bukan hanya seperti persatuan yang ada di lingkungan, kelompok koor, persekutuan doa atau persatuan gaplek Sanfrades. Melainkan persatuan yang lebih dari itu semua. Persatuan yang diharapkan adalah persatuan seperti Yesus dan Bapa-Nya. Persatuan itulah yang diharapkan dalam diri para murid. Jadi bagi kita semuanya yang membangun kesatuan itu, Yesus menegaskan bahwa aku memelihara mereka dan tidak akan binasa.
“Doa Yesus, Sint Unum itu juga ingin diwujudkan oleh alm. Rm. Alexander Sapta Dwihandoko. Sebagaimana dalam hidup berkomunitas, Rm. Sapta sangat sedih jika tidak menemukan kemistri atau persatuan didalamnya. Ia sangat gelisah dan tampak sekali kerinduannya agar doa Yesus, Sint Unum sungguh terwujud dalam kehidupan komunitas,” Tutur Romo Andreas.

Pria yang juga akrab disapa Rm. Suparman ini juga mengajak umat untuk merenungkan kisah hidup Paulus dalam bacaan Kis 20: 28-38. Paulus memberikan teladan dengan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan nya sendiri dan kawan-kawan nya. Membantu orang yg lemah dan ingat akan kata Tuhan Yesus. Paulus memberikan pesan bahwa memberi adalah hal yang lebih bahagia daripada menerima. Dengan bekerja keras Paulus tidak ingin mengambil sesuatu dari umatnya.
Lebih lanjut ia mengajak umat untuk menjadikan renungan itu untuk merefleksikan kisah hidup Romo Sapta.

“Saya ingin mengajak kita semua untuk menjadikan renungaan ini untuk merefleksikan kisah hidup Romo Sapta. Saya membayangkan Romo Sapta sama seperti Paulus. Sebagaimana diseringkan oleh banyak orang Romo Sapta adalah pribadi yang pekerja keras, giat dan penuh semangat serta tidak ingin merepotkan orang. Sama sperti Paulus Romo Sapta tidak pernah diam. Mengurus rumah tangga, merawat tanaman-tanaman yang asri serta memelihara peliharaan dengan baik,” kenang Romo Suparman.
Ia juga mengatakan bahwa Rm. Sapta selain dia pergi kemana-mana ada satu yang ingin dicapainya yakni ungkapan hidupnya di hadapan Allah. Sehingga dalam membangun hidup bersama ia sangat konsisten. Setia di acara rohani, selalu datang lebih awal dan membereskan semuanya. Walupun tidak ada orang Rm. Sapta tetap berdoa sendiri. Berdoa dengan keras. Ia merasa bahwa itu ungkapan bahwa Rm. Sapta berdoa atas nama gereja.

“Romo Sapta memang memiliki sifat yang keras. Namun seringkali berhadapan dengan orang lain ia mudah tersentuh. Karena melihat situasi konkrit yang dihadapi umat berbeda dengan apa yg dibayangkan. Hendaknya seperti Paulus yang tidak ingin merepotkan umatnya, Romo Sapta benar-benar tidak ingin merepotkan orang lain hingga saat-saat terakhirnya pun ia hadapi seorang diri di dalam kamar terkunci dan tak seorang pun yang mengetahui,” tandas Rm. Suparman.
**Kristina Yuyuani Daro
