30 Langkah Menuju Kesucian (13):

Cintailah Hati Kudus Yesus

(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000)

Doa

“Hati Penyelamatku, selamatkanlah aku.
Hati yang penuh belaskasih, penuhilah kerinduanku.
Hati yang penuh kesabaran, tinggallah bersama aku!”
Amin.

Pengantar

Hati Kudus adalah harta karun atau warisan yang tak ternilai harganya. Di sana para pendosa berlindung, tempat berlabuhnya para kudus dan kita semua. Hati Kudus Yesus adalah tabernakel belaskasih yang terbuka tanpa batas waktu. Ketika Tuhan Yesus mewahyukan diri kepada St Magareta Maria Alacoque, Ia berkata, “Ketahuilah betapa rindunya, Aku dikasihi oleh umat manusia; Aku haus. Ya Aku haus akan jiwa yang bertobat dan mencintaiKu. Lihatlah hatiKu terbakar oleh kerinduan itu!” Yesus senantiasa mengundang kita dengan berkata: “tinggallah dalam kasihKu!”

St. Maria Margareta Alacoque menerima penglihatan dari Hati Kudus Yesus | Foto: Pinterest

Pengajaran

Hati Yesus mencintai kita secara khusus. Dalam penampakan yang dialami oleh St Gertrudis, St Yohanes mengatakan kepadanya, “Denyut Hati Kudus Yesus adalah berita yang indah dan menggembirakan untuk dunia yang tumpul dan beku! Denyut Hati Kudus itu menghangatkan dan menghibur dunia dengan cinta Ilahi, dan denyut itu akan terus bekerja sampai akhir jaman!”

Peristiwa di Paray-le Monial, Perancis di mana Yesus menampakkan diri dalam tabernakal terbuka kepada St Magareta Maria dalam wujud manusia adalah peristiwa yang sangat penting akan perwahyuan Hati Kudus Yesus. Ketika itu Yesus memegang hatiNya sendiri di tanganNya; hati itu ditembus oleh sebilah pedang. Ketika itu Ia berseru, “Lihatlah! Lihatlah Hati yang sangat mencintai umat manusia. Hati IlahiKu berkobar mencintai umat manusia dengan penuh belaskasih!” Ungkapan “mencintai manusia dengan penuh belaskasih! – Love men passionately” sangat ditekankan.

Yesus mencintai kita, sebagai Allah yang mencintai kita dengan kasih yang tanpa batas. Ia juga mencintai kita dengan hati manusiawiNya – ya seperti hati manusia pada umumnya. Hati manusia yang luhur. Kasih dari HatiNya tidak berbeda dengan cinta manusia yang keluar dari hati yang tulus dan murni. Ini seperti kasih seorang bapa kepada anaknya; kasih persaudaraan kakak beradik; kasih seorang teman kepada teman akrabnya.

Semua orang sangat rindu mengenal Allah yang cintaNya mudah dimengerti. Dan hal itu kita dapatkan dalam Dia seperti dikatakan dalam Kitab Suci, “Ia telah menjadi manusia untuk kita. Ia menjadi daging demi kita!” Sejak Ia mempunyai hati seperti hati kita, hati manusia, sejak Ia membuka hatiNya kepada kita sebagaimana terwujud dalam perbuatan kasihNya, kita sangat mudah merasakan kehadiranNya.

St. Ignasius berkata, “Untuk merasakan, menghirup, mencecap betapa manis dan tak terbatasnya kebaikan Allah, kita bisa temukan dalam Hati Kudus Yesus!” Walau Yesus sudah dalam kemuliaan IlahiNya, kehadiranNya masih mudah kita rasakan! Ya betapa manis dan damainya tinggal dalam hatiNya. Pengalaman ini membuat kita aman, terhindar dari masalah dan kekacauan. Maka layaklah bila kita berdevosi kepadaNya; mempersembahkan karya, pengorbanan dan seluruh hidup kita.

Apakah Dia bisa menerima sesuatu dariku? Segala sesuatu dari kita tidak akan mengubah diriNya – tidak akan membuat Dia semakin kaya! Tetapi persemabhan kita menjadi tanda pemenuhan kerinduanNya. Dia rindu kita mencintaiNya secara total seperti Dia telah terlebih dulu mencintai kita.

Ia berkata, “HatiKu terbakar oleh kerinduan untuk terus berelasi dengan jiwa-jiwa!” Kasih Yesus yang begitu rindu itu telah dicurahkan kepada semua anggota Tubuh mistiknya, yaitu Gereja. Pencurahan itu menjadi sumber rahmat untuk senantiasa mengingatkan kita akan kasihNya dan sekaligus pewartaan dari Allah sendiri akan kasih yang model baru, yaitu Yesus mewahyukan hatiNya yang Kudus – hati Ilahi sekaligus hati manusia. St Margareta Maria menyatakan, “Saya tidak lagi memiliki keinginan apa-apa kecuali Allah sendiri dan membenamkan diriku ke dalam hati Kudus Yesus!”

Bucket Rohani

“Saya tidak lagi memiliki keinginan apa-apa kecuali Allah sendiri dan membenamkan diriku ke dalam hati Kudus Yesus!” St. Margareta Maria

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.