Setia Pada Perintah Allah
Doa
“Tuhan Yesus, penyelamat yang setia,
Aku menyembah dan memujiMu.
Ampunilah ketidaktaatanku selama ini,
Dan satukanlah ketaatanku dengan ketaatanMu yang sempurna.
Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami!” Amin.

Pengajaran
“Hendaklah kamu menjadi kudus sama seperti Dia…!”
(1 Petrus 1:15)
Menjadi kudus adalah panggilan hidup kita. Di mana esensi atau inti kekudusan? Esensi atau inti kekudusan terletak dalam melakukan kehendak Allah. Dalam Bahasa Inggris, kekudusan ialah holiness – sangat dekat dengan ungkapan wholeness – keutuhan. Untuk menjadi suci, kudus – holy dibutuhkan keutuhan pribadi atau kebulatan tekad. Ini artinya kita harus memiliki integritas, diri kita tidak terpecah, dan hukum Allah mengakar di hati kita secara mendalam.
Keutuhan juga berarti kita sepakat denganNya, “Kehendaku sama dengan kehendakNya!” Melakukan kehendak Allah juga merupakan tanda bahwa kita ini sahabat Yesus. Ya menjadi sahabat Allah berarti melakukan hukum Allah dengan penuh kesadaran dan kasih.
“Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu!”
(Yohanes 15:14)
Untuk itu dibutuhkan ketaatan. Ketaatan adalah disposisi batin yang paling tepat untuk bisa menjadi sahabat Allah. Ketaatan yang benar mesti mengandung dua kebenaran, yaitu kasih yang telah diterima dari Allah dan kasih dalam menjalankan hukum itu!
Hukum Allah adalah Kasih
“Keutamaan yang tanpa batas sama dengan kebaikan yang tanpa batas. Dengan ungkapan ini kesucian seseorang tidak terletak pada tindakan ritual – seremonial, tetapi pada cara hidup yang sesuai dengan kehendak Allah!”
(Bossuet)
Sesungguhnya “Hukum Allah lebih menguntungkan mereka yang mentaatinya daripada yang memerintahkan” (St Prope tahun 390). Mentaati hukum Allah berarti hidup dalam kasihNya. Karena itu, kebesaran atau keluhuran seseorang terletak dalam hubungannya dengan kehendak Allah – dalam kasihNya. Ini membutuhkan proses, yaitu proses keselarasan antara kehendak kita dengan kehendak Allah, sang Pencipta. Proses keselarasan ini akan terjadi bila kita memiliki hati yang melayani Guru yang baik, dan berdevosi kepada Putera dari Bapa yang murah hati. Keselarasan itu membuahkan kesucian dan sukacita seperti kata St Jeremias, “Melalui kasih yang menuntun dan menguntungkan kita, Allah ingin menjadi guru yang mengajari kita bagaimana hidup yang baik dan benar”
Sekali lagi perlu kita sadari bahwa “hukum Allah adalah kasih!” Kasih itu berkembang pelan-pelan dari menyelenggarakan menjadi sebuah perintah. Ini seperti relasi seorang ibu kepada anaknya. Ia mengasihi, mengasuh dan suatu saat memerintah anaknya. Namun ia tidak pernah berhenti membimbing dan melindunginya.
Seorang ibu bisa bertindak sebagai penyelenggara hidup anak bisa juga menjadi sahabatnya yang memberi perinah. Demikian juga Allah terhadap kita. Dia bisa bertindak sebagai sahabat yang memberi nasihat yang baik, tetapi Dia tetap menyelenggarakan hidup kita. Demikian juga relasi seorang suami kepada isterinya. Maka Allah membuat hukumNya bersinar untuk menerangi jalan menuju keadilan.
“Hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, ….lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah!”
(Mazmur 19:10-11)
Hukum Allah yang bersinar dalam perbuatan kita akan membuat jiwa mengalami kedamaian yang tiada batas! Kedamaian jiwa inilah yang menjadi sumber keutamaan hidup seseorang.
Adalah baik bila seseorang memiliki mata air sukacita dari sejak masa mudanya! Dari mana mata air itu? Dari “kuk” yang harus dipikulnya. Sayang sekali orang kerapkali ingin segera meletakkan kuk itu dari pundaknya, tetapi sekaligus ia ingin sukses. Dengan tindakan itu tanpa disadari ia telah memutus tali ikatan lembut dari bantuan Allah.
Akibatnya, ia terluka dan tidak bahagia. Karena itu, bisa dikatakan bahwa kalau kita berada dalam masalah dan tidak bahagia bukan ketika kita mentaati hukum Allah Bapa, tetapi oleh tingkah laku kita sendiri, yaitu karena kita bersahabat dengan ‘orang asing’ dan melepaskan diri dari kuk yang seharusnya kita pikul.
Benarlah pengalaman St Paulus ini, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Rom 7:24-25). Dialah yang mencurahkan rahmat kepada kita! Rahmat itu menguatkan, mengampuni dan membantu kita untuk bangkit dari dosa dan kemudian mengandalkan kasihNya yang luar biasa. Kita juga diberi anugerah untuk mengasihi Dia. Kasih itu mengikat kita denganNya dan mendorong kita untuk melayani; di sana tidak ada ketakutan, tidak ada janji palsu atau bujukan yang memisahkan kita denganNya.
Kasih itu juga membangkitkan kekaguman, membuat kita mampu mengatasi masalah dan membebaskan diri dari aneka belenggu. Hukum kasih itu telah tertanam dalam diri kita dengan jaminan inkarnasi. Ia terus mengundang kita untuk menimba kekuatan dengan bersabda,
“Datanglah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat karena Aku lemah lembut dan rendah hati… pikullah kuk dan belajarlah daripadaKu maka jiwamu akan tenang!”
(Matius 11:28-29)
Perintah Allah adalah hukum citakasih. Ini menjadi hukum pertama dan utama. Semua aturan termuat di dalamnya (bdk Mat 23:37-40). Marilah kita terus dekat denganNya dan bertanya apa yang harus kita lakukan dalam setiap situasi yang selaras dengan kehendakNya, agar kita hidup dalam hukumNya dan setia menjadi sahabatNya!
Bucket Rohani
“Tuhan Yesus, aku memilihMu untuk menjadi raja hidupku!”
**Romo Yohanes Haryoto SCJ
