Jumat Agung, Gereja Katolik Tidak Merayakan Ekaristi

Ekaristi bermakna kenangan akan tiga peristiwa sekaligus: sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Nah, pada Jumat Agung Gereja mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita. Karena itulah, Gereja hanya mengadakan ibadat untuk menghormati wafat Tuhan, yang dikurbankan bagi kita.

Jumat Agung juga menjadi hari perkabungan Gereja dan dunia. Dalam bahasa Jerman, Jumat Agung disebut Karfreitag (KAFAITAG) atau Jumat Kesedihan. Perkabungan Gereja diungkapkan dengan kosongnya altar, kosong dan terbukanya kemah Tuhan atau tabernakel, tidak adanya bunyi-bunyian alat musik dan lonceng sepanjang perayaan liturgi, dan tidak dirayakannya perayaan-perayaan sakramen kecuali, Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.

Liturgi Jumat Agung dibagi dalam tiga bagian besar. Pertama, liturgi sabda: yang mulai dari bacaan pertama, mengisahkan tentang Tuhan yang menderita sengsara, akibat dosa dan kedurhakaan manusia. Liturgi sabda memuncak saat kisah sengsara dan wafat Tuhan dilantunkan dalam Passio.

Liturgi Sabda ditutup dengan Doa Umat Meriah. Disebut meriah, karena doa panjang dan dilantunkan. Doa tidak hanya dipanjatkan untuk Gereja Katolik, tetapi juga untuk dunia.

Bagian kedua adalah Upacara Penghormatan Salib. Gereja Roma mengadopsi praktik penghormatan salib dari Gereja di Yerusalem sejak abad keempat. Dalam upacara ini, pemimpin ibadat membuka selubung salib tiga tahap, sambil menyanyikan madah Lihatlah Kayu Salib. Sementara itu, umat berlutut bersembah sujud di hadapan Tuhan yang wafat.

Bagian terakhir adalah komuni suci. Hosti yang disambut umat adalah hosti yang dikonsekrir pada malam Kamis Putih.

Makna Terdalam Jumat Agung

Di atas salib, seorang prajurit menombak lambung Yesus. Seketika itu juga, air dan darah menyembur dari lambung penebus (bdk. Yohanes 19:33). Aliran air dan darah melambangkan sakramen-sakramen Gereja. Uskup St. Agustinus dari Hippo menulis, “Di sanalah gerbang kehidupan dibuka, dari sana sakramen-sakramen Gereja mengalir; tanpa ini orang tidak memasuki kehidupan sejati.” Melalui sakramen-sakramen, Yesus, Sang Kepala, memberi kita, tubuh-Nya bekal kehidupan Ilahi yang kita perlukan hingga kita kembali kepada-Nya. ** Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.