Rest In Jesus – Tinggal dalam Yesus
(Sumber: F. Maucourant, A POCKET RETREAT FOR CATHOLICS, Sophia Institute Press, Manchester, New Hampshire, 2000)

Doa
“Tuhan Yesus, tanganMu kuat dan perkasa,
Aku rindu untuk senantiasa beristirahat di dalam tanganMu.
Aku tak mau terpisah daripadaMu,
Tuntunlah aku dengan kesabaran dan kelembutanMu
Menuju kekudusan abadi!” Amin.
Pengajaran
Dalam diri manusia ada kerinduan yang kontradiktif: ingin tenang, istirahat dan dan sekaligus terus-menerus gelisah; ingin menikmati kebahagiaan dan sekaligus sibuk terus bekerja. Dua hal itu bisa dipadukan bila kita berada dalam kesatuan dengan Yesus.
St. Frans de Sales berkata, “dengan mengijinkan diri ditimang oleh Allah seperti seorang anak yang ditimang oleh ibunya, kita akan terus-menerus dijagaNya dan Ia dengan tangan kudusNya menuntun kita untuk mampu melewati situasi yang sulit, dan tak jarang Ia menggendong kita!” Walau sibuk bekerja kita tetap mampu merasakan sukacita dan kedamaian hati. Karena itu, marilah kita sadari betapa pentingnya bersandar pada Sang Penyelamat dan membiarkan Dia menjaga kita.
Kita Mesti Mengandalkan Yesus
“Kalau kita benar-benar ingin tergantung secara penuh pada Penyelamat kita, dan bersatu denganNya secara nyata, kita tidak cukup hanya minta nasihatNya. Kita juga harus sungguh bersandar padaNya. Belajarlah dari seorang suami yang mengajak isterinya untuk menemaninya! Apa yang dilakukan oleh sang isteri? Ia tidak hanya berjalan bersama, tetapi ia meraih tangan suaminya dan menggandengnya. Sang isteri itu sebetulnya bisa berjalan sendiri – sedikitpun tidak ada kesulitan baginya untuk melangkahkan kakinya. Tetapi karena ia sangat mencintai suaminya, maka ia ingin bersandar padanya – menggantungkan diri padanya secara penuh. Ini tindakan yang membahagiakan! Ia menggandeng tangan suaminya karena ia mencintainya dan ia merasa bahagia – tentu suaminya merasakan hal yang sama!” kata Pere Tissot.
Apa artinya mengandalkan Tuhan? Kidung Agung berkata, “Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut…!” (8:6). Ini kerinduan jiwa ribuan tahun sebelum kristianitas. Jauh sebelum inkarnasi yang mewahyukan kasih Sang Emanuel kepada kita, jauh sebelum kita mengenal sabdaNya atau kerinduan hatiNya. Demikian juga Raja Daud berseru, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku!” (Mzm 23:4).
Allah kita tetap kuat dan menghibur kita! Ada kesaksian dari seorang santa bernama Rosa de Lima. Ia seorang gadis penakut; demikian juga ibunya – ia mudah terkejut dan takut. Pada suatu saat, St. Rosa di rumah seorang diri di tengah kebun yang luas. Malam tiba dan kegelapan menyelimutinya, rasa takut menerornya. Dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk melewati kebun yang luas itu untuk menemui ibunya yang ada di rumah seberang.
Ia berteriak memanggil ibunya. Ketika ibunya mendengar teriak anaknya, ia memanggil suaminya. Kemudian ibu itu bersandar pada lengan suaminya menemui anaknya. Ketika Rosa mendengar ibunya bersuara ceria, dalam hati dia bertanya: apa yang telah terjadi sampai ibunya berani berjalan dengan ceria? Ohh, dia tahu karena ibunya bersandar pada seorang yang berlengan kuat! Saya bisa belajar dari peristiwa ini! Mulai dari sekarang saya akan bersandar pada Kekasih Ilahiku dan pasti aku tidak akan takut lagi!” Sejak saat tu Rosa tidak takut lagi. Ini pula yang mendorong dia untuk menjadi suster. Ia ingin bersandar pada Tuhan yang kuat dan perkasa.
Tuhan kita selalu membantu kita dengan tangan kuatNya tatkala kita bekerja atau menjalani panggilan ini atau ketika kita harus menjalankan tugas kita sehari-hari. Yang kita butuhkan hanya meminta kepadaNya agar Ia membantu kita. Jiwa kita harus senantiasa memanggilNya bahkan sekalipun dalam tugas rutin sehari-hari – “ketika saya sedang membersihkan koridor rumah biara, saya senantiasa menyandarkan diri pada Allah dan menyadari bahwa Ia sedang bekerja bersamaku. Seringkali saya memuji diriku sendiri dengan sukacita, well done! Saya mengapresiasi diri dan pekerjaanku. Ketika ada suster yang lewat di koridor itu, katanya ia mencium bau harum. Itu pasti bau Tuhan Yesus!” (sharing seorang suster).
Bila bersatu dengan Yesus, dalam keadaan apapun, apakah itu menderita, tersiksa atau tergoda kita akan tetap kuat dan bersukacita. “Tuhan Yesus yang senantiasa memberi pertumbuhan Iman, Harap dan Kasih, akan menganugerahkan sukacita batin; Ia yang memanggil dan menarik jiwa ke hal-hal surgawi dan menjamin keselamatannya, pasti menganugerahkan kepercayaan diri (self-confident) dan kedamaian dalam Tuhan!” (St Ignasius). Karena itu, sangat baik bila kita senantiasa berpaling kepada sahabat kita yang terbaik, Tuhan Yesus, khususnya bila kita mengalami kekecewaan atau terperangkap dalam kesulitan atau sampai menderita akibat persahabatan dengan “yang lain!” Tuhan Yesus telah berjanji kepada St Mechtilda, “Aku akan senantiasa menjadi sahabat setiamu, datanglah untuk bersandar padaKu, dan Aku pasti akan menolongmu!”
Biarkan Yesus Menimang Kita!
St. Margareta Maria memberi nasehat, “Kalian harus senantiasa menyangkal diri dan berkorban untuk Hati Kudus Yesus! Jagalah jiwamu dalam damai. Ia tidak pernah mengkhianatimu, sebaliknya Ia menjagamu sepadan dengan kepercayaanmu kepadaNya!”
Sangat baik bila kita sungguh meninggalkan diri dan menyandarkan diri seutuhnya kepada Yesus. Ini bukan berarti pasrah bonggokan secara pasif, fatalisme, tetapi tenang aktif dan bekerja. Cinta sejati senantiasa aktif melakukan sesuatu yang baik! Pasrah kepada Tuhan bukan berarti tidur bermalas-malasan – do nothing! Kita harus aktif memanfaatkan kesempatan dan kemampuan yang ada sampai kita memiliki keutamaan Ilahi. Bossuet berkata, “Kita tidak hanya membiarkan diri ditarik, tetapi kita harus menggunakan semua kekuatan dan dengan semangat berlari di belakang Yesus!”
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berjanji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu!” (Yes 46:4). Demikian juga dalam Perjanjian Baru, Dia tetap bertindak sebagai Gembala yang penuh kasih. Ia mencari yang hilang, menyembuhkan yang sakit, dan membalut yang luka. Ia mengangkat yang lemah ke pundakNya. Dalam keadaan apapun kita berada di tangan kuat Sang Sabda yang menjadi manusia. “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr 1:3).
Perlu kita sadari bahwa ada perbedaan antara “sekedar digendong dengan rindu untuk digendong”! Ada dua ibu yang menggendong anaknya masing-masing. Yang satu menggendong anaknya yang meronta-ronta, terkesan anak itu ingin lepas dari gendongan ibunya dan merasa lebih senang berjalan sendiri. Ia merontak-ronta, menendang dan memukul ibunya. Ia digendong tetapi tidak senang untuk digendongnya. Ia merasa tersiksa di gendongan ibunya. Lain dengan anak satunya. Anak itu menikmatinya, tenang, kadang ia memejamkan mata, tetapi kadang dengan lembut membuka mata dan tersenyum pada ibunya. Kemudian ia tertidur lagi. Sedikitpun tidak menimbulkan masalah. Ia membiarkan dirinya digendong ibunya. Ia senang digendong oleh ibunya. Sedikitpun anak ini tidak bergolak. Mungkin saja ibunya sambil bekerja, atau harus melewati pematang sawah yang sulit, anak itu tetap menikmati kehangatan dada ibunya!
Tuhan kita ingin menimang kita dengan tanganNya yang penuh kasih! Apabila kita memberontak, kita tidak akan menikmatinya. St Yohanes Salib berkata, “Kita ini seringkali seperti anak kecil! Ketika ibu akan menggendong kita demi keselamatan, sering kita malah teriak dan memberontak, akhirnya kita terlepas dari tangan ibu, jatuh dan terbentur tanah. Kemudian tidak bisa berjalan dan luka. Satu-satunya yang bisa menolongnya ya hanya ibu! Mari kita sadar diri, kitapun seringkali menolak untuk digendong Tuhan sang mahakasih akhirnya kita jatuh, terluka dan menderita. Syukurlah Dia senantiasa membuka jalan pertobatan. Ia senantiasa menyiapkan hal-hal yang kita butuhkan untuk kesempurnaan di masa depan.
Berulang-ulang Ia mengundang kita, “Istirahatlah di hatiKu, dan Aku ada di hatimu!” St Ignasius manandaskan, “Rahmat yang dicurahkan berlimpah kepada mereka yang mengandalkan Allah Pencipta!” Oleh karena itu bila kita sungguh beristirahat di tangan Sang Juruselamat, atau bekerja bersamaNya,walau harus berjalan di jalan terjal atau harus berkorban dan menyangkal diri, kita akan senantiasa hidup dalam damai; kita akan terus bertumbuh dalam semangat dan menghasilkan pekerjaan yang bak; kita akan sennatiasa digendongNya, dan akhirnya kita akan beristirahat di tanganNya sampai istirahat abadi di surga!
Buchet Rohani
“Tuhan bersegeralah menolong aku!”
Yohanes Haryoto SCJ
