
“Untuk meningkatkan itu berarti berubah; menjadi sempurna itu berarti sering berubah,” kata Winston Churchil. Namun sering banyak orang tetap setia mempertahankan hidupnya yang lama yang menahan kebahagiaan hidup.
Setelah bermain piano, Kay yang buta mengajak Moore membuat lukisan seperti matahari dan bunga. Dunia anak buta ini rupanya tidak kosong. Meski lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.
“Paman, apakah matahari seperti ini?” tanya Kay.
Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan Kay beberapa bulatan.
“Matahari bentuknya bulat dan terang dan warnanya keemasan,” kata Moore.
Sambil mendongakkan wajahnya yang mungil, Kay bertanya. “Paman, apa warna keemasan itu?”
Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ke tempat terik matahari. “Emas adalah sebuah warna yang penuh vitalitas. Bisa membuat orang merasa hangat. Seperti kalau kita memakan roti, bisa memberi kita kekuatan,” tutur Moore.
Tangan anak buta ini meraba ke empat penjuru dengan gembira. “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat. Dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman,” kata Kay dengan penuh sukacita.
Dengan sabar, Moore menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang. Dia sengaja menggambarkannya dengan hidup, sehingga anak yang penuh daya imajinasi ini mudah mengerti.
Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius. Walau dia buta, tetapi rasa sentuhan dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal. Tanpa terasa, waktu berlalu dengan begitu cepat.
Akhirnya, Moore teringat akan tujuan kedatangannya. Tetapi dia sudah tidak berselera lagi untuk merampok. Berdiri di hadapan Kay, dia merasa sangat malu. Lalu dia menulis sebuah catatan untuk orangtua Kay:
“Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian. Kalian adalah orangtua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik. Walau matanya buta, tetapi hatinya sangat terang. Dia mengajarkan kepada saya banyak hal dan membuka pintu hati saya.”
Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di kedokteran yang sempat terbengkalai. Dia pun memulai karirnya sebagai seorang dokter.
Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini. Kay berkembang menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia. Setiap mengadakan konser, Moore berusaha menghadirinya. Dia duduk di sebuah sudut yang tidak mencolok. Ia menyirami jiwanya dengan musik indah yang dimainkan seorang pianis yang telah membukakan mata hatinya.
Buka Pikrian dan Hati
Selalu ada kesempatan untuk mengubah hidup, ketika ada orang yang mau mengubah hidupnya. Namun syaratnya adalah orang berani membuka pikiran dan hati bagi sesuatu yang baru yang lebih baik. Namun sering manusia menerima saja apa yang sudah ada dalam dirinya. Orang merasa bahwa hal itu sudah menjadi bagian yang tak dapat dilepaskan.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani mengubah pikiran kita yang buruk tentang hidup kita. Anak yang buta itu sedikit demi sedikit membantu Moore untuk mengubah rencana busuknya. Anak itu berhasil, meski dia tidak menyadari rencana orang asing yang ada di hadapannya.
Kadang-kadang atau sering manusia yang punya rencana jahat disadarkan oleh pengalaman hidupnya yang indah. Pengalaman itu mampu mengubah hidup manusia, kalau orang mau terbuka terhadap tawaran-tawaran yang baik itu. Ketika orang menutup hati rapat-rapat, orang akan tetap terpuruk ke dalam dunianya yang jahat.
Mari kita terus-menerus membuka hati kita untuk diubah oleh pengalaman-pengalaman hidup yang indah. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang-orang yang kita jumpai. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
