Dari Berbagi Roti ke Berbagi Warisan Iman

Perayaan Paskah merupakan perayaan yang sangat istimewa bagi kita umat kristiani. Karena sangat istimewa, maka gereja juga memberikan waktu persiapan yang sangat intens sebelum merayakan kebangkitan Yesus dalam Paskah, mulai dari Pekan Suci sampai perayaaan Paskah. Bahkan dalam setiap persiapan liturgi yang diadakan selama pekan suci, memiliki makna yang sangat mendalam yang ingin disampaikan oleh Yesus kepada para murid, kepada kita semua.


Kami yang berada di Taiwan pun bersama-sama berjibaku mempersiapkan perayaan Paskah di gereja masing-masing. Taiwan sebagai negara maju juga memiliki tantangan iman yang tidak mudah. Budaya modern dan sekularisme menjadi tantangan yang sangat nyata dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan beriman. Di tengah-tengah tantangan-tantangan yang ada tentu ada peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan untuk tetap berjuang memperkembangkan iman umat.


Dari peluang-peluang yang ada itu, saya ingin membagikan satu peluang yang bagi kami sangat penting, meski ini juga sangat sederhana. Peluang itu adalah mewariskan iman kepada anak-anak sejak usia dini.
Karena Paskah adalah momen yang sangat istimewa, maka kami juga bersama-sama berbicara bagaimana warisan iman yang Yesus wariskan kepada kita semua, tidak berhenti begitu saja. Satu momen yang sangat istimewa adalah mengajak anak-anak mengenang kembali saat Yesus mengadakan Perjamuan Malam Terakhir. Mengenang dan membagikan kepada mereka pesan apa yang Yesus wariskan dan harus kita jaga dan hidupi bersama-sama.


Dalam Perjamuan Malam Terakhir, Yesus membagi-bagikan roti dan anggur kepada para muridNya. Sebelum Yesus membasuh kaki para murid, Yesus mau mengajarkan dan memberikan keteladanan tentang makna melayani.


Ketika saya membasuh kaki anak-anak, ada banyak juga pertanyaan yang diungkapkan, menjadi semakin mudah untuk menjelaskan kepada mereka apa yang dimaksud Yesus ketika membasuh kaki para murid. Demikian juga Kketika membagikan roti dan anggur kepada mereka. Saya memecah-mecahkan roti yang cukup besar dan kemudian membagikan satu per satu kepada masing-masing anak.


Mereka sangat antusias mengikuti semua proses yang dilakukan. Berberapa juga bertanya apa maksudnya dan bagaimana Yesus dulu melakukan pemecahan roti dan membagikan anggur kepada para murid. Pertanyaan-pertayaan itu memudahkan kami untuk menjelaskan kembali kepada anak anak tentang Ekaristi, dengan cara yang sangat sederhana kepada mereka.


Mendampingi anak-anak bersama para pendamping, bagi saya, merupakan hal sangat istimewa. Bagi kami, mereka adalah masa kini Gereja. Ketika hati mereka ada di gereja, maka ketika mereka tumbuh dewasa, entah di mana pun nantinya mereka berada, mereka pasti akan mencari Gereja, karena Gereja adalah rumah mereka.


Saya sebagai misionaris yang berkarya di Taiwan, setelah menyelesaikan belajar Bahasa Mandarin selama dua tahun, kemudian mendapatkan tugas perutusan sebagai pastor rekan di Paroki Katedral dan Paroki Santo Yosep di keuskupan Hsinzhu.


Berkarya di tempat yang baru memang harus belajar banyak hal, mulai dari budaya mereka sampai pada memahami tantangan-tantangan kehidupan yang terjadi di sini. Keterbukaan hati untuk mau mencintai dan belajar menjadi kunci untuk bisa memulai pelayanan kepada umat beriman. **

Vivere Per Amare,
Alfonsus Zeam Rudi SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.