Paus Fransiskus memberikan wawancara luas kepada jurnalis Italia Lorena Bianchetti dari stasiun TV pemerintah RAI1, dan mengatakan bahwa, terlepas dari perang yang mengerikan di Ukraina dan tragedi lainnya di seluruh dunia, Paskah ini kita harus menjaga harapan kita, meski tampaknya tidak terpenuhi dalam jangka pendek.
Paskah ini, Paus Fransiskus telah mendesak umat beriman untuk tidak pernah kehilangan harapan. “Harapan membuat Anda menunggu, tetapi tidak pernah mengecewakan,” katanya.
Bapa Suci menyampaikan pengingat ini dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Italia Lorena Bianchetti, selama edisi khusus program “A Sua Immagine” dari saluran televisi pemerintah Italia, RAI1, yang ditayangkan pada Jumat Agung sore di Italia.

Biarkan Yesus Berbicara kepada Anda
Pada Jumat Agung ini, Paus dengan lembut menyarankan, “Di hadapan Yesus yang Tersalib, biarkan hatimu disentuh. Biarkan Dia berbicara kepadamu dengan keheningan dan rasa sakit-Nya.”
Selama percakapan mereka, Paus dan pembawa acara televisi membahas berbagai topik, termasuk perang, pandemi, menjaga iman di tengah tragedi, dan ketabahan wanita.
Ketika Paus ditanya apa keinginannya untuk Paskah ini, dia berbicara tentang pentingnya menemukan sukacita internal. Terlepas dari semua kesedihan, katanya, kita harus memiliki harapan dan mengalami air mata kebahagiaan.
“Keinginan saya adalah tidak kehilangan harapan, harapan yang sejati, yang tidak mengecewakan.”
Paskah ini, di tengah perang, Paus berkata untuk meminta “rahmat airmata, tetapi air mata sukacita, penghiburan, dan harapan.”
“Saya yakin, dan saya ulangi, bahwa kita perlu lebih banyak menangis,” tandasnnya. Dia menyesalkan bahwa umat manusia telah lupa bagaimana menangis, dengan mengatakan, “Mari kita meminta Petrus untuk mengajari kita bagaimana menangis seperti yang dia lakukan.”
Bapa Suci menceritakan, “Salah satu hal yang saya pelajari adalah tidak berbicara ketika seseorang menderita.”
Percakapan yang Luas
Selama wawancara, Paus merenungkan drama perang di seluruh dunia, dengan perhatian khusus didedikasikan untuk perang di Ukraina, yang menurut angka terakhir, telah memaksa lebih dari 4,7 juta orang meninggalkan negara itu, terutama ibu dan anak-anak. Dalam sambutannya, Paus memperingatkan agar tidak mengkategorikan pengungsi dan migran ke dalam kelas atau seperti apa penampilan mereka, dan mengecam rasisme.
Paus mengingatkan bahwa Tuhan kita Yesus adalah seorang migran dan pengungsi di Mesir, sementara juga memperingatkan terhadap “penyakit kebencian.” Paus juga merenungkan “keburukan” perang.
Awas Iblis Menggoda
Paus Fransiskus menekankan bahwa iblis menipu dan mencoba merayu kita untuk berbuat dosa.
“Iblis bukanlah mitos, tetapi kenyataan,” kata Bapa Suci.
Paus menasihati umat untuk tidak berdialog dengan iblis, karena sama sekali tidak ada kebaikan dalam dirinya, tetapi kita perlu berdialog dengan orang-orang yang melakukan hal-hal yang berbahaya karena dalam diri mereka ada benih kebaikan.
Paus juga merenungkan “keburukan” perang.
Bapa Suci juga memperingatkan terhadap eksploitasi, yang merupakan ‘perang’ lain yang ‘juga menghancurkan’, bahkan jika itu dilakukan tanpa tank.
Wanita Itu Kuat
“Wanita,” kata Paus, “kuat.”
Seorang ibu, dia mengakui, “mampu menemani anak-anaknya sampai akhir.” Wanita, katanya, tahu apa artinya “mempersiapkan hidup” dan “apa itu kematian. Mereka berbicara bahasa itu,” katanya.
“Dibutuhkan wanita untuk membunyikan alarm,” tambahnya.
Membolak-balik halaman Injil, Bapa Suci mengingat istri Pontius Pilatus. “Dia berkata kepada suaminya, ‘Jangan ikut campur dengan pria yang saleh ini.’ Tapi Pilatus tidak mendengarkannya.”
Kesendirian
Bapa Suci juga merenungkan banyak jenis kesepian. Mengingat Statio Orbis Luar Biasa di Lapangan Santo Petrus pada 27 Maret 2020 untuk mengakhiri pandemi Covid-19, Paus mengatakan, “Saya tidak tahu bahwa alun-alun akan kosong. Itu adalah pesan dari Tuhan untuk memahami kesepian dengan baik.”
Tuhan Baik Padaku
“Pernahkah Anda merasa sendirian dalam menjalankan pelayanan Anda?” Bianchetti bertanya kepada Paus.
“Tidak. Tuhan telah baik padaku. Dia membuat diri-Nya hadir. Dia telah sangat murah hati. Mungkin karena Dia tahu bahwa saya tidak dapat melakukannya sendiri.”
Merujuk pada beberapa luka yang mempengaruhi Gereja, Paus mengecam semangat keduniawian, yang menurutnya sangat menyakiti Gereja.
“Ketika itu jatuh ke dalam roh duniawi, Gereja dikalahkan,” katanya.
Keheningan pada Jumat Agung
Pada akhir wawancara, pembawa acara mencatat bahwa saat itu hampir jam tiga sore, dan bertanya bagaimana kita harus menjalani jam ini.
Pertanyaannya tetap ditangguhkan: Paus Fransiskus, selama beberapa detik, tetap diam. **
Deborah Castellano Lubov (Vatican News)
