
Gawia Sowa Dayak Bidayuh semacam ‘festival panen raya’ yang diselenggarakan setiap 3 Juni. Peserta rapat SIGNIS Indonesia berkesempatan mengikuti rangkaian acara ini. Pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIB, para peserta dan panitia Rapat Anggota Tahunan SIGNIS Indonesia ke-48 berkumpul di balai adat salah satu desa di Kecamatan Jagoi Babang, yang juga perbatasan Indonesia – Malaysia.

Gawia Sowa sendiri adalah tradisi ucapan syukur atas panen hasil ladang, kesehatan, serta keamanan masyarakat desa kepada Tuhan dan roh leluhur yang diyakini bersemayam di gunung, hutan, dan lembah. Ritual diawali dengan sambutan singkat, doa, dan makan minum ringan di balai adat. Setelah itu, para peserta berarak ke atas bukit, lebih kurang tiga kilometer menanjak jauhnya dari balai adat. Konon, warga Dayak Bidayuh Jagoi Babang dulunya tinggal di atas sini. Namun karena susahnya akses air bersih, maka warga desa pindah ke bawah.


Filosofi Rumah Adat Pangah “Bi Pokat”

Tiba di atas bukit, terlihat Rumah Adat Pangah “Bi Pokat” kokoh berdiri. Rumah adat ini merupakan simbol kebanggaan Dayak Bidayuh Jagoi Babang, sekaligus kreativitas Suku Bijagoi. Rumah Adat Pangah “Bi Pokat” yang baru didirikan ini, diresmikan oleh Bupati Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Bapak Sebastianus Darwis, S.E., M.M.

Rumah Adat Pangah “Bi Pokat” didirikan untuk melestarikan adat dan budaya yang telah berlangsung sejak 140 tahun yang lalu. Gawia Sowa tahun ini, sekaligus membuka lembar sejarah baru di Bung Kapuak (merupakan daerah perkampungan tua Dayak Bidayuh di Jagoi Babang), dengan berdirinya Rumah Adat Pangah “Bi Pokat”.

Rumah Adat Pangah “Bi Pokat” kaya akan filosofi. Delapan fondasi melambangkan kedelapan hal yang membuat masyarakat Jagoi Babang bisa bertahan hingga kini. Kedelapan hal itu mencakup tanah pemukiman, makanan dan minuman, keamanan, adat budaya, persatuan, tolong menolong, beradab dan rukun, serta keadilan bagi sesama. Satu tiang di tengah rumah adat melambangkan kemufakatan suku-suku yang bertahan dalam keberagaman.

Empat tali pengikat yang terdiri dari ijuk, rotan, belaran, dan kawat menggambarkan empat hal yang harus dihormati warga, yaitu ikatan kaum, adat istiadat, norma dan tata tertib, serta undang-undang. Sedang empat lantau melambangkan kekuatan dan keteguhan, sosial budaya dalam bermasyarakat, keterikatan dalam kemufakatan, serta warisan dan budaya.

Empat tangga dan 27 tapak mengukuhkan langkah perjalanan kehidupan orang Jagoi, sehingga dimekarkan empat dusun, yakni Dusun Jagoi Kindau, Dusun Jagoi Balida, Dusun Jagoi Sejaro, dan Dusun Jagoi Sei Take.

Masih banyak ornamen-ornamen yang sarat akan makna yang dimiliki Rumah Adat Pangah “Bi Pokat”, yang intinya menjunjung tinggi kesatuan masyarakat Jagoi Babang.
Berbagai Acara Hiburan

Selain meresmikan Rumah Adat Pangah “Bi Pokat”, Gawia Sowa Dayak Bidayuh tahun 2022 juga menampilkan berbagai atraksi seni tari-tarian dan penanaman pohon yang dilakukan oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, beserta jajaran pemerintahan Kalimantan Barat.


Seni Bambu Terbalik, memuncaki Gawia Sowa Dayak Bidayuh. Bambu yang bentuknya seperti tiang pancang, yang sebelumnya di arak dari balai adat didirikan di depan rumah adat. Lantas, dua orang, satu per satu, memanjat bambu yang atasnya ada Bendera Indonesia. Uniknya, mereka memanjat dengan kepala mengarah ke bawah. Setelah berhasil, ada tuak yang dapat mereka minum di puncak bambu.



Sekitar pukul 13.00 WIB, bertepatan dengan mendungnya langit yang disusul dengan hujan deras, para peserta bersama masyarakat sekitar menyantap makan siang yang telah disediakan. Acara Gawia Sowa Dayak Bidayuh ini juga mirip Natal, di mana masing-masing rumah memasak aneka makanan, yang disediakan bagi para tamu yang ingin berkunjung.
**Kristiana Rinawati

Saya sebagai masyarakat Jagoi Babang merasa bangga karena kebudayaan dan perayaan Gawia Sowa disajikan dengan apik dalam tulisan ini, dan lebih-lebih lagi acara Gawia Sowa tahun ini dihadiri oleh yang mulia Uskup agung Pontianak, dan para anggota signis seIndonesia.