Materialisme memberi Anda pemahaman keliru bahwa Anda tak bisa bahagia sebelum punya ini dan itu.
Beberapa tahun lalu, seorang pemuda ingin sekali memiliki iPad2, komputer tablet canggih. Namun dia berasal dari keluarga yang miskin. Hidup dari hari ke hari saja ia mengalami kesulitan. Dia mesti meminta bantuan dari saudara-saudaranya untuk mendukung hidupnya. Apalagi dia tidak memiliki pekerjaan tetap, kerjanya serabutan saja.
Dia tidak memiliki uang untuk membeli iPad2 itu. Dia menuturkan bahwa dia sangat ingin memiliki iPad2 itu, agar dia dapat melakukan berbagai hal untuk diri dan orang lain. Ia mencari berbagai informasi untuk mendapatkan banyak uang demi memiliki sebuah iPad2.
Suatu ketika, pemuda itu membaca iklan online yang menawarkan uang 29 juta rupiah bagi orang yang mau mendonorkan ginjalnya. Iklan online ini sangat menggiurkan bagi dirinya. Ia pun mendatangi rumah sakit yang akan mengadakan operasi itu. Dia ingin menjual ginjalnya.
Setelah dioperasi di rumah sakit, uang yang diperoleh ia habiskan untuk membeli iPad2, notebook, dan iPhone. Demi memiliki gadget dengan usia pakai hanya 5 tahun, ia korbankan organ tubuh yang diperlukan untuk hidup puluhan tahun.
Jauhi Kemudahan
Kita hidup dalam dunia yang menawarkan kemudahan-kemudahan. Hal ini juga didorong oleh kebutuhan hidup yang selalu meningkat. Bukan hanya kebutuhan hidup yang meningkat, namun beragam kebutuhan yang ingin dipenuhi. Padahal belum tentu barang yang diinginkan itu sungguh-sungguh dibutuhkan bagi hidup.
Kisah di atas memberi kita insprasi untuk senantiasa membuat suatu discernment atau penegasan roh bahwa apa yang ingin kita miliki sesuai dengan kebutuhan hidup kita. Pemuda itu masuk dalam jebakan materialisme. Dia merasa materi sebagai sesuatu yang terpenting bagi hidupnya, sehingga dia merelakan organ tubuh yang sangat vital.
Dalam hidup ini kita menyaksikan banyak orang terjebak dalam materialisme. Mereka merasa bahwa suatu barang itu sangat dibutuhkan untuk hidup mereka, sehingga mereka berusaha untuk mengadakannya. Akibatnya, banyak orang mengorbankan hal-hal yang esensial dalam hidup mereka. Bahkan mereka juga bisa mengorbankan orang-orang yang ada di sekitar mereka demi memuaskan keinginan diri.
Orang beriman tentu saja mengandalkan rahmat Tuhan dalam hidup ini. Mengapa? Karena rahmat Tuhan itu memberi motivasi untuk senantiasa menjalani hidup ini dengan baik dan benar. Rahmat Tuhan itu membantu orang untuk tidak mengorbankan hal-hal yang penting dalam hidupnya.
Mari kita senantiasa memperjuangkan hal-hal yang penting bagi hidup diri dan sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
