“Awas! Ada Bahaya Ketamakan”
Pkh. 1,2. 2,21-23; Kol 3,1-5.9-11; Lk 11,1-13

Orang banyak berdesak-desakan. Orang-orang yang melihat dari kejauhan pun heran: “Ada apa di sana?” Didorong oleh rasa ingin tahu yang besar, mereka bergegas menuju kerumunan itu. Jumlah mereka makin lama makin besar. Ada beribu-ribu orang di sana, sehingga mereka berdesak-desakan. Orang banyak itu mendengarkan Yesus mengajar para murid-Nya agar waspada terhadap “ragi orang Farisi”, yaitu kemunafikan (Luk 12,1).
Panorama Teks
Sementara Yesus sedang mengajar, salah seorang dari kerumunan orang banyak itu meminta agar Yesus menjadi penengah atas perkara keluarganya. Dalam tradisi masyarakat setempat, seringkali para rabi bertindak sebagai penengah dalam perselisihan seperti itu (bdk. Bil 27,1–11; 36,5–9; Ul 21,15–17). Oleh karena itu orang ini mendekati Yesus seperti halnya seorang pemimpin komunitas Yahudi. Tidak begitu jelas perkara warisan yang dipersoalkan di sini. Barangkali ini menyangkut property milik mereka bersama.
Dalam masyarakat kuno, seringkali keluarga menyimpan harta mereka bersama meskipun kepemilikannya secara teknis berbeda. Mereka akan berbagi modal untuk mengembangkan usaha. Mungkin orang itu ingin keluar dari bisnis keluarga sehingga ia dapat mengambil bagiannya dan membangun usahanya sendiri. Dia tidak menuntut Yesus untuk menghakimi saudaranya. Dia hanya meminta Yesus menjadi “advokat” atas namanya untuk memberitahu saudaranya agar berbagi warisan dengannya, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku” (Luk 12,13). Seorang individu tanpa nama (anonym) itu tampak begitu terobsesi untuk mendapatkan apa yang dia anggap sebagai hak atas warisan keluarganya itu. Yesus sepertinya melihat dalam situasi itu ada bahaya “ketamakan”.
Yesus menolak untuk menjadi hakim di antara keduanya. Sebaliknya, Dia memanfaatkan kesempatan itu dengan mengubah permintaan individu anonim menjadi kesempatan untuk mengajar orang banyak yang ada di sekililing-Nya: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu“.
Dua Prinsip Hidup
Hidup seseorang tidak tergantung pada kelimpahan hartanya (Luk 12,15)
Yesus menjelaskan peringatan untuk waspada terhadap ketamakan dengan mengisahkan sebuah perumpamaan. Perumpamaan itu sendiri dibingkai dengan dua prinsip tentang kepemilikan. Prinsip pertama: Hidup seseorang tidak tergantung pada kelimpahan hartanya (Luk 12,15). Prinsip ini mengingatkan para pendengar Yesus akan instruksi yang sebelumnya Ia sampaikan agar “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi” (Luk 12,1). Mereka mengingat kembali kata-kata Yesus ketika Ia mengecam orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan” (Luk 11,39). Selain kemunafikan, orang Farisi juga adalah “pencinta uang” (Luk 16,14).
Setelah mengingatkan bahaya kemunafikan dan keserakahan, para pendengar Yesus menjadi tahu bahaya ketamakan memiliki kaitan juga dengan kemunafikan. Orang yang menyerah pada godaan ketamakan sebenarnya sedang membangun dan mengukur hidupnya dengan apa yang dia miliki. Orang seperti ini tidak mengerti siapa dirinya dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesama. Harta bukanlah sumber kehidupan atau kekayaan sejati dalam hubungannya dengan Tuhan, seperti yang Yesus katakan, “walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk 12,15).
Orang yang tidak kaya di hadapan Tuhan adalah orang bodoh (Luk 12,20)
Prinsip kedua ini mengarah pada perumpamaan tentang seorang pria yang sudah memiliki kekayaan duniawi. Perumpamaan itu mengungkapkan tentang harta berlimpah yang merupakan hadiah-pemberian (Luk 12,16) dan karunia kehidupan yang akan diambil kembali (12,20). Karunia harta berlimpah, seperti juga hidupnya, datang kepadanya terlepas dari usahanya sendiri.
Orang kaya dalam perumpamaan dikatakan bodoh karena bertindak atas dasar keserakahan hatinya. Bukannya berbagi karunia berkat dengan tetangganya, sebaliknya dia akan meruntuhkan lumbung lamanya dan membangun lumbung baru (ay.18). Selanjutnya, dia memberi selamat pada dirinya sendiri atas “kebijaksanaan” rencananya. Dia menyatakan masa kininya, dan masa depannya, aman (ay.19). Orang kaya ini benar-benar sendirian dalam keputusannya.
Dia tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak dengan Tuhan dalam doa, atau dengan keluarga atau anggota komunitas. Dia hanya berbicara dengan jiwanya sendiri (ay.19). Hatinya yang serakah itu telah menghukumnya untuk “merayakan kesendirian”. Orang kaya yang bodoh ini tidak menyadari bahwa pemberian yang berlimpah itu berasal dari Tuhan. Pada akhirnya, dia kehilangan jiwanya sendiri. Inilah sebabnya mengapa dia dikatakan bodoh, harta yang merasukinya selama hidupnya kini tidak ada artinya ketika hidup itu diminta kembali oleh Tuhan.
Pesan Singkat
Ketamakan adalah salah satu dari tujuh dosa pokok (KGK 1866) yang akan mengakibatkan munculnya dosa-dosa lain. Kitab Suci sendiri berulang kali memperingatkan akan bahaya besar dari ketamakan atau kerakusan ini dan memasukkannya ke dalam daftar kejahatan moral (Ayub 31,24–25; Mzm 49; Mrk 7,22; Rm 1,29; Ef 4,19; 5,3; Kol 3,5; 1Tim 6,10; 2Pet 2,3, 14). Kebajikan dalam karya belas kasih adalah lawan utama dari ketamakan.
Quezon City-Philippine 2022 @donjustin
