Jumat (12/8) lalu, Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ) mengenang 97 tahun wafatnya Pater Yohanes Leo Dehon, bapak pendiri kongregasi. Maka, sore hari, beberapa imam dan umat merayakan Ekaristi yang bertempat di Kapel Paroki Santo Fransiscus de Sales Palembang.

Meski tujuannya adalah mengenang wafat Pater Dehon, namun selebran utama, Romo Laurentius Suwanto SCJ mengajak lebih dari 50 orang imam dan umat yang hadir, untuk melihat kembali teladan-teladan pater pendiri semasa hidupnya.

Romo Wanto, begitu sapaan akrabnya, meringkasnya menjadi dua hal. Pertama, pemulihan. “Pater Dehon merasakan kasih Allah yang begitu besar, sehingga dia berusaha menanggapinya dengan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Hati Kudus Yesus, dengan mengatakan untuk Dia aku hidup, untuk Dia aku mati,” kata Romo Wanto.

Bagi Pater Dehon, jelas Romo Wanto, Hati Kudus Yesus adalah segala-galanya. Yesus adalah pemulih atas dosa manusia kepada Allah. “Ini dimulai Yesus dengan kasih yang ditunjukkan-Nya kepada umat manusia. Pemulihan yang diharapkan dari kita, bisa kita lakukan hanya dalam persekutuan pada Sang Pemulih Sejati yaitu Yesus sendiri,” tutunya.

Yesus telah memulai pemulihan itu. Maka, kita semua dipanggil untuk berpartisipasi di dalam pemulihan itu. Caranya adalah menyatukan diri dengan persembahan Yesus kepada Bapa.
“Persembahan hidup yang sering kita ungkapkan adalah ecce venio, ini aku datang. Datang untuk melakukan kehendak Bapa. Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu. Penyerahan total yang juga dikatakan Maria. Terjadilah padaku menurut perkataanmu. Maka dalam teologi dikatakan ecce venio dan ecce ancilla. Pater Dehon mengharapkan anggotanya secara implisit mempersatukan persembahan diri kita dengan persembahan diri Yesus, sehingga kita dapat menjadi pemulih hubungan kita dan Allah, yang rusak karena dosa,” lanjut Romo Wanto.

Kedua, menerima semua pemberian Allah dengan sukacita. Pater Dehon mengatakan, hanya menginginkan apa yang Allah inginkan dan memberikan diri sepenuhnya untuk Dia, sekarang dan selama-lamanya.
“Semoga selalu menjadi semangat kita untuk selalu menyerahkan hidup kita pada penyelenggaraan Ilahi. Pater Dehon meneladankan kepada kita untuk menerima semuanya dengan sukacita. Tidak usah sibuk mencari salib, tapi bila kesulitan itu datang, terimalah dengan sukacita,” jelasnya.
Di akhir homilinya, Romo Wanto mengajak semua yang hadir untuk ikut dalam berbagai olah rohani, seperti apa yang disampaikan Hati Kudus Yesus kepada Santa Maria Margareta Alacoque, misalnya dengan rutin mengikuti Misa Jumat Pertama dan Adorasi Sakramen Mahakudus.
Usai misa, diadakan ramah tamah dengan santap malam bersama.
**Kristiana Rinawati
