Paus pada Kunjungan ke L’Aquila: Pengampunan Satu-satunya Senjata Melawan Perang

Paus Fransiskus berbicara kepada publikasi berita lokal L’Aquila menjelang kunjungan pastoralnya, Minggu (28/8), dan mengatakan lebih sulit untuk memaafkan daripada berperang, mengacu pada Pengampunan Celestinian yang akan ia buka saat berada di kota Italia tengah.

File foto reruntuhan Basilica Collemaggio di L’Aquila setelah gempa 2009

“Dibutuhkan lebih banyak kekuatan untuk memaafkan daripada berperang… Pengampunan adalah satu-satunya senjata yang mungkin untuk melawan semua perang,” tandas Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus menyampaikan pesan itu, Jumat (26/8), dalam sebuah wawancara dengan “Il Centro”, sebuah publikasi berita lokal di L’Aquila.

Dia dijadwalkan untuk melakukan kunjungan pastoral ke kota Italia tengah di wilayah Abruzzo pada Minggu pagi, di mana dia akan membuka pintu suci Pengampunan Celestinian Tahunan.

Mengatasi Kejahatan dengan Kebaikan

Merujuk pada perang di Ukraina dan konflik lainnya, Paus mengingatkan bahwa “kejahatan tidak pernah dikalahkan oleh kejahatan, tetapi hanya dengan kebaikan.”

Pengampunan, katanya, membutuhkan kedewasaan interior dan budaya yang besar, serta budaya damai.

“Tanpa upaya ini,” kata Paus, “kita akan tetap terjebak dalam logika kejahatan, yang terikat pada promosi kepentingan pribadi mereka yang mengambil keuntungan dari konflik untuk memperkaya diri mereka sendiri.”

Paus Selestinus V, yang melembagakan Pengampunan Celestinian pada tahun 1294, “tahu bagaimana mempromosikan kerendahan hati dan kasih kepada orang miskin,” katanya, seraya menambahkan bahwa masyarakat kontemporer (kini) kita dapat belajar banyak dari sikap-sikap ini.

Misteri Penderitaan

Ditanya tentang gempa bumi dahsyat tahun 2009 yang menewaskan 309 orang, Paus Fransiskus mengingat bahwa “rasa sakit dan penderitaan selalu menjadi misteri.”

“Yesus sendiri mengalami kegelapan perasaan sendirian dan dikalahkan. Tetapi pada saat yang sama, dia mengajari kita bahwa justru pada saat-saat inilah ketika segalanya tampak hilang, kita dapat membuat gerakan yang tidak terduga: mempercayakan diri kita kepada Tuhan!”

Paus menambahkan bahwa tidak akan ada kelahiran kembali setelah kehancuran tanpa tindakan mempercayakan diri kita kepada Tuhan.

Namun, katanya, keyakinan batin kita akan belas kasihan Tuhan adalah anugerah yang harus diminta dan “dilindungi dari segala sesuatu yang berusaha untuk menghabisinya.”

Memuji Gereja yang Dekat dengan Orang Miskin

Paus Fransiskus kemudian memuji banyak cara di mana Gereja lokal di L’Aquila telah menjangkau untuk mendukung orang miskin dan mereka yang menderita akibat gempa.

Banyak rumah dan bangunan masih perlu dibangun kembali di kota, termasuk Katedral Katolik.

“Saya berterima kasih kepada para imam kota,” kata Paus. “Dan saya secara khusus berterima kasih kepada semua imam dan religius pria dan wanita yang, bersama dengan umat awam, telah berusaha untuk membangun kembali, suatu upaya yang tidak hanya melibatkan rumah tangga tetapi juga jiwa umat itu sendiri.”

“Kita tidak bisa pergi terlalu jauh jika kita berjalan sendiri. Persatuan saja dapat memungkinkan kita untuk membuat perubahan yang benar-benar sulit. Kita harus meninggalkan semua hal yang memisahkan kita dan menahan segala sesuatu yang menyatukan kita.”

Dorongan dalam Iman

Paus Fransiskus mengakhiri wawancara dengan “Il Centro” dengan mengatakan bahwa dia datang untuk mendorong orang-orang L’Aquila dalam iman mereka.

“Kerendahan hati, cinta, kedekatan, pengampunan, dan belas kasihan benar-benar adalah cara terbaik untuk mewartakan Injil kepada pria dan wanita hari ini dan sepanjang masa.” **

Devin Watkins (Vatican News)

Leave a Reply

Your email address will not be published.