Majemuk Tapi Harus Tetap Satu, Gimana Caranya?

Masyarakat Indonesia yang pluralis (majemuk) adalah realitas. Namun ternyata, ini menjadi salah satu tantangan dalam hidup bersama. Hal ini disampaikan Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I., Minggu, (28/8).

Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I. menerima cinderamata dari Romo Petrus Sugiarto SCJ, Rektor Seminari Menengah Santo Paulus Palembang

“Kita terdiri dari 1.336 suku bangsa, 652 bahasa daerah, 267 juta penduduk yang tersebar di 17.504 pulau, besar dan kecil. Pluralitas ini berbeda dengan negara lain, misal di Amerika, yang berasal dari para imigran. Mereka harus melebur dalam satu budaya Amerika,” kata K.H. Mal’an dalam Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat.

Pluralis masyarakat Indonesia punya keunikan. Masing-masing kelompok punya ciri khas. Meski demikian, kita tetap satu saudara sebangsa setanah air Indonesia. Bagaimana memelihara persaudaraan ini? K.H. Mal’an mengingatkan kita untuk menghidupi kembali ideologi Pancasila.

“Untuk memelihara keutuhan masyarakat, harus ditempatkan dalam kaitan Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia,” kata ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sumatera Selatan ini.

Realitas dan Tantangan: Kembali ke Pancasila

Realitas ini sangat kekinian. Era media sosial sekarang berwatak sangat terbuka. Begitu kata K.H. Mal’an. Menjadi masalah ketika Indonesia memasuki era perkembangan media sosial, namun dengan tingkat literasi (kemampuan dalam mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis) yang rendah.

“Beda dengan dunia barat yang menapak era media sosial, setelah tingkat literasi mereka tinggi. Mereka lebih terampil mencari sumber informasi yang benar. Tanpa literasi, kita tahu orang akan lebih mudah terjebak oleh sumber-sumber. Semisal situasi terorisme seperti yang dulu disiapkan Abu Jibril, dkk,” kata K.H. Mal’an.

Literasi rendah menjadi salah satu penyebab seorang menjadi radikal. Ideologi radikal harus diobati dengan ideologi Pancasila.

“Pancasila harus sungguh-sungguh dipraktikkan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Apa yang ada dalam sila-sila Pancasila adalah nilai-nilai dasar yang harus diwujudkan. Ini adalah nilai-nilai universal yang harus dihidupi, ke-Tuhan-an, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan,” jelasnya.

Moderasi: Beragama Sekaligus Berbangsa

Moderasi beragama diungkapkan K.H. Mal’an sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama. Menjadi manusia beragama dengan sungguh-sungguh menghayati agamanya, namun sekaligus menaati konstitusi bangsa, sebagai masyarakat Indonesia.

K.H. Mal’an menawarkan tiga hal untuk mewujudkan diri sebagai pribadi yang sungguh beragama, sekaligus sungguh Indonesia.

Toleransi adalah upaya menahan diri agar potensi konflik dapat ditekan serendah-rendahnya. Dialog adalah upaya untuk saling mengenal, bertukarpikiran, dan saling menimba pengetahuan tentang agama dari pihak agama lain yang menjadi mitra dialog. Persaudaraan adalah suasana rukun yang dihidupi oleh panggilan suci untuk bekerja sama mengatasi masalah-masalah kemanusiaan dalam masyarakat.” **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.