Perkuat Moderasi Beragama di Era Digital Melalui Dialog dan Informasi

Perkembangan pesat teknologi menyokong banyak hal, tidak terkecuali dalam hal beragama dan hidup bersama. Media sosial yang adalah bagian dari perkembangan teknologi pun membawa dampak. Bisa positif, bisa juga negatif dalam rangka menyampaikan informasi kepada netizen.

(Kiri ke Kanan) Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ, Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I., Mgr. Yohanes Harun Yuwono

“Era digital berhasil memainkan peranan penting bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan berbagai macam informasi, termasuk dalam mempelajari agama. Ada religion online (agama online) merujuk pada aneka informasi keagamaan yang tersedia secara online. Online religion (beragama online) merujuk pada berbagai aktivitas keagamaan, baik spiritual, maupun ritual secara online,” kata Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ, salah seorang narasumber dalam Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, Minggu (28/8).

Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ sedang memaparkan materinya dalam Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat, Minggu (28/8)

Baik religion online maupun online religion, sama-sama punya dua sisi, positif dan negatif. Online religion misalnya. Kemudahan akses informasi tentang agama-agama, mengakibatkan orang banyak mempelajarinya lewat media sosial, ketimbang dengan pemuka agama. Masalahnya adalah tidak semua pengajaran di media sosial itu benar. Ini berbahaya.

“Internet dan sosial media mempunyai kontribusi besar dalam menyebarluaskan paham radikal melalui propaganda intoleran, merekrut anggota baru, dan melatih mereka menjadi kelompok-kelompok radikal, bahkan untuk melakukan aksi bom bunuh diri,” papar Romo Sigit, yang merupakan mahasiswa Program Doktoral Studi Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Belajar Dari Akun-akun Agama Garis Lucu

Meski sisi negatif ini mengerikan, namun tetap ada sisi positif yang harus diperjuangkan. Romo Sigit mengajak para peserta yang hadir untuk belajar dari ‘Akun-akun Agama Garis Lucu’. Akun-akun ini mewartakan kebenaran agama mereka dengan berdialog.

Salah satu model dialog Katolik Garis Lucu. Mengajarkan iman, dengan cara yang santai.

“Dengan dialog kehidupan, di mana orang berusaha untuk hidup dalam semangat terbuka, berbagi suka duka, masalah, dan kesibukan mereka. Dengan dialog teologis, di mana para ahli berusaha memperdalam pemahaman mereka tentang warisan agama masing-masing dan untuk saling menghargai nilai-nilai spiritual,” jelas Romo Sigit SCJ. Ada juga dialog pengalaman iman, dengan saling berbagi kekayaan spiritual; dialog aksi, dengan saling bekerjasama dalam mewujudkan persaudaraan.

Salah satu cara dialog Katolik Garis Lucu dengan NU Garis Lucu dan Muhammadiyah Garis Lucu.

Sediakan Informasi yang Benar

Selain mewartakan iman dengan cara toleran, satu hal penting lagi diungkapkan Romo Sigit, “Pelbagai platform digital lembaga-lembaga keagamaan dan pemerintahan harus semakin aktif menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan keagamaan yang benar agar menjadi rujukan utama.” **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.