Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa

Seminari Menengah Santo Paulus Palembang memang berperan utama dalam melahirkan calon imam dan biarawan Gereja Katolik. Meski demikian, seminari juga harus memasyarakat, menyatu sebagai masyarakat sebangsa, Bangsa Indonesia. Sadar akan ini, menyongsong 75 tahun berdirinya Seminari Menengah Santo Paulus, diadakan seminar bertajuk moderasi beragama.

(Kiri ke Kanan) Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ, Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I., Mgr. Yohanes Harun Yuwono

“Maksud dan tujuan kami menyelenggarakan seminar ini untuk ambil bagian dalam upaya bersama, memperteguh persatuan bangsa. Untuk itu, kami hadirkan narasumber yang bergelut di bidang ini,” kata Romo Petrus Sugiarto SCJ, Rektor Seminari Menengah Santo Paulus Palembang dalam sambutannya di Xaverius Centrum Studiorum Palembang.

Adapun narasumber Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat ini adalah Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang; Drs. K.H. Mal’an Abdullah, M.H.I., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Sumatera Selatan; dan Romo Stepanus Sigit Pranoto SCJ yang sedang mengenyam pendidikan doktoral Islamologi di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Acara yang melibatkan lebih dari seratus peserta lintas agama, usia, dan profesi ini diapresiasi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Selatan, yang diwakili Pembimas Katolik Provinsi Sumatera Selatan, “Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, karena telah melaksanakan seminari moderasi agama. Ini merupakan dukungan terhadap program prioritas kementerian agama. Tahun 2022 adalah tahun toleransi bagi kita semua,” kata Drs. Aloysius Harmadi, M.M.. Minggu (28/8).

Para peserta menyimak pemaparan narasumber dalam r Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Minggu (28/8)

Moderasi beragama, menjadi penting karena sejatinya Indonesia adalah negara Pancasila.

“Negara yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, namun bukan negara agama, maka moderasi beragama mendapat inspirasi dari kemuliaan ajaran agama masing-masing, dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan perundang-undangan yang berlaku,” kata Drs. Harmadi.

Selama sekitar tiga jam, ketiga narasumber memaparkan materi mereka. Uskup Harun yang menjadi pembicara pertama, memberi judul materinya Moderasi Beragama Mempromosikan Persaudaraan Sejati.

Beragama yang moderat artinya menurut Uskup Harun, berarti tidak ekstrem ke kiri maupun ke kanan. Tetap mengimani ajaran agamanya, tanpa mengusik kepercayaan orang lain. Perbedaan kepercayaan, ras, suku, maupun bahasa, merupakan karya Allah dan Allah menciptakan manusia dengan martabat yang begitu luhur.

Para peserta menyimak pemaparan narasumber dalam r Seminar Moderasi Agama: Upaya Bersama Mempersatukan Bangsa untuk Pulih Lebih Cepat, Minggu (28/8)

“Manusia bermartabat luhur, mulia di mata Allah. Maka merendahkan manusia, berarti merendahkan Allah sendiri, yang menghendaki perbedaan itu,” jelas Mgr. Harun.

Ia memaparkan ajaran Gereja Katolik yang selalu mengajak umatnya menghormati semua orang yang berbeda agama. Praksis yang dapat kita lihat adalah Gereja Katolik menghargai perkawinan campur. “Tetap menghormati orang yang berkeyakinan lain, menghormati agama-agama lain,” katanya.

K.H. Mal’an menawarkan tiga hal untuk mewujudkan diri sebagai pribadi yang beragama di tengah pluralis masyarakat Indonesia.

Salah seorang peserta didik Seminari Menengah Santo Paulus Palembang sedang membacakan puisi

Toleransi adalah upaya menahan diri agar potensi konflik dapat ditekan serendah-rendahnya. Dialog adalah upaya untuk saling mengenal, bertukarpikiran, dan saling menimba pengetahuan tentang agama dari pihak agama lain yang menjadi mitra dialog. Persaudaraan adalah suasana rukun yang dihidupi oleh panggilan suci untuk bekerja sama mengatasi masalah-masalah kemanusiaan dalam masyarakat.”

Romo Sigit SCJ menyoroti moderasi beragama di era digital. Maraknya informasi di media sosial, entah yang benar maupun salah, harus disikapi dengan baik. Ia menawarkan peserta yang hadir untuk belajar dari Akun-akun Agama Garis Lucu, yang tetap teguh dalam imannya, sekaligus menciptakan dialog beruasana cair dengan pemeluk agama lain.

Para Narasumber, staff Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, dan para pemerhati seminari berfoto bersama.

Selain itu, Romo Sigit juga menyarankan agar pihak terkait terus menyebarkan informasi yang benar, yang dapat diakses oleh pemeluk-pemeluk agama.

“Pelbagai platform digital lembaga-lembaga keagamaan dan pemerintahan harus semakin aktif menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan keagamaan yang benar agar menjadi rujukan utama.”

Selain seminar, ada juga acara hiburan berupa tari-tarian dan nyanyian bernuansa budaya yang dipersembahkan oleh peserta didik Seminari Santo Paulus. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.