“Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.” – Ulangan 16:19
Seorang remaja mengurus SIM C. Dia ingin menggunakan motor untuk pergi ke sekolah. Dia berhasil lolos ujian teori, tapi selalu gagal dalam ujian praktik. Sudah lima kali ia gagal. Namun remaja itu berpikir positif saja, mungkin belum saatnya dia mengendarai motor untuk pergi ke sekolah.
Mendengar kegagalannya yang berkali-kali itu, beberapa saudara dan kawannya menyebutnya bodoh. Mereka mempertanyakan, mengapa dia mesti buang-buang waktu untuk ujian.
“Sudahlah ‘nembak’ saja. Kasih amplop ke polisi, biar kamu segera lulus dan dapat SIM!” kata seorang kakaknya.
Remaja itu tersenyum mendengar usulan kakaknya. Dia tidak bergeming. Dia menolak usulan sang kakak. Dia tidak sudi memberikan suap. Lebih baik dia mengikuti ujian praktik lagi dan lagi daripada harus melakukan dosa. Akhirnya, setelah dua kali menjalani ujian praktik lagi, dia pun lulus.

Jangan Mudah Tergoda
Kita hidup dalam dunia yang menawarkan berbagai kemudahan yang bisa saja menjerumuskan kita ke dalam dosa. Betapa sering hal ini terjadi. Mengapa? Karena orang tidak mau repot-repot. Orang memilih hal-hal yang mudah bagi hidup mereka. Akibatnya, mereka memilih untuk melakukan dosa.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap bertahan pada hal-hal yang baik dan benar. Remaja itu tidak mau tergoda untuk melakukan dosa. Baginya, suap itu dosa. Karena itu, dia memilih untuk berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Dia tidak ingin mengajak orang lain untuk melakukan dosa demi kesenangan dirinya.
Banyak orang terjebak dalam suap menyuap. Hal ini kita saksikan dalam hidup yang nyata. Begitu banyak pejabat negeri ini yang tertangkap pihak berwajib, karena melakukan suap-menyuap. Padahal mereka tahu bahwa suap menyuap itu hal yang tidak baik. Suap menyuap itu mempengaruhi putusan mereka terhadap suatu kondisi tertentu. Kebanyakan suap menyuap menyebabkan keputusan yang tidak adil.
Kita mesti menyadari bahwa suap membutakan mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Akibatnya, orang yang salah bisa dibenarkan, dan orang yang benar malah disalahkan. Orang yang berusaha memenuhi syarat dengan prosedur yang benar malah dipersulit dan dibujuk untuk mengambil jalan pintas. Suap kemudian dianggap sebagai suatu kewajaran.
Mari kita berjuang melenyapkan suap menyuap dari hidup kita. Dengan demikian, banyak hal baik dapat kita persembahkan bagi hidup bersama. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
