Kitab Suci orang Kristen tidak begitu saja jatuh dari surga, tapi ditulis oleh manusia. Kalau begitu mengapa bisa disebut Kitab Suci? Jawabannya karena Allah-lah yang memberi inspirasi atau ilham kepada mereka yang menulis Kitab Suci (bdk. KGK 106).
Mereka yang menulis Kitab Suci adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk menulis apa yang dikehendaki-Nya. That’s why, walaupun ditulis oleh manusia, tapi tulisan-tulisan yang dihasilkan tetaplah suci, karena sejatinya Allah-lah yang menulis Kitab Suci lewat orang-orang yang dipilihnya. Karena itu, seluruh tulisan Kitab Suci diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajar, meyakinkan, menegur dan mendidik dalam kebenaran (DV 11).

Kitab Suci orang Kristen dalam Bahasa Indonesia disebut Alkitab, yang merupakan bentukan kata dari bahasa Arab: Al + Kitab. Nama aslinya berasal dari kata Yunani βιβλιον, yang berarti “buku”. Kata βιβλιον diambil dari nama kota Pelabuhan di Fenisia, βιβλος, yang mengolah bahan papirus sebelum diperdagangkan dan dikirim ke Yunani. Bentuk jamak dari βιβλιον adalah τα βιβλια (kitab-kitab), yang dalam Bahasa Latin menjadi Biblia. Dari sinilah muncul nama-nama modern seperti Bible (Inggris), Bible (Perancis), Bibel (Jerman), Biblia (Spanyol), Bibbia (Italia), termasuk Alkitab (Indonesia).
Bagaimana Alkitab terbentuk? Mulanya Alkitab tidak langsung berbentuk buku seperti yang kita pakai sekarang ini, melainkan dalam bentuk cerita-cerita lisan ‘tentang Allah dan hubungan-Nya dengan manusia’ yang dikisahkan turun-temurun. Ketika orang mulai mengenal aksara dan tulisan, kisah-kisah itu pun ditulis pada tembikar, batu, perkamen dari kulit binatang dan papirus-papirus dalam bentuk gulungan-gulungan.
Tidak semua tulisan yang beredar itu dapat langsung diterima sebagai naskah Kitab Suci. Maka dari itu, ada sebuah proses panjang yang namanya Kanonisasi Kitab Suci. Singkatnya, kanon kitab suci ini merupakan kriteria atau standar yang ditetapkan untuk menentukan apakah tulisan-tulisan itu sungguh-sungguh bisa dikategorikan sebagai kitab suci atau tidak. Kalau memenuhi kriteria yang ditentukan maka tulisan itu dapat dimasukkan dalam Alkitab.
Gereja Katolik lewat berbagai konsili, mengkanonisasi Alkitab, dan jadilah Alkitab seperti yang kita pakai sekarang ini.

Alkitab sendiri dibagi menjadi dua bagian besar yaitu, Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Kitab-kitab Perjanjian Baru. Revisi dong? Bukan! Kitab-kitab Perjanjian Baru bukanlah revisi dari Kitab-kitab Perjanjian Lama, tapi Perjanjian Lama memuat karya keselamatan Allah sebelum kedatangan Kristus, yang sekaligus juga menubuatkan kedatangan-Nya. Lalu Perjanjian Baru memuat karya keselamatan Allah yang tergenapi dalam diri Kristus.
Total kitab dalam Alkitab Katolik ada 73 kitab, yang terdiri dari 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 Kitab Perjanjian Baru. Alkitab Katolik diterjemahkan dari bahasa Ibrani dan Bahasa Yunani ke Bahasa Latin, yang kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti Bahasa Indonesia.
Konon, sampai sekarang ini, Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 2.700 bahasa di dunia. Kok butuh terjemahan? Tentu agar semakin banyak orang mengerti Sabda Tuhan. **
Kristiana Rinawati
