Kalau kita search di internet atau di toko buku, akan ada banyak banget tafsir Alkitab. Hasil tafsirnya pun beda-beda. Kalau gitu, yang mana yang harus kita ikuti?
Nah, kita, umat Katolik, tidak boleh sembarang dalam menafsirkan Alkitab. Kenapa? Jadi gini, Alkitab ditulis dalam terang Roh Kudus. Alkitab ditulis oleh manusia terpilih, maka bahasa yang digunakan dalam Alkitab pastilah bahasa manusia dong ye kan? Nah, bahasa mau apapun itu, pasti berkaitan erat dengan budaya, dengan seni sastra.

Jadi, untuk tahu maksud dari teks-teks dalam Alkitab, ya harus lihat konteksnya. Bagaimana budaya yang berkembang pada waktu itu? Bagaimana makna dari bahasa yang digunakan? Bahkan Yesus Tuhan kita pun menggunakan berbagai macam perumpamaan dalam pengajaran-Nya, yang kalau tidak ditafsirkan dengan benar maknanya, maka kita tidak akan mengerti maksud dari pengajaran Tuhan.
Misalnya nih, Dalam Injil Lukas, Yesus pernah mengatakan, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:26)

Lantas, apakah Yesus meminta kita untuk membenci orang-orang terdekat kita? Padahal dalam ayat lain jelas kalau Yesus memerintahkan kita untuk menghormati orangtua kita (bdk. Lukas 18:20).
Lalu, apa maksud Yesus? Untuk mengerti apa maksud Tuhan, kita harus melihat konteks keseluruhan isi perikop Kitab Suci. Perikop Injil Lukas 14:25-35, menjelaskan bahwa butuh komitmen dan kesetiaan dalam mengikuti-Nya. Bahkan jika ada konsekuensi yang harus dibayar, misalnya kalau orangtua kita, saudara-saudari kita, teman-teman kita tidak mau mengakui kita lagi, ketika kita memutuskan menjadi murid-Nya, ya kita harus siap.
Begitupun ketika Yesus mengatakan, “Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka.” (Markus 9:47)
Pertanyaannya, apakah kita harus mencungkil mata kita?

Karena itu, begitu banyak kalimat metafora, bahkan hiperbola yang dipakai. Tidak hanya pengajaran Yesus dalam Injil, tapi juga dalam kitab-kitab lainnya. Lalu, bagaimana ajaran Gereja Katolik tentang tafsir atau interpretasi Alkitab? Gereja mengajarkan, Kitab Suci harus dibaca dan ditafsirkan dengan bantuan Roh Kudus dan di bawah tuntunan Kuasa Mengajar Gereja menurut kriteria. Pertama, harus dibaca dengan memperhatikan isi dan kesatuan dari keseluruhan Kitab Suci, kedua, harus dibaca dalam Tradisi yang hidup dalam Gereja, ketiga, harus dibaca dengan memperhatikan analogi iman, yaitu harmoni batin yang ada di antara kebenaran-kebenaran iman itu sendiri (KKGK 19).

Mengapa tafsir Alkitab harus selalu dikaitkan dengan Tradisi Suci dan Kuasa Mengajar Gereja? Jawabannya, karena Kitab Suci lahir dari Tradisi Suci dan Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Yesus, yang diserahi kuasa, termasuk kuasa dalam mengajar dan menafsirkan Kitab Suci.
Jadi, ketika kamu membaca Kitab Suci dan ada ayat yang sulit untuk dimengerti, datanglah ke otoritas Gereja terdekat, misalnya pastor parokimu. **
Kristiana Rinawati
