Meditasi Minggu, 02 Oktober 2022 – Minggu Biasa XXVII Tahun Liturgi C

“Iman Sebesar Biji Sesawi ”
Hab 1,2-3; 2,2-4; 2Tim 1,6-8.13-14; Luk 17,5-10

Pengajaran Yesus melalui perumpamaan tentang Dives yang kaya dan lōēzer yang tidak berdaya dan bagaimana akhir perjalanan hidup mereka menimbulkan berbagai macam reaksi dan ekspresi di raut wajah mereka yang menyertai perjalanan-Nya. Sekali lagi, Yesus menekankan pentingnya belas kasihan dan kedermawanan sebagai bekal perjalanan mereka ke Yerusalem. Beberapa dari pendengar-Nya tampak yakin dan bersemangat untuk terus menyertai perjalanan Yesus. Tetapi ada juga yang tampaknya terkejut dan shock dengan tuntutan-tuntutan yang disampaikan oleh Yesus.

Perjalanan mereka ke Yerusalem masih cukup panjang. Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan menyampaikan berbagai instruksi kepada para murid. Lukas 17,1-10 mencatat setidaknya empat tema pengajaran Yesus. Dua instruksi pertama lebih erat kaitannya dengan relasi horizontal – antar sesama orang beriman dan dua instruksi lainnya terkait relasi vertikal – orang beriman dengan Tuhan.

Penyesatan dan pengampunan

Pertama-tama, Yesus menasihatkan agar para pengikutNya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Pengajaran ini sangat keras karena diikuti dengan peringatan bahwa lebih baik bagi si ‘pembuat skandal’ (σκανδαλὶζω skandalizō) jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut (Luk 17,2). Mungkin yang dimaksud Yesus sebagai “orang-orang kecil” (τῶν μικρῶν tōn mikrōn), yang rentan menjadi korban penyesatan, adalah orang-orang yang baru bergabung dalam komunitas para murid Yesus, para katekumen yang mau mengenal Yesus lebih dekat. Bagi Yesus, menyesatkan salah seorang dari orang-orang kecil ini merupakan sebuah kejahatan moral yang berat.

Poin kedua dari pengajaran Yesus adalah tentang perlunya orang yang percaya untuk mengampuni terus menerus sesamanya yang bertobat. Pengampunan ini dibarengi dengan usaha untuk menegur yang berdosa agar dia tahu apa yang harus dibenahi dan diwaspadai. Teguran adalah sebagai tanda cinta dan perhatian, bukan sebagai hukuman. Maka orang yang berdosa di antara anggota komunitas murid Yesus harus ditegur dan mereka yang bertobat harus disambut dengan pengampunan. Bahkan jika semua itu terjadi tujuh kali dalam sehari, pengampunan harus diberikan demi memulihkan hubungan dalam komunitas murid Yesus.

Milikilah iman dan lakukanlah hal-hal besar

Menanggapi pengajaran Yesus, rasul-rasul pun berkomentar, “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17,5). Pada poin ketiga ini perhatian kita terarah kepada para rasul yang seakan-akan mewakili kita mengungkapkan kegelisahan yang sama kepada Yesus. Bagaimana mungkin saya mengampuni kesalahan orang yang sama apalagi sampai tujuh kali. Kesempatan untuk berubah dan berbenah diri cukuplah diberikan maksimal tiga kali! Itulah kira-kira yang “wajar” dan paling mungkin untuk kita lakukan. Lebih dari batas maksimal itu, saya membutuhkan tambahan iman. Kira-kira begitulah kegelisahan yang menyelimuti pikiran dan hati para rasul.

Para rasul minta tambahan iman karena mereka menyadari tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kedua instruksi Yesus di atas (Luk 17,1-4). Sepertinya para rasul menjadi frustrasi dengan jawaban Yesus. Entah, mereka memiliki iman sebesar apapun bagi Yesus bukanlah hal utama. Bahkan jika para rasul hanya memiliki iman sebesar biji sesawi, yang dipahami oleh Lukas dan pendengarnya sebagai biji paling kecil, mereka dapat melakukan hal-hal besar (Luk 17,6). Sekali lagi, bagi Yesus bukan soal kuantitas iman tetapi kualitas iman yang paling utama.

Meskipun jawaban Yesus terkesan membuat frustrasi para rasul, dan mungkin juga murid-murid yang lain, namun kata-kata itu dimaksudkan untuk memberikan dorongan semangat kepada para rasul. Meskipun para rasul tidak menyadarinya, mereka memiliki cukup iman untuk melakukan hal-hal yang besar. Oleh karena itu, jangan khawatir tentang seberapa besar iman yang dimiliki.

Orang beriman itu seperti seorang pelayan

Poin keempat pengajaran Yesus ialah sebuah perumpamaan yang menggambarkan relasi antara orang yang percaya dengan Allah sendiri. Orang-orang beriman itu seperti pelayan yang mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak layak dan hanya melaksanakan apa yang menjadi kewajiban mereka. Tidak tahu persis apa maksud Yesus menyampaikan poin pengajaran ini kepada para rasul. Barangkali Yesus mau menekankan pesan tentang karakter yang membedakan antara identitas murid-murid-Nya dengan orang-orang yang selalu merasa paling benar sendiri, seperti beberapa orang Farisi dalam Luk 18,9-14. Dengan cara yang halus, Yesus sepertinya hendak menasihati para rasul agar rendah hati saat mereka melaksanakan karya pelayanan mereka.

Para rasul mesti menyadari hubungannya dengan Tuhan, yaitu sebagai pelayan (δοῦλος doulos) dan tuan (κὺριος kyrios). Hubungan ini diungkapkan dalam perumpamaan. Perumpamaan Yesus dalam Lukas 17,7-10 ini menampilkan seorang tuan yang kelihatannya hanya memiliki seorang hamba yang terpaksa melakukan tugas ganda. Hamba ini bekerja keras, baik sebagai buruh di ladang (membajak dan menggembalakan ternak) dan sebagai pelayan rumah tangga (menyiapkan makanan dan melayani meja). Begitu dia selesai bekerja seharian, hamba ini tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari tuannya. Dia menyadari siapa dirinya, seorang yang hanya melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan.

Sikap yang sama kiranya diminta oleh Yesus dari para rasul. Dengan perumpamaan ini, Yesus sepertinya hendak mengatakan kepada para rasul, ketika mereka “tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan siap sedia mengampuni tanpa henti”, seharusnya mereka menyadari bahwa mereka hanya melakukan tidak lebih dari apa yang diperintahkan. Para rasul akan dapat melaksanakan instruksi-instruksi yang telah disampaikan Yesus di atas jika mereka memiliki kualitas iman meskipun hanya sebesar biji sesawi.

Pesan singkat

Menjaga diri sendiri, menegur orang yang berdosa, menyambut dan mengampuni orang yang bertobat, semua ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Seperti itulah cara hidup kita seharusnya sebagai orang Kristen, yang percaya kepada Yesus. Hidup dengan cara demikian adalah sebuah panggilan yang melekat karena identitas kemuridan kita. Cara hidup Kristen semacam ini menjadi bermakna jika kita melakukannya di dalam iman yang teguh.

Quezon City 2022@donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.