Pada 10 Oktober 2021, tepat 8 tahun setelah ditahbiskan sebagai Uskup, Mgr. Yohanes Harun Yuwono diangkat menjadi Uskup Agung Palembang. Saat menjadi Uskup Agung Palembang, Mgr. Yuwono menggunakan motto “Deus Caritas Est” (Allah adalah Kasih).
Untuk merayakan peringatan ulang tahun Episkopal ke-9 dan ke-1 tahun sebagai Uskup Agung Palembang, pada Minggu (9/10) bertempat di basement Gereja Katedral St. Maria Palembang, berlangsung perayaan syukur tersebut. Para imam, biarawan dan biarawati juga beberapa umat ikut ambil bagian dalam perayaan syukur yang diawali dengan ibadat bersama.

Ibadat berjalan dengan sangat khusyuk, ditemani rintik hujan menambah sejuknya udara malam itu. Setelah ibadat berakhir dilanjutkan dengan acara ramah tamah di basement gereja.
Usai ibadat, dua orang ditunjuk sebagai perwakilan umat dan biarawan/biarawati untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Mgr. Harun. Perwakilan umat, ketua DPP Paroki Katedral St. Maria Palembang, Alex mengungkapkan kegembiraan karena sudah 1 tahun bisa bersama dan bekerjasama dengan uskup. Ia juga mengaku bahwa sebagai umat ia sangat menikmati homili uskup.
“Setiap kali misa bersama bapa uskup, saya selalu menikmati homili yang disampaikan beliau karena sangat menginspirasi,” ucap Alex.
“Mewakili semua umat, kami ucapkan selamat ulang tahun Episkopal yang ke-9, berbahagialah selalu Mgr, berkat Tuhan melimpah bagi semua karyamu, ” lanjutnya.
Romo Andreas Suparman SCJ, yang mewakili biarawan-biarawati, dalam sambutannya mengatakan bahwa Bapak Uskup adalah orang yang luar biasa dan juga biasa di luar sehingga cukup sulit untuk bertemu dengan beliau. Menurutnya, Mgr. Harun selalu komunikatif, cepat memberikan respon dan kerja sama dengan beliau dirasa sangat mudah. “Kalau ada gagasan mgr selalu setuju, sangat jarang mengatakan tidak. Mgr juga begitu menghargai biarawan biarawati, ” tuturnya.
Romo Suparman mengaku tertarik dengan gagasan bahwa para imam, biarawan dan biarawati harus mendekatkan diri dengan umat. Gembala berbau domba, gembala harus dekat dengan umat agar bisa berjalan bersama. Romo Suparman juga menyampaikan harapan biarawan/i agar monsinyur bisa mengunjungi mereka di rumah biara atau komunitas-komunitas karena mereka rindu untuk dihampiri.

“Kami mendoakan agar mosinyur tetap sehat dan bersukacita. Selalu bersemangat dalam mewartakan kasih kepada semua orang sesuai dengan semboyan bapa Uskup “Deus Caritas Est” kemanapun Bapak Uskup pergi,” tutupnya.
Sang empunya acara, Mgr. Harun Yuwono juga tidak ketinggalan menyampaikan sambutannya. Beliau berterimakasih kepada para Imam yang sudah membantu menyelesaikan tugas di Keuskupan. “Saya kesana kemari, tapi tugas di keuskupan dikerjakan para romo. Jadi saya senang-senang saja. Terimakasih para romo sudah membantu, ” kata Mgr. Harun.
Mgr. Harun Yuwono mengungkapkan bahwa ketika masuk seminari, ia bertekad mengambil bagian untuk memelihara Gereja. “Itulah yang saya bawa kesini. Saya tidak sampai hati ketika ada umat terlantar, ” ucapnya. Mgr. mengajak para Imam untuk menyadari tugas kegembalaan yang sudah dipercayakan kepada mereka, melayani umat.
Ucapan terima kasih juga disampaikan Uskup Agung Harun kepada mereka yang hadir, sembari mengamanatkan Sinode III, untuk tetap berjalan bersama, karena beliau menyadari tidak mungkin berjalan sendirian. “Berjalan bersama bukan karena saya yang memimpin, melainkan karena kita saudara. Maka kita bergandengan tangan saling memimpin dan dipimpin ke jalur yang sama,” jelasnya.
Usai sambutan, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Mgr Yuwono menyerahkan potongan pertama tumpeng kepada uskup emeritus, Mgr. Aloysius Sudarso. Acara kemudian dilanjutkan dengan santap malam bersama. **
Teresia Ovilda
