Awas Bahaya Stunting!

Jajaran pemerintah daerah dan para pegiat kesehatan berfoto bersama dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Sabtu, (15/10) bertempat di Gedung Auditorium Charitas Hospital Palembang diselenggarakan seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya. Seminar ini merupakan bentuk partisipasi Charitas Hospital bersama pemerintah untuk mengentaskan stunting.

dr. Sutomo, MARS, direktur Charitas Hospital Palembang sedang memberikan kata sambutan pada seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

“Mengapa stunting (menjadi masalah yang) sangat penting? Karena kalau kita melihat data di Indonesia tahun 2018, prevalensi stunting tinggi, 30,8%. Semoga tahun sekarang menurun. Pada tahun tersebut, di Asia Tenggara, negara kita peringkat 2. Maka dari itu pemerintah sangat konsen, sehingga memasukkan stunting ini ke dalam sasaran pembangunan nasional,” jelas dr. Sutomo, MARS, Direktur Charitas Hospital Palembang.

Seminar stunting ini menghadirkan dua narasumber, dr. Elina Waiman, SpA, MARS dan Sr. M. Margaretha FCh. Lebih dari 130 orang mengikuti seminar ini. Mereka berasal dari orangtua anak, jajaran pemerintah daerah, dan para pegiat kesehatan.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita, akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama dan paparan infeksi yang berulang-ulang. Di tahun 2021, prevalensi stunting kita sudah menurun menjadi 24%, tapi masih tinggi. Sumatera Selatan sendiri angkanya masih di rata-rata nasional. Presiden menginstruksikan agar angka stunting ditekan menjadi 14% di tahun 2024,” kata dr. Elina, mengawali pemaparannya.

dr. Elina sedang memaparkan materinya dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Wasting dan Stunting

Seribu hari pertama kehidupan, yang dihitung sejak anak dalam kandungan menjadi penentu penting untuk mencegah stunting. Selain stunting ada juga wasting. Gampangnya, wasting berhubungan dengan gangguan berat badan, sedangkan stunting berhubungan dengan gangguan tinggi badan. Wasting dapat mengakibatkan stunting.

“Seorang anak akan pendek, jika dia mengalami kekurangan gizi dalam jangka waktu lama,” kata dr. Elina.

Para hadirin dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Bahaya Stunting

Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi berpengaruh pada tumbuh kembang anak. “Anak yang stunting, bertumbuh menjadi remaja yang stunting, akan menjadi ibu yang stunting, dan akan melahirkan anak yang stunting,” jelas dr. Elina. Sederhananya, stunting yang tidak dicegah maupun ditangani dengan baik, akan menjadi rantai yang tak terputuskan.

Selain menjadi rantai, stunting juga berpengaruh pada kecerdasan anak. Anak yang stunting, bisa saja tingkat kecerdasannya lebih rendah daripada anak yang tidak stuntingStunting juga memengaruhi masa hidup seseorang. Semuanya ini saling berkaitan, termasuk memengaruhi produktifitas ekonomi di kemudian hari.

Para hadirin dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Penyebab Stunting

Ada cukup banyak penyebab stunting yang dipaparkan dr. Elina. “Sanitasi dan supply air bersih kurang; pendidikan caregiver yang rendah, tingkat ekonomi rendah, kurangnya ketersediaan makanan, orangtua pendek, orangtua merokok, dan kondisi rumah padat.”

Ibu adalah subyek yang harus diperhatikan betul sedari dia mengandung, karena perkembangan anak dimulai dari seribu hari pertama kehidupannya, yang dimulai dari dalam kandungan. Gizi dan kesehatan baik fisik maupun mental ibu, harus menjadi perhatian. 

Gizi anak terkait dengan asupan yang diterima tubuhnya. Sedangkan infeksi, terkait dengan sejumlah penyakit yang dideritanya. “Diare, ISPA, malaria, nafsu makan menurun, dan tidak mendapat imunisasi. Bagaimana anak bisa bertumbuh (baik) kalau terkena infeksi terus menerus?” Kata dr. Elina. Ini karena infeksi menyebabkan asupan gizi yang tidak cukup.

Para hadirin dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Pendek Pasti Stunting?

Apakah anak pendek pasti stunting? Menurut dr. Waiman, tidak demikian. Diagnosa stunting harus melihat faktor-faktor yang memengaruhi tinggi badan si anak. Ini dilihat dalam kurun waktu tertentu, tidak bisa dilihat dalam satu waktu saja.

Pendek yang dimaksud stunting adalah mereka yang kekurangan gizi dalam waktu lama dan terkena infeksi yang terus menerus. Karena itu, dr. Waiman mengatakan, bahwa seorang anak harus dimonitoring perkembangannya. 

“Lihat data kecepatan tumbuh. Dilihat apakah dia bertumbuh dalam jangka waktu tertentu. Karena itu, tumbuh kembang anak harus dimonitor, untuk anak di bawah satu tahun setiap bulan,” jelasnya.

Sr. M. Margaretha FCh dalam seminar awam bertajuk Stunting dan Gizi untuk Pencegahannya, Sabtu, (15/10)

Pencegahan Stunting

Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan menurut dr. Elina adalah pertama, untuk ibu hamil, yang harus diperhatikan adalah nutrisi yang cukup dan seimbang, dan pemberian tablet gizi. Sr. Margaretha FCh, kepala instalasi gizi Charitas Hospital, memaparkan bahwa kebutuhan gizi masing-masing tahap pertumbuhan itu berbeda-beda.

“Kebutuhan gizi itu bertahap. Trimester pertama berbeda dengan trimester kedua. Saat menyusui juga kebutuhan gizi harus ditambah, karena menyangkut dua orang (anak dan ibu),” jelas Sr. Margaretha.

Contoh menu makanan yang harus dipenuhi untuk MP-ASI 9-11 bulan. Menu disajikan oleh Sr. M. Margaretha FCh.

Pencegahan selanjutnya adalah saat bayi dilahirkan. “Pemberian ASI eksklusif, MP-ASI dalam kualitas dan kuantitas yang cukup, praktik pemberian makanan yang benar, pemberian vitamin A dan pemberian imunisasi lengkap, serta jaga sanitasi dan hygiene yang tepat,” papar dr. Elina. **

Kristiana Rinawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.