Meditasi Minggu, 30 Oktober 2022 – Minggu Biasa XXXI, Tahun Liturgi C

“Hari Ini Terjadi Keselamatan di Rumah Ini”

Keb 11,22-12,2; 2Tes 1,11-2,2; Luk 19,1-10

Dengan perikop yang kita baca hari minggu ini, kita sampai pada bagian akhir dari kisah-kisah Yesus sepanjang perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Dalam kisah perjalanan yang cukup panjang, dari bab 9,51-19,1, Lukas telah menampilkan proses pembentukan karakter kemuridan yang dituntut oleh Yesus. Sekarang, Yesus dan para murid-Nya sudah memasuki kota Yerikho.

Matahari sudah condong ke arah barat ketika Yesus dan para murid-Nya memasuki kota itu. Perjalanan menuju Yerusalem tentu melelahkan dan berbahaya. Jarak kota Yerikho ke kota Yerusalem kurang lebih sekitar 18 mil (30 km) lagi. Mengadakan perjalanan pada malam hari dengan melintasi wilayah Yerikho tentu akan penuh resiko. Apalagi jalan menuju Yerusalem mendaki, karena kota Yerusalem terletak di dataran yang lebih tinggi dari Yerikho sekitar 1000 meter. Kita ingat juga jalur Yerikho – Yerusalem ini rawan begal atau perampokan (Luk 10,30). Mereka perlu beristirahat dan memilih melanjutkan perjalanan esok hari. Malam itu Yesus dan murid-murid-Nya menumpang di rumah seorang kepala pemungut cukai bernama Zakheus.

Yerikho yang istimewa

Penginjil Lukas sepertinya memiliki kesan dan pesan yang istimewa tentang Yerikho. Tiga kali kata Ιεριχὼ (Yerikho) muncul dalam injil Lukas (Luk 10,30; 18,35; 19,1). Pertama kali muncul kata Yerikho merujuk pada tempat di mana telah terjadi perampokan sadis terhadap seseorang yang sedang dalam perjalanan turun dari Yerusalem ke Yerikho. Selanjutnya dalam Luk 18,35, kata Yerikho merujuk pada kisah seorang yang miskin dan buta yang mengemis di pinggir jalan dan meminta belaskasihan Yesus. Penulis Injil Markus 10,46 mengidentifikasi pengemis buta itu sebagai Bartimeus, anak Timeus. Akhirnya, kata Yerikho yang muncul dalam perikop kita sekarang ini diikuti kisah dengan karakter Zakheus, yang sama sekali berbeda dengan Bartimeus. Zakheus dikenal sebagai kepala pemungut cukai, orang kaya, dan berbadan pendek. Dua kisah pertama terkait kata Yerikho dapat ditemukan baik dalam Mateus maupun Markus. Tetapi kisah Zakheus ini hanya ditemukan dalam injil Lukas.

Zakheus mencari Yesus

Zakheus sedang mencari tahu orang macam apa Yesus itu (Luk 19,3). Sepertinya, Lukas mau menunjukkan bahwa Zakheus ini sedang “mencari kerajaan Allah,” seperti orang Yunani yang ingin melihat Yesus dalam Yoh 12,20-21. Hasrat Zakheus untuk melihat Yesus mungkin menunjukkan bahwa dia telah mendengar khotbah Yesus tentang keselamatan, tentang Anak Manusia, dan Kerajaan Allah dan ingin melihat sendiri apakah semua itu benar. Informasi-informasi tentang Yesus dan ajaran-Nya telah sampai padanya dan memotivasinya untuk melakukan tindakan yang tidak biasa untuk seseorang dengan posisi sebagai kepala pemungut cukai yang kaya: memanjat pohon ara (Luk 19,4).

Tema universalitas keselamatan yang dibawa oleh Yesus dalam injil Lukas sekali lagi tampak dalam kisah Zakheus ini. Lukas memperkenalkan dengan lugas identitas Zakheus sebagai “kepala pemungut cukai” (ay.2). Bukan kali ini saja Lukas menampilkan interaksi Yesus dengan pemungut cukai. Dalam 5,27, Lukas menekankan posisi Lewi sebagai seorang “pemungut cukai” yang dipandang sebagai pendosa yang hina oleh beberapa orang Farisi dan ahli Taurat. Dalam 7,29 dan 7,34, Lukas sekali lagi menempatkan para pemungut cukai dan orang berdosa di tengah perjamuan Yesus sebagai orang-orang yang menerima Dia sebagai Mesias yang dinubuatkan dalam PL.

Sebagai kepala pemungut cukai, tanggapan Zakheus kepada Yesus mewakili tanggapan pemungut cukai dan orang berdosa pada umumnya. Zakheus mewakili semua orang yang dianggap orang Farisi sebagai orang ‘buangan dalam masyarakat’ karena ia adalah pemungut cukai dan pendosa. Selain itu, stigma sebagai ‘orang buangan dalama masyarakat dan pendosa’ yang disematkan kepada Zakheus mungkin lebih disebabkan karena dia ‘sangat kaya’. Para pembenci Zakheus mungkin iri hati. Lukas sendiri menyebut orang-orang Farisi sebagai “pencinta uang” (Luk 16,14). Tetapi yang membedakan antara Zakheus dan para pembencinya adalah kebutuhan akan keselamatan. Zakheus tergerak untuk mencari dan menerima Yesus sedangkan orang-orang Farisi dan ahli Taurat menentang dan menolak Yesus.

Yesus harus menumpang di rumah Zakheus

Zakheus mungkin sangat ingin melihat siapa Yesus dan orang macam apa Dia itu. Tetapi ketika mereka bertemu, Yesuslah yang memanggil dan “mengundang” Zakheus, sama seperti dia memanggil Lewi (Mat 9,9; Mrk 2,14). Undangan Yesus dalam Lukas 19,5 berisi kata-kata kunci yang menggambarkan misi Yesus: Ζακχαῖε, σπεύσας κατάβηθι, σήμερον γὰρ ἐν τῷ οἴκῳ σου δεῖ με μεῖναι (Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus (perlu) menumpang di rumahmu Luk 19,5). Penggunaan kata δεῖ (“perlu”) sehubungan dengan μεῖναι (“tinggal”) menunjukkan pentingnya kehadiran Yesus agar keselamatan datang ke rumah itu hari ini (σῂμερον). Ini adalah bagian dari rencana keselamatan (δεῖ) ilahi Allah, di mana Zakheus menjadi bagiannya, karena dia melambangkan “domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 15,24).

Tinggalnya Yesus di rumah Zakheus ini mengantisipasi perjamuan Emaus dalam Luk 24,29, di mana Lukas menggunakan (“tinggal”) dua kali untuk menunjukkan kehadiran Kristus pada perjamuan di Emaus. Meskipun kisah Zakheus tidak menyebut secara eksplisit referensi makan atau tindakan makan, μεῖναι (“tinggal”) dan οἴκῳ (“rumah”) menyiratkan gagasan bahwa Yesus akan makan bersama Zakheus di rumahnya. Menghabiskan malam di rumah seseorang dengan demikian menyiratkan pesan bahwa di sana tersedia makanan untuk disantap bersama.

Meskipun sebenarnya bukan hal yang baru bahwa Yesus makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, desakan Yesus untuk tinggal di rumah Zakheus menyebabkan mereka yang melihat adegan itu menggerutu. Mereka yang menggurutu menganggap tindakan Yesus ini melanggar hukum kekudusan dan karenanya dianggap sebagai kenajisan. Menurut anggapan mereka, dengan makan di rumah kepala pemungut cukai, Yesus akan menjadi setara dengan Zakheus, yaitu pendosa dan orang buangan dalam masyarakat.

Reaksi Zakheus sungguh mengejutkan. Dia berjanji, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (ay.8). Sebagaimana dalam kisah Luk 7,47, Yesus tidak mengampuni wanita berdosa pertama-tama karena perbuatan kasih wanita itu, tetapi perbuatan kasihnya yang besar itu mengalir dari pengampunan Yesus. Demikian juga, Yesus memberikan apresiasi kepada Zakheus bukan pertama-tama karena sedekahnya kepada orang miskin; sebaliknya, kemurahan hati Zakheus kepada orang miskin itu adalah buah dari pengampunan yang Yesus berikan kepadanya dengan meminta untuk tinggal di rumahnya. Reaksi Zakheus dalam perbuatan sedekah adalah tanda pertobatannya dan penerimaannya dengan iman atas pengampunan Yesus.

Hari ini telah terjadi keselamatan di rumah ini

Beberapa kali Yesus mengingatkan agar orang selalu siap siaga, dengan tak jemu-jemu berdoa, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak disangka-sangka. Dalam kisah Zakheus, kedatangan Yesus sebagai tamu juga terjadi secara tak terduga, setidak-tidak bagi Zakheus. Yesus melewati keramaian kota, melihat Zakheus di atas pohon ara, lalu memberitahu hal yang mendesak bahwa “hari ini” dan “perlu” untuk tinggal di rumahnya. Ini juga menjelaskan bagaimana cara kerajaan Allah datang. Realitas keselamatan saat ini, “hari ini”, dalam kehidupan Zakheus mencapai klimaks dalam 19,9-10, ketika Yesus mengumumkan, “Hari ini [σῂμερον] keselamatan [σωτηρία] terjadi kepada rumah ini, karena dia juga adalah anak Abraham. Karena Anak Manusia datang untuk mencari [ζητῆσαι] dan menyelamatkan [σῶσαι] yang hilang.”

Kehadiran Yesus hari ini di rumah Zakheus berarti bahwa hari ini keselamatan itu telah datang ke rumah ini. Begitu juga Yesus akan menjanjikan kepada penjahat yang ada di kayu salib, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23,43). Jadi, “hari ini” berarti keselamatan Tuhan hadir di rumah Zakheus, merangkul tindakan penyelamatan Tuhan di masa lalu Israel dan tindakan penyelamatan Tuhan saat ini dan masa depan dalam karya Yesus, Mesias. “Hari ini” menandakan klimaks dari pelayanan Yesus di luar Yerusalem.

Pesan singkat

Allah menjanjikan keselamatan bagi mereka yang adalah anak-anak Abraham yang sebenarnya. Zakheus yang adalah pemungut cukai dan orang berdosa adalah anak Abraham. Yesus makan bersamanya dan menyatakan bahwa keselamatan hadir di rumahnya, bukan karena dia (secara fisik) adalah anak Abraham, tetapi karena dia adalah anak Abraham sebagai pemungut cukai dan pendosa yang bertobat. Zakheus menanggapi kehadiran Yesus dengan menghasilkan buah pertobatan (Luk 19,8). Dia adalah gambaran dari semua orang berdosa yang hilang dan yang diselamatkan oleh Yesus.

Quezon City 2022@donjustin

Leave a Reply

Your email address will not be published.