Apakah kejujuran masih diyakini sebagai keutamaan? Pertanyaan ini layak diajukan berkaitan dengan kejujuran yang hampir tidak laku lagi dalam tatanan hidup bersama. Pada umumnya, orang zaman ini meragukan nilai kejujuran sebagai keutamaan. Barangkali sudah sampai titik kritis, banyak orang sudah meyakini bahwa kejujuran sudah “tidak laku” lagi sebagai keutamaan.
Kejujuran seperti “mata uang” yang sudah tidak bisa digunakan lagi karena memang sudah kadaluwarsa nilai jualnya. Seolah-olah kejujuran itu seperti mata uang ringgit yang laku di masa lalu dan tidak laku di masa sekarang. Kejujuran itu seperti keutamaan yang berlaku di zaman ago dan tidak berlaku di zaman now. Dengan demikian, apakah kejujuran telah menjadi keutamaan yang pantas dikenang dalam sejarah moralitas manusia?

Keunggulan Kejujuran
“Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana” – Pepatah Cina
Keraguan akan kejujuran sebagai “mata uang usang” menyatakan bahwa kejujuran sudah tidak berlaku lagi. Sebaliknya, keyakinan akan kejujuran sebagai “mata uang universal” menyatakan bahwa kejujuran itu selalu berlaku. Alasannya adalah kejujuran itu menyangkut keutamaan universal yang berlaku di mana pun berada dan kapan pun waktunya. Dalam hal ini, pertanyaan tentang “Apakah kejujuran masih berlaku?” terjawab sudah. Walaupun penghayatan kejujuran memudar, keutamaan kejujuran tak pernah memudar. Walaupun banyak orang meragukan kejujuran sebagai keutamaan, tetapi nilai kejujuran itu berlaku universal.
Berkaitan dengan kejujuran, Pinocchio adalah sebuah karakter yang ada dalam novel “Le Avventure di Pinocchio” (1883) karya Carlo Collodi dari Firenze, Italia. Di dalam novelnya, diceritakan Geppetto sebagai pengukir kayu dari salah satu desa Toscana di Italia. Geppeto membuat boneka Pinocchio dari kayu. Ia bermimpi bonekanya menjadi seorang bocah sungguh-sungguh. Pinocchio mempunyai kecenderungan berbohong (tidak jujur). Kalau Pinocchio berbohong maka hidungnya akan bertambah panjang. Semakin berbohong, semakin hidung Pinocchio bertambah panjang. Hal ini mau menyatakan sifat dari ketidakjujuran.
Di satu pihak, ketidakjujuran membawa akibat. Jika Pinocchio tidak jujur, akibatnya adalah hidungnya menjadi panjang. Pesannya adalah setiap ketidakjujuran akan membawa akibat dalam hidup kita.
Di lain pihak, mau tidak mau, ketidakjujuran akan kelihatan juga. Ketidakjujuran tidak bisa disembunyikan selamanya. Dalam boneka Pinocchio, ketidakjujuran langsung kelihatan dalam hidungnya yang memanjang. Pesannya, cepat atau lambat, ketidakjujuran akan kelihatan juga. Dalam hal ini, kita diingatkan oleh Geppeto bahwa suara hati adalah suara lembut yang kebanyakan orang tidak mendengarnya.
Geppeto juga mengingatkan, “Kemalasan adalah sebuah penyakit yang serius dan orang harus menyembuhkannya segera; ya, penyakit ini harus disembuhkan sejak masa anak-anak. Jika tidak, penyakit ini akan membunuhmu pada akhirnya” (Le Avventure di Pinocchio).
Melalui tokoh Geppeto, kita disadarkan bahwa ada hubungan antara kemalasan dan ketidakjujuran. Kita sering mendengar ungkapan bahwa tidak ada obat untuk rasa malas. Pernyataan ini mengisyaratkan rasa malas sebagai suatu penyakit, yaitu penyakit rohani. Dengan ini, orang malas adalah orang yang tidak memiliki roh. Hal ini ditandai dengan gerakan yang lamban, tidak bergairah untuk beraktivitas, dan tidak mempunyai energi bertindak.
Akibat dari kemalasannya, orang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal kebutuhan hidup itu mendesak. Kemungkinan besar untuk mendapatkannya, orang melakukan ketidakjujuran. Dalam hal ini, ketidakjujuran adalah jalan pintas untuk mendapatkan kebutuhan hidup yang beresiko besar. Demikian juga, orang malas tidak memiliki prestasi. Padahal prestasi itu penting. Karena tidak mungkin lahir prestasi dari sebuah kemalasan, orang akan menggunakan jalan pintas, yaitu ketidakjujuran.
Intinya adalah kemalasan tidak menghasilkan apa-apa. Padahal hidup itu perlu apa saja. Karena tidak ada apa-apa, padahal hidup perlu apa saja, maka ketidakjujuran menjadi jalan pintas yang berbahaya bagi si pemalas.
Goethe menunjukkan keunggulan kejujuran, “Tidak pernah orang tersesat di jalan yang lurus”.
Dengan pernyataannya, ia meyakinkan kita bahwa kejujuran adalah jalan lurus dalam hidup kita. Jika orang berjalan dalam kejujuran, ia tidak akan tersesat. Goethe tidak hanya memberikan keyakinan tentang kejujuran, ia juga memberikan kepastian tentang nilai kejujuran. Kepastiannya adalah kejujuran tidak pernah menyesatkan. Akan tetapi, sebagai keutamaan, kejujuran mempunyai tantangan yang serius dalam kehidupan. Perlu diingat, keutamaan sejati selalu menyertakan tantangan. Justru, keutamaan menunjukkan kesejatiannya dalam tantangan, kesulitan, dan penderitaan.
Kitab Amsal menegaskan keunggulan dari kejujuran, “Siapa berjalan dalam kejujuran berjalan dengan aman, tetapi dia yang membengkokkan jalannya akan ketahuan” (Ams 10:9). Kejujuran itu membuat aman hidup kita. Ketika kita jujur, kita tidak takut akan perbuatan yang kita lakukan. Dalam kejujuran, kita tidak perlu cemas untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Ketika kita jujur, kita tidak takut akan orang-orang di sekitar kita.
Kejujuran membuat kita bebas karena kita tidak punya beban pikiran dan perasaan, serta tidak punya rasa bersalah dan rasa berdosa. Sekalipun kejujuran membuat kita aman secara moral dan rohani, tetapi ada orang-orang yang tidak suka dengan kejujuran. Mereka merasa bahwa zona nyaman terusik oleh orang yang jujur. Akibatnya, mereka akan mengganggu orang yang jujur. Ada kemungkinan mereka akan membuat tidak aman orang yang jujur. Inilah kemungkinan rasa tidak aman dari luar (mereka yang terusik), tetapi orang jujur tetaplah memiliki rasa aman dari dalam (rasa aman secara moral dan rohani). Dalam hal ini, Kitab Amsal memberikan kepastian dalam situasi ini, “Orang yang berjalan tanpa cela akan diselamatkan, tetapi orang yang bengkok jalannya akan jatuh seketika” (Ams 28:18).
Lebih jauh, ada keunggulan-keunggulan moral orang yang jujur.
Keunggulan pertama dinyatakan Seneca, “Orang jujur membela tindakan daripada mentolerir hukum” (Troades, 355). Menurut Seneca, orang jujur mempunyai kekuatan untuk membela tindakan yang bernilai. Orang disebut jujur, ketika ia berpihak pada tindakan yang bernilai benar daripada mentolerir hukum. Hukum itu buatan manusia dan bisa dipelintir untuk kepentingan manusia. Bagi Seneca, orang jujur tidak akan memberikan kemungkinan untuk mentolerir hukum demi sebuah kompromi. Orang jujur berpihak pada kebenaran dalam tindakan yang benar.
Keunggulan kedua dinyatakan oleh Racine, “Tanpa uang, orang jujur tidak akan mengalami sakit” (Les Plaideurs I,11). Biasanya, orang menjadi tidak jujur, karena ia tergoda oleh uang. Orang akan menjual ketidakjujuran demi uang. Uang dapat membutakan kejujuran, memutarbalikkan kejujuran, bahkan meniadakan kejujuran. Menurut Racine, keunggulan orang jujur tidak tergoda oleh uang. Orang jujur sadar bahwa uang itu penting, tetapi uang bukanlah segala-galanya. Orang jujur tidak menjadikan uang sebagai “Tuhan”; karena itu, orang jujur tidak menyembah berhala kepada “Tuhan uang”. Bagi orang jujur, uang itu sarana untuk hidup, bukan tujuan untuk hidup. Di sinilah, orang jujur tidak akan mengalami sakit sekalipun tanpa uang. Karena bagi orang jujur, uang bukanlah segala-galanya, maka orang jujur tidak dihancurkan hidupnya oleh uang.
Keunggulan ketiga dinyatakan oleh Joseph Addison, “Orang beriman takut melakukan tindakan jahat, sementara orang jujur melakukan apa yang ditakutkan orang beriman” (The Guardian,15 September 1713). Addison menegaskan keunggulan orang jujur dan orang beriman. Menurut Addison orang jujur lebih unggul daripada orang beriman. Jika orang beriman takut melakukan perbuatan jahat, orang jujur melakukan apa yang ditakutkan oleh orang beriman. Artinya, orang jujur melakukan apa yang diyakini oleh orang beriman. Secara terselubung, Addison mengkritik orang beriman.
Bisa saja orang beriman mengatakan hal-hal baik, tetapi tidak melakukannya. Orang beriman bisa mengatakan rumusan-rumusan iman yang indah, tetapi belum tentu melakukannya. Tetapi, orang disebut jujur karena ia tidak berbohong: ia mengatakan kebenaran dan sekaligus melakukannya. Karena itu, mestinya setiap orang beriman adalah orang yang jujur.
Kejujuran sebagai Kehancuran
Banyak orang tahu bahwa kejujuran adalah keutamaan. Tetapi, kejujuran itu tidak menarik hati banyak orang. Banyak orang mengakui kejujuran sebagai keutamaan. Tetapi, banyak orang menyangkalnya, karena kejujuran menyertakan tantangan dan kesulitan. Banyak orang setuju bahwa kejujuran adalah jalan hidup yang benar. Tetapi, banyak orang tidak memilih kejujuran sebagai jalan hidup mereka. Sekalipun kejujuran adalah kebenaran, kejujuran tidak menjadi pilihan hidup moral banyak orang. Ada apa dengan kejujuran yang diakui sebagai kebenaran dan disangkal dalam penghayatan?
Meskipun kejujuran adalah kebenaran dan keutamaan, banyak orang tidak memilihnya. Ada beberapa alasan yang bisa dikemukakan.
Pertama, kejujuran adalah keutamaan yang tidak populer. Kejujuran adalah cara hidup yang benar, tetapi tidak dihayati oleh banyak orang. Hanya sedikit saja orang yang berpihak kepada kejujuran karena hidup jujur membawa konsekuensi yang sulit dalam hidup bersama. Karena alasan hidup jujur, orang bisa dikucilkan oleh sesamanya, disingkirkan orang-orang di sekitarnya, dan dibenci karena alasan ia jujur. Aneh, mestinya orang yang melakukan keutamaan itu disukai, tetapi kenyataannya, orang yang melakukan kejujuran dibenci. Kejujuran menjadi keutamaan yang tidak populer karena banyak orang berpihak pada ketidakjujuran. Karena itu, kejujuran tidak banyak penggemar dalam hidup kita. Sebaliknya, ketidakjujuran mempunyai banyak penggemar dalam hidup kita.
Kedua, kejujuran adalah keutamaan yang tidak memberikan keuntungan. Dalam masyarakat, banyak orang meyakini bahwa hidup jujur adalah hidup yang tidak menguntungkan. Dalam urusan kerja, ketika orang rajin bekerja sebagai penghayatan kejujuran waktu kerja, justru orang di sekitarnya tidak menyukai; orang yang jujur tidak diterima dalam lingkungan sosialnya. Kebanyakan orang tidak menghayati rajin bekerja. Pada saat itulah, mereka menyetujui orang yang juga tidak rajin bekerja sebagai perwujudan “solidaritas palsu”.
Dengan ini, orang yang sama-sama tidak jujur akan diterima oleh lingkungan sosialnya. Dalam hal ini, ketidakjujuran mendatangkan keuntungan hidup bersama (keuntungan sosial). Biasanya, orang yang jujur dalam masyarakat akan dikucilkan. Apalagi bila dalam lingkungan sosial tersebut, semua orang tidak jujur. Akibatnya, orang yang jujur akan mengalami tekanan sosial.
Lebih dari itu, orang yang jujur akan diintimidasi supaya orang jujur menjadi tidak jujur. Bisa terjadi, orang yang jujur akan diteror supaya ia membatalkan sikap jujurnya. Ada penderitaan batin bagi orang yang jujur menghadapi “persekongkolan dalam kejahatan”. Dalam hal ini, justru orang yang tidak jujur tidak dikucilkan, diintimidasi, dan diteror oleh orang-orang di sekitarnya.
Orang yang tidak jujur justru tidak mengalami penderitaan batin karena ada “persekongkolan dalam kejahatan”. Karena itu, justru ketidakjujuran mendatangkan keuntungan batin (keuntungan psikologis). Semakin terasa, kejujuran tidak menguntungkan hal ekonomis. Semua orang butuh uang. Ketika ada uang untuk kepentingan umum dalam sebuah instansi, sikap jujur menjadi tidak mujur.
Jika sebagian besar orang bersekongkol “bagi-bagi rejeki”, sementara orang jujur tidak mau ambil bagian; akibatnya, orang jujur tidak memperoleh apa-apa dan dibenci sesamanya. Sebaliknya, orang yang tidak jujur diterima sesamanya dan mendapatkan keuntungan “bagi-bagi rejeki”. Karena itu, ketidakjujuran mendatangkan bagi-bagi rejeki tambahan (keuntungan ekonomis)
Ketiga, kejujuran adalah keutamaan yang menakutkan. Pertama-tama, ketakutan muncul dari hati yang tidak tulus. Padahal, ketulusan hati tampak dalam sikap menerima. Orang yang tulus hati selalu siap menerima apa yang terjadi padanya dan apa yang diberikan kepadanya.
Selanjutnya orang yang tulus hatinya tidak menuntut. Hatinya selalu diwarnai keyakinan bahwa hidup adalah anugerah. Apa yang ada pada dirinya adalah apa yang terberi. Sebaliknya, hati yang tidak tulus tampak dalam sikap menuntut.
Orang yang tidak tulus suka menuntut orang lain dan keadaan. Lebih daripada itu, orang yang tidak tulus mempunyai sikap munafik yang berwajah dua: di depan baik dan di belakang jahat. Orang tidak tulus takut akan kejujuran. Pikirnya, kalau orang jujur maka hidupnya akan hancur. Menurutnya, kejujuran itu tidak membawa kemujuran; sebaliknya kejujuran itu membawa kehancuran. Hal ini adalah pikiran orang yang takut akan kejujuran dan juga akan kebenaran.
Pada umumnya kejujuran menjauhkan dari jaminan hidup. Hal ini ditegaskan ungkapan Latin, “Repente dives nemo factus est bonus” (Publilius Syrus). Artinya, “Tidak ada seorang jujur yang mendadak menjadi kaya”.
Justru orang jujur tidak menjadi kaya, karena orang jujur tidak mau disuap dan tidak mau korupsi. Orang jujur tidak bisa kaya mendadak. Kalaupun orang jujur kaya, kekayaannya tidak bisa mendadak. Orang jujur seringkali hidupnya biasa-biasa saja, bahkan orang jujur seringkali tidak memiliki apa-apa. Kalau orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya, sikap jujur tidak bisa membantu dengan baik bahkan justru menghambatnya. Berkaitan dengan hal ini, kejujuran dikatakan, “Probitas laudatur et alget” (Juvenalis 1,74).
Artinya, “Kejujuran itu dipuji-puji dan sementara itu ia mati karena kedinginan”. Artinya, kita memang mengakui kejujuran sebagai keutamaan, tetapi keutamaan kejujuran itu seringkali tidak menarik karena kejujuran itu sangat beresiko dalam menghayatinya. Apakah dengan demikian kejujuran sudah tidak punya nilai lagi?
Kejujuran sebagai Kemujuran
Untuk meyakini bahwa kejujuran itu bukan kehancuran, kita perlu memahami “nilai kejujuran” dan “penyebab ketidakjujuran”. Dengan kata lain, jika kita ingin meyakini bahwa kejujuran adalah kemujuran, ada dua sisi yang harus kita pahami. Di satu pihak, kita perlu memahami “nilai kejujuran” dalam hidup kita. Di lain pihak, kita perlu memahami “penyebab ketidakjujuran” dalam hidup kita.
Pertama-tama, nilai kejujuran berkaitan dengan hidup yang original. Orang yang melakukan kejujuran sedang menghayati hidup yang asli. Hidup yang asli adalah hidup yang sesuai dengan kebenaran, sesuai dengan kenyataan, dan sesuai dengan fakta (adherence to the facts). Dalam kejujuran, tidak ada yang dibuat-buat, tidak ada kemunafikan, dan tidak ada udang di balik batu.
Orang jujur hidupnya sesuai dengan suara hatinya. Karena itu, nilai kejujuran berkaitan dengan hidup yang sesuai dengan suara hati. Orang yang jujur menghayati suara hatinya dan tidak mengkhianati suara hatinya. Karena orang jujur tidak mengkhianati suara hatinya, maka hidupnya tidak menipu diri sendiri. Karena orang jujur tidak menipu dirinya sendiri, maka hatinya bebas dari beban rasa bersalah. Karena orang jujur bebas dari beban rasa bersalah, maka jiwanya merdeka dan hidupnya bahagia. Dengan ini, nilai kejujuran berarti kesesuaian antara dimensi internal dan eksternal dalam kepribadian seseorang.
Orang jujur memiliki kesesuaian antara penghayatan dan pengungkapannya. Dalam diri orang jujur, ada kesesuaian antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Prinsip kesesuaian ini merupakan perwujudan dari kebenaran yang adalah keterusterangan perilaku (straightforwardness of conduct). Injil menegaskan kebenaran ini, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:37).
Memahami nilai kejujuran belum cukup untuk meyakini kejujuran sebagai kemujuran. Kita perlu memahami tentang “kekeliruan berpikir” yang menyebabkan orang tidak jujur. Pertama, kita keliru berpikir tentang hidup. Kebanyakan orang berpikir bahwa hidup identik dengan kenyamanan. Hidup dihayati dan diperjuangkan untuk sebuah kenyamanan. Padahal, hidup jujur sering melawan zona kenyamanan. Hidup jujur membuat zona nyaman seseorang terusik, terganggu, dan bahkan terancam. Orang yang jujur selalu menghadapi tantangan. Jika orang menghayati hidup sebagai tantangan, maka kejujuran cocok untuk dihidupi.
Kedua, kita keliru berpikir tentang kebahagiaan. Kebahagiaan sering disamakan dengan kekayaan, kekuasaan, dan kesuksesan. Jika kita menghayati hidup seperti ini, kita akan cenderung tidak jujur. Dalam dunia ini, kekayaan perlu direbut, kekuasaan berada dalam persaingan, kesuksesan berhadapan dengan kelicikan. Berhadapan dengan situasi ini, sikap jujur sering tidak cocok dengan konsep kebahagiaan duniawi.
Kebahagiaan ini diwarnai dengan tindakan saling berebut, saling bersaing, dan sikap licik yang di dalamnya sikap tidak jujur tumbuh subur. Padahal, kebahagiaan sejati itu soal hidup batin. Kebahagiaan itu berasal dari batin yang damai. Justru ketika orang berlomba mencari kekayaan, kekuasaan, dan kesuksesan, batinnya tidak damai dan hidupnya tidak bahagia. Jika orang meyakini bahwa kebahagiaan itu berurusan dengan pengalaman batin, maka kejujuran mempunyai tempat untuk bertumbuh.
Ketiga, kita keliru berpikir tentang panggilan. Jika orang paham tentang panggilan, maka ia akan jujur dengan dirinya. Sebaliknya, jika orang tidak paham tentang panggilannya, maka ia akan tidak jujur dengan dirinya dan menipu panggilannya. Inilah kekeliruan tentang panggilan, yaitu panggilan sebagai status yang menyatakan status panggilan kaum berjubah lebih tinggi dari kaum awam. Apalagi menjadi lebih keliru ketika orang meyakini bahwa kaum berjubah mempunyai status sosial lebih tinggi, dihargai di mana-mana, dan hidupnya terjamin.
Panggilan sejati bukan soal status, penghargaan, dan keterjaminan. Kalau pun itu ada, itu bukan tujuan, tetapi efek saja. Panggilan adalah kehendak Allah untuk menjadi saksi Kristus baik sebagai orang yang melayani Gereja (kaum berjubah) dan melayani dunia (kaum awam).
Baik kaum berjubah dan kaum awam mempunyai martabat yang sama dan sejajar: sama karena keduanya dapat mencapai kesucian, jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan sejajar karena tidak ada yang lebih penting, keduanya penting. Kekeliruan panggilan dimulai dari pandangan sosial. Karena itu, kekeliruan tentang panggilan mesti dikembalikan kepada ajaran Gereja dan iman.
Kalau kita meyakini nilai kejujuran dan memahami kekeliruan berpikir kita, ada semangat “Et decus et pretium recti” (Latin). Artinya, kita pun mulai meyakini ada “keindahan dan nilai kejujuran”. Bagaimanapun kejujuran adalah keutamaan yang tidak akan hilang keunggulannya sekalipun mentalitas dunia berubah. Jika demikian, kejujuran tetaplah sebuah kemujuran, bukan kehancuran. **
Pematangsiantar, 07 April 2020
Tantum Amor Dei – P. Leo Agung Srie Gunawan SCJ
