Kesetiaan manusia itu bersumber dari kesetiaan Tuhan sendiri. Bahkan Tuhan telah lebih dahulu setia kepada ciptaanNya.
Sewaktu berkunjung ke Jepang, seseorang sempat berfoto di depan patung Hatchiko di Stasiun Shibuya, Tokyo. Hatchiko adalah seekor anjing yang sangat setia. Menurut cerita, setiap hari ia selalu mengantar dan menjemput tuannya di Stasiun Shibuya.
Suatu hari tuannya meninggal dunia di kantor. Hatchiko tetap menunggu tuannya di stasiun ini. Selama hidup di stasiun itu, banyak orang memberi perhatian kepadanya. Meski begitu, tidak ada yang berkenan di hatinya. Dia mau makan makanan yang diberikan, tetapi dia tetap sayang terhadap tuannya.
Hatchiko kemudian mati. Dia dia tidak pernah melihat tuannya lagi. Patung Hatchiko didirikan sebagai lambang kesetiaan.

Berani Setia
Dalam hidup ini kesetiaan merupakan suatu keniscayaan. Artinya, kesetiaan itu menjadi tuntutan bagi setiap orang untuk menjalani atau menghidupinya. Tanpa kesetiaan hidup hanyalah dijalani dengan penuh kecurigaan. Tidak ada orang yang mampu meraih kebahagiaan tanpa kesetiaan.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani setia dalam hidup ini meski ada berbagai tantangan yang melintang pukang dalam hidup ini. Hatchiko berusaha setia kepada tuannya. Tentu saja hal ini didasari oleh perhatian dan cinta tuannya terhadap dirinya. Meski tuannya sudah meninggal, dia tetap setia terhadap tuannya.
Banyak pasangan suami istri mesti mengakhiri cinta mereka di tengah perjalanan, karena kurangnya kesetiaan. Mereka kemudian berpisah. Mereka hidup sendiri-sendiri. Mereka berpikir, mereka akan mengalami sukacita dan bahagia dengan cara hidup demikian. Sebenarnya tidak terjadi kebahagiaan. Yang terjadi adalah hidup yang penuh duka nestapa. Hidup yang dipenuhi egoisme.
Mari kita berusaha untuk setia satu sama lain demi hidup yang bahagia. Dasar kesetiaan kita adalah Tuhan yang lebih dahulu setia kepada kita. Untuk itu, kita mesti menyandarkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
