Misteri Sakramen Mahakudus (17)

Sukacita dalam Cinta

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Kalau aku memiliki-Mu, Tuhan

Aku tidak menginginkan apa-apa lagi,

Karena bagiku Engkau saja cukup!”

(St.Teresia Avila)

Sakramen Mahakudus | Foto: https://id.pinterest.com/

Sharing Iman

Jiwa yang penuh kasih akan menemukan sukacita yang luar biasa, bila tinggal bersama yang dikasihinya. Bila kita mencintai Yesus, kita akan tinggal Bersama-Nya dan itu menimbulkan sukacita. Yesus ada dalam Sakramen Mahakudus yang melihat dan mendengarkan kita. Bisakah kita mengatakan bahwa kita tidak memperoleh apa-apa bila kita berdevosi kepada-Nya?

Marilah kita menikmati kebersamaan dengan-Nya; mari kita bersukacita dalam kemuliaan-Nya dan dalam kasih-Nya. Banyak jiwa dilahirkan kembali melalui Sakramen Mahakudus. Mari kita menanamkan kerinduan untuk mencintai Yesus di dalam sakramen dan mempersembahkan hati yang bersikap tidak hormat kepada-Nya; atau paling tidak mempersembahkan kasih sayang kita kepada-Nya. Yesus kita jadikan pusat cinta dan keinginan kita.

Pastor Salesius SJ merasa terhibur hanya kalau diajak bicara tentang Sakramen Mahakudus; ia senantiasa merasa “kurang” berkunjung kepada Sakramen Mahakudus, padahal setiap ada waktu, ia pasti menggunakannya untuk berdoa di depan-Nya.

Misalnya, jika ia ada tamu dan setelah tamunya pulang, dia pasti mampir ke ruang doa untuk menyembah Sakramen Mahakudus, sebelum memasuki kamar pribadinya. Apalagi bila pulang dari bepergian, dia berlama-lama berdoa di depan Sakramen Mahakudus seperti seorang sahabat yang baru saja pergi jauh; ada rasa kangen yang mendalam.

Bila satu jam saja dia tidak mengunjungi Sakramen Mahakudus, dia merasa gelisah, tidak tenang; rasanya ada yang menantikannya dan diingatkan untuk segera datang. Sepanjang hidup sampai setelah matinya dia dikenal sebagai orang yang mewariskan  kebenaran bahwa Allah hadir secara real dalam Sakramen Mahakudus.

Kerinduan Jiwa

Betapa bahagianya aku menyandang predikat “orang yang setia berdevosi kepada Sakramen Mahakudus” – di mana Yesusku menyentuh hatiku dengan sangat ramah; di mana Ia telah melahirkan aku menjadi manusia baru dengan kelembutan hati-Nya.

Tuhanku, Engkau telah banyak memberi mukjizat melalui Sakramen Mahakudus, dan aku rindu Engkau juga memberikannya kepadaku. Tariklah seluruh diriku hanya kepada-Mu! Engkau sungguh menginginkan diriku hanya untuk-Mu, dan Engkau memberi rahmat agar aku layak berbuat demikian itu.

Anugerahilah aku kekuatan untuk mencintai-Mu dengan seluruh jiwaku. Ambillah dan berikanlah semua harta bendaku kepada siapa pun yang Engkau kehendaki. Sungguh aku ingin meninggalkan semua itu demi cintaku pada-Mu.

Aku hanya ingin memandang dan merindukan kasih-Mu saja; dengan demikian aku akan senantiasa mencari-Mu dan terus menghadap-Mu. Aku mengasihi-Mu, Yesusku; anugerailah aku rahmat untuk selalu mencintai-Mu dan itu cukup bagiku.

Yesusku, aku rindu sungguh-sungguh mencintai-Mu!

Visitasi kepada Bunda Maria

Ratuku yang terkasih bagaimana, engkau membantuku agar aku menyebut namamu: “Bunda yang penuh keramahan!”

Oh, bundaku, engkau sungguh ramah dan tulus. Kecantikanmu telah mempesona Tuhanmu sendiri seperti kata pemazmur: Sang Baginda menginginkan kecantikanmu (Mzm 44:12). St. Bernardus mengatakan bahwa namamu sungguh berkumandang untuk semua orang yang mencintaimu.

Ketika engkau melihat ada hati yang terbakar merindukanmu, engkau segera merangkulnya. Oh betapa manis dan mengagumkan keramahanmu, Bunda! Engkau senantiasa disebut oleh mereka yang mencintaimu walau terkadang tidak ajek dan kurang bergairah. Adalah masuk akal bila aku sungguh mencintaimu, oh ibuku.

Tetapi saya tidak puas hanya dengan mencintaimu saja, aku ingin di bumi ini dan di surga nanti menjadi pencinta Allah yang benar. Jika kerinduanku terlaksana namamulah yang membuatnya dan karena engkau telah menunjukkan kebaikan hati kepadaku.

Jika engkau kurang mencintaiku tentu aku tidak mampu mencintai Allah dan dirimu. Maka terimalah kerinduanku ya Bunda dan letakkan itu dalam kasih Tuhanku yang telah engkau lahirkan. Oh, ibuku yang baik hati, aku sangat mengasihimu. Amin. **

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.