Kongregasi SCJ Berkarya Parokial di KAM

Jauh sebelum berkarya parokial di Keuskupan Agung Medan (KAM), sebenarnya SCJ telah menanggapi permintaan Uskup Palembang untuk ikut berkarya di KAM. Di sana kami ditawarkan untuk terlibat dalam proses pendidikan calon imam diosesan di Seminari Tinggi Santo Yohanes Pematangsiantar. Ini adalah seminari yang didirikan, untuk formatio imam diosesan Regio Sumatera. Telah terlibat 2 anggota SCJ sebagai dosen dan formator, yaitu Romo F.X. Marmidi SCJ dan Rm Leo Agung Sri Gunawan SCJ.

Dalam perkembanganya, atas undangan Uskup Agung KAM, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap., Kongregasi SCJ menerima dengan sukacita, undangan dalam karya parokial di KAM. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya Bapak Uskup Agung Medan mempercayakan Stasi Termin untuk dijadikan lahan karya pastoral bagi SCJ.

Sekilas Sejarah Paroki Termin

Termin sebagai tempat pelayanan Gereja dimulai tahun 1957, ketika ada 10 keluarga Katolik yang menjadi bagian dari gereja di Jalan Sibolga. Karena kesulitan untuk selalu ikut perayaan Misa Kudus, maka 10 keluarga itu mulai mengadakan ibadah bersama. Tempat peribadatan sempat berpindah-pindah.

Pada tahun 1965, umat beribadat di sekolahan SDRK-4 yang baru selesai dibangun. Pada saat itu jumlah umat ada 60 KK. Pada tahun 1975, umat bersama pastor membeli lahan untuk gereja di Jalan Pdt Sihombing dan segera memulai pembangunan gedung gereja.

Gereja itu diresmikan 7 Oktober 1978 oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFM Cap. Sejak saat itu pelayanan pastoral berjalan dengan baik dan lancer, dilayani dari Biara Kapusin yang berada di Jalan Medan.

Setelah melihat perkembangan yang ada maka sejak tahun 1998, Stasi Termin menjadi pusat paroki St. Petrus dan Paulus, kendati pastor paroki tetap berdomisili di Jalan Medan. Perjalanan Paroki St. Petrus dan Paulus semakin mendapatkan bentuknya Ketika RP Markus Manurung OFM Cap. menjadi pastor paroki. Beliau menata program kerja dan sistem yang dikembangkan di paroki ini.

Pada masa itu, diusulkan pembangunan Gereja St. Joseph Batulima sebagai pusat paroki St Petrus dan Paulus. Ada dua hal yang menjadi pertimbangan utama tentang pemindahan pusat paroki ini. Pertama, pusat paroki dipindahkan ke Batulima, karena tidak tersedia lahan yang cukup untuk memperkembangkan paroki. Kedua, Termin diproyeksikan menjadi paroki baru di kemudian hari. Dengan kata lain, secara prinsip, pendirian Paroki Termin telah disetujui oleh Uskup Agung Medan saat itu.

Romo Kusmaryadi, (kiri) bersama dengan Mgr. Kornelius dan Pastor Theodorus Sitinjak OFM Cap. (Pastor paroki St. Petrus dan Paulus, paroki induk dari Stasi Termin) | Foto: dokumentasi pribadi Romo Kusmaryadi SCJ

Kemudian proses pembangunan Gereja di Batulima dimulai dan akhirnya diresmikan oleh Uskup Agung Medan tanggal 5 Juli 2009. Pada masa RP Fridolinus Simanjorang OFM Cap., pastoran baru dibangun. Pembangunan pastoran baru itu diikuti program khusus, yakni Termin dipersiapkan menjadi paroki. Rencana itu langsung ditanggapi, dengan dimulainya mengumpulkan dana pembangunan melalui kolekte ke-3 sejak tahun 2013. Pada tahun 2015 pusat paroki secara resmi dipindahkan ke Jalan Asakan Batulima. Dengan demikian, Termin kembali menjadi stasi dari paroki St Petrus dan Paulus.

Sebagai salah satu wujud persiapan pendirian paroki, dibangunlah gedung gereja baru. Gereja dibangun dari Januari 1917 hingga Desember 2019. Gedung gereja yang baru diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr Kornelius Sipayung OFMCap tanggal 11 Januari 2020 dan diresmikan penggunaanya oleh Walikota Pematangsiantar sehari kemudian. Suara mengenai pendirian paroki digelorakan dan dijanjikan oleh Bapa Uskup saat pemberkatan gereja bahwa, jika umat berkembang dengan baik dan bisa membali tanah di samping gereja, maka pendirian paroki baru bisa dilakukan segera, “Sada Hamu, Asa Gabe Paroki.”

Setelah melalui proses assessment yang diperlukan, pada tanggal 29 Oktober 2022 Bapak Uskup Agung Medan menyampaikan pengumunan mengenai pendirian paroki baru, yakni Termin dengan nama pelindung St. Maria Ratu Rosario.

Secara geografis, Paroki Termin berada di dalam Kota Administratif Pematangsiantar dengan beberapa wilayah di Kabupaten Simalungun. Secara geopolitik, paroki ini melayani wilayah 5 kelurahan Siopat Suhu, Merdeka, Pardomuan, Asuhan dan Pahlawan dengan total wilayah 323,5 Kilometer per segi. Secara gerejani, wilayah Paroki Termin berbatasan dengan wilayah beberapa paroki seperti paroki Jalan Medan, Batulima, Jalan Sibolga dan wilayah Stasi Martoba. Paroki ini adalah “paroki kota” tanpa stasi dan memiliki umat berjumlah 516 KK.

(Kiri-Kanan: Romo Marmidi SCJ, Romo Andreas Suparman SCJ Provinsial SCJ Indonesia, Mgr. Kornelius, Romo Kusmaryadi SCJ, Romo Kusmaryanto SCJ | Foto: dokumentasi pribadi Romo Kusmaryadi SCJ

Kehadiran SCJ di Termin

Kehadiran SCJ di KAM untuk berkarya di paroki adalah atas undangan Bapak Uskup Agung Medan. Undangan tersebut sangat berkaitan dengan kehadiran dua anggota SCJ, yang telah lebih dahulu masuk ke KAM sebagai formator di Seminari Tinggi Diosesan Sumatera dan dosen pada STFT Santo Yohanes Pematangsiantar. Demi hidup komunitas para dosen-formator itu, maka Bapa Uskup menyerahkan pelayanan Paroki St. Perawan Maria Ratu Rosario Termin (yang semula adalah bagian (stasi) dari paroki St Petrus dan Paulus Jalan Asahan Batulima) kepada SCJ. Diharapkan para anggota SCJ yang menjadi dosen-formator di Seminari Pematangsiantar, bisa mengembangkan dan menjalankan hidup berkomunitas di Pastoran SCJ Termin.

Kaitan antara paroki Termin, SCJ, dan STFT Pematangsiantar sangat jelas dinyatakan dalam konsideran pengangkatan Pastor Paroki Termin. “Bahwa ada 2 imam Kongregasi SCJ menjadi dosen di STFT Santo Yohanes, Pematangsiantar, maka layak dipercayakan satu paroki di wilayah Pematangsiantar, supaya bisa membentuk komunitas bersama dengan imam yang berkarya di paroki.” Lebih lanjut dalam pertimbangan lainya dinyatakan “Paroki Santa Perawan Maria, Termin, Pematangsiantar akan dipercayakan kepada Kongregasi SCJ selama ada dosen di STFT Santo Yohanes dari Kongregasi SCJ.” 

Setelah dengan resmi dinyatakan Pendirian Paroki baru St. Perawan Maria Ratu Rosario dan pengangkatan pastor paroki, maka tugas pelayanan paroki baru oleh SCJ dimulai. Hal yang menjadi tantangan yang menggembirakan adalah bagaimana bisa memulai dan mengembangkan pelayanan kegembalaan yang efesien dan efektif sehingga menghasilkan buah yang melimpah. Ada banyak hal yang perlu direncanakan, dibicarakan, dan dilaksanakan bersama-sama sebagai suatu gerakan bersama sebuah Gereja (umat Allah) yang berziarah bersama-sama.

Berkaitan dengan hal di atas, harapan dan kerinduan Bapak Uskup dan Keuskupan Agung Medan perlu secara jelas menjadi pedoman untuk menentukan arah. Secara khusus, ada suatu harapan dan arah khusus terhadap paroki Santa Perawan Maria Ratu Rosario, di mana dinyatakan secara tegas dan muncul dalam isi keputusan pertama (dari 12 point keputusan), “Paroki Termin, Pematangsiantar, sebagai paroki yang memajukan pastoral buruh, karyawan dan pastoral keluarga dengan pelayanan khasnya tanpa stasi…” Ketetapan itu adalah hal yang sangat strategis, mengingat satu-satunya pabrik berskala besar di wilayah Kota Pematangsiantar ada dalam wilayah teritorial paroki Termin.

Sebenarnya juga patut dipertimbangkan bagaimana reksa pastoral kaum muda, khususnya Mahasiswa, juga mendapatkan perhatian karena ada cukup banyak Universitas dan Perguruan Tinggi di Pematangsiantar. Salah satu universitas yang besar adalah Universitas Nomensen yang berada dalam teritori Paroki St. Perawan Maria Ratu Rosario Termin. Dari sumber lisan ada yang memperkirakan bahwa jumlah mahasiswa Katolik yang berada di universitas tersebut berkisar 15-20%.

Manortor, tarian adat Batak, menyambut kehadiran karya parokial SCJ di Keuskupan Agung Medan | Foto: dokumentasi pribadi Romo Kusmaryadi SCJ

Budaya Baru

Hal yang langsung terasa ketika sampai di Pematangsiantar adalah perjumpaan dengan budaya yang baru, yang berbeda dengan yang saya alami sebelumnya yakni Yogyakarta. Perbedaan itu di satu pihak memunculkan kekaguman akan realitas budaya yang sangat kaya di Indonesia. Namun di lain pihak, hal itu menjadi tantangan tersendiri karena hidup dan menyelami budaya yang berbeda tidak selalu mudah.

Di daerah Paroki Termin (dan Pematangsiantar pada umumnya) Bahasa Batak Toba menjadi Bahasa yang dipakai secara luas. Namun benar bahwa semua pelayanan Gereja telah memakai Bahasa Indonesia.

Berkaitan dengan hal itu, saya sangat bersyukur bahwa kita memiliki bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia, di mana bahasa itu dipakai oleh hampir semua rakyat Indonesia. Sangat jelas terasa pengaruh budaya itu dalam Gereja Katolik. Hal itu menantang saya untuk pertama-tama memahami budaya dan perlahan-lahan belajar Bahasa Batak Toba.

Saya yakin bahwa kesabaran, ketekunan, dan keterbukaan akan sangat membantu memahami umat dan pada akhirnya dapat mendukung usaha melayani dengan efektif dan efisien. Secara pribadi, saya merasa beruntung, bahwa di masa lampau saya telah mengalami beberapa kali hidup di tengah umat dan masyarakat yang sungguh berbeda dari budaya asli saya sebagai PUJAKESUMA (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Yang juga sangat terasa adalah antusiasme umat dalam hidup menggereja, yang barangkali juga disebabkan karena telah ditingkatkannya status gereja Stasi Termin menjadi Gereja Paroki. Dari kesaksian berbagai sumber menjadi jelas bahwa potensi umat Termin cukup besar, sehingga (setelah melalui assessment) Stasi Termin ini layak ditingkatkan menjadi paroki. Tentu hal itu dapat menjadi modal awal yang baik untuk mulai membentuk, menjaga, dan memperkembangkan paroki baru ini.

Semoga dalam kebersamaan dan penuh persaudaraan, kami (imam dan umat) dapat mengembangkan paroki ini dengan baik, efektif, dan efisien. Sebagai SCJ tentu saja ke-SCJ-an akan mewarnai pelayanan. Hal itu sesuai dengan konvensi yang telah disetujui antara SCJ dan keuskupan (di antaranya) bahwa Kongregasi SCJ mendapatkan kesempatan luas untuk memperkembangkan spiritualitasnya.

Imam: Sahabat sepeziarahan umat dan masyarakat menuju Allah, yang dahulu saya pilih menjadi motto tahbisan imam, mudah-mudahan membantu saya dalam melayani dan memimpin paroki baru ini, sehingga bisa memperkembangkanya sesuai dengan kehendak Tuhan.

Saya terngiang akan apa yang pernah saya baca dalam sebuah buku “For you I am a priest and with you I am a disciple. (Bagimu saya seorang imam bersamamu saya seorang murid). Kata-kata itulah yang sekarang ini saya hayati dan tujukan untuk umat yang saya layani. **

F.X. Kusmaryadi SCJ

One thought on “Kongregasi SCJ Berkarya Parokial di KAM

  1. Selamat berkarya di Paroki Baru Termin ini ya Romo.Semoga sukses selalu dalam tugas perutusannya di Sumatera ini..
    God bless you Father…..??

Leave a Reply

Your email address will not be published.