Asal Usul Pemakaian Abu dalam Gereja Katolik

Rabu Abu. Kita pasti sudah tahu tentang hari itu. Tapi, tahukah kamu tentang asal usul pemakaian abu dalam Gereja Katolik?

Tradisi penggunaan abu dalam Liturgi Gereja Katolik merupakan warisan dari Tradisi Yahudi. Karena itu, yuk, kita lihat makna abu dalam tradisi mereka!

Orang mengenakan pakaian kasar dan menaburi diri dengan abu tanda pertobatan | Foto: https://soul-candy.info/

Abu diterjemahkan dari Bahasa Ibrani, א״ש (read: efer). Ternyata, jika kita membaca Kitab Suci, abu menyimbolkan banyak hal. Misalnya, ketidakberartian dan kehampaan diri atau kata-kata (lih. Kejadian 18:27; Yesaya 44:20; Ayub 1:20; 30:19), kesedihan, penyesalan dan pertobatan (lih. Ester 4:1, 3; Mazmur 102:10), maupun pentahiran diri (lih.Bilangan 19:17).

Nah, orang Yahudi mengekspresikan rasa-rasa itu dengan menaruh abu di kepala,

“Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut Tuhan hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.” (Yosua 7:6)

berguling-guling di atas abu,

“Hai puteri bangsaku, kenakanlah kain kabung, dan berguling-gulinglah dalam debu! Berkabunglah seperti menangisi seorang anak tunggal, merataplah dengan pahit pedih! Sebab sekonyong-konyong akan datang si pembinasa menyerangmu.” (Yeremia 6:26)

ada juga yang sampai memakan abu.

“Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” (Mazmur 102:10)

Tuhan membentuk manusia dengan debu dan tanah

Bahkan, dalam Kitab Kejadian, dilukiskan kalau kita, manusia, diciptakan dari debu dan tanah. Di akhir hidup kita di dunia ini, kita akan kembali menjadi debu.

“Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19).

Then, apa makna penggunaan abu dalam liturgi kita? Di zaman Kristen perdana, seorang bapa Gereja Bernama Tertullian (sekitar 160-220) menetapkan bahwa seorang yang berdosa harus “hidup tanpa kegembiraan dalam kain kabung yang kasar dan kemelaratan abu” (De Pœnitentiâ 10). Dan masih banyak lagi ajaran-ajaran yang serupa. Maka penggunaan abu dalam Gereja kita bermakna pertobatan, juga penyadaran untuk diri kita, bahwa kita ini makhluk yang lemah.

Abu ditaburkan di atas kepala simbol pertobatan

Hari di mana dahi kita diolesi abu dinamakan dies cinerum atau hari abu. Tradisi ini sudah dilakukan sejak abad kedelapan. Dulu, pada hari abu, umat mendekati Altar sebelum Misa dimulai, imam mencelupkan ibu jarinya ke dalam abu yang sebelumnya diberkati, menandai dahi dengan Tanda Salib, mengucapkan kata-kata: “Ingatlah manusia bahwa engkau adalah debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Di sini, abu yang dipakai berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya. Abu daun palma ini ditaburi air suci dan didupai.

Tradisi ini disahkan dalam Konsili Benevento tahun 1091. Maka, sejak abad ke-11, penerimaan abu di dahi, di hari pertama prapaskah dilakukan hingga sekarang ini.

Menariknya, pada awal-awal praktik ini, penempatan debu pada pria dan wanita berbeda.  Abu ditaburkan di atas kepala pria, sedangkan wanita menerima abu di dahi. Namun sekarang, semuanya diseragamkan, baik pria maupun wanita, menerima abu yang berbentuk tanda salib di dahi.

Begitulah asal usul, mengapa abu dipakai dalam Liturgi Gereja Katolik. **Kristiana Rinawati (dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published.