Pada sidang sinode kontinental yang saat ini berlangsung di Addis Ababa, Ethiopia, para delegasi mengungkapkan penghargaan mereka atas pengalaman proses sinode sejak dimulai pada Oktober 2021.
Dibagi menjadi sepuluh kelompok, para kardinal, uskup, imam, biarawan dan biarawati, kaum awam dan pemuda dari seluruh Afrika bergiliran berbagi tentang apa yang telah mereka alami dan pelajari dalam satu setengah tahun terakhir dari proses sinode.
“Sinodalitas disambut baik oleh Gereja di Afrika karena itu telah menjadi bagian dari cara kami melakukan sesuatu di Afrika. Satu-satunya kekuatiran adalah bahwa ada beberapa ide aneh yang dijajakan melalui Sinode,” ungkap salah satu kelompok dari negara Anglophone.
Inklusivitas dan Konversi
Sekaligus apresiasi disampaikan bahwa proses sinode telah mendorong inklusivitas sebagai jalan menuju Gereja di masa depan. Kelompok Anglophone yang sama mengatakan, ”Kami merasa bahwa Gereja perlu melibatkan mereka yang merasa terabaikan, terutama para wanita, pemuda dan penyandang disabilitas. Kami juga menyadari bahwa kami telah kehilangan banyak orang Kristen karena gerakan Pentakosta dan ATR: ada perlunya introspeksi terhadap fenomena ini.”
“Proses Sinode adalah latihan inklusi yang baik yang harus didorong dengan rasa pertobatan. Misalnya, kami merasa dalam proses bahwa Roh Kudus mengundang kami untuk berjalan bersama sebagai Gereja di Afrika — kaum muda, wanita, orang cacat. Juga, tentang kepemilikan Gereja, sinode telah menggarisbawahi fakta bahwa Gereja adalah milik kita semua. Oleh karena itu, kaum awam memikul tanggung jawab, mereka bebas berinisiatif untuk memajukan Gereja. Jelas, kami mencatat bahwa ini adalah proses yang berkelanjutan tetapi harus menjadi cara menjadi Gereja di Afrika,” ungkap dua kelompok berbahasa Inggris lainnya.
Model yang Lebih Partisipatif dan Mendengarkan
Di pihak kelompok berbahasa Prancis, para delegasi menunjuk pada struktur piramida Gereja sebagai sesuatu yang harus digantikan oleh model Gereja yang baru dan lebih partisipatif dan mendengarkan.
“Proses sinodal harus dirangkul sebagai gaya hidup Gereja. Keterlibatan umat beriman adalah suatu keharusan. Kerangka proses sinode memanggil kita semua untuk menjadi misionaris, yang menuntut pertanggungjawaban atas misi yang diberikan kepada kita,” satu kelompok melaporkan.
Kelompok lain mengatakan, “Sinodalitas adalah corak Gereja yang juga dapat melahirkan proses rekonsiliasi. Struktur Gereja seperti itu hanya dapat ditingkatkan dengan semangat sinodalitas dan membuka akses ke Sakramen bagi umat Kristiani yang terhalang untuk menerima Sakramen seperti Pembaptisan dan Komunio.”
Peran Perempuan dan Pemuda
Para delegasi juga mengatakan serempak bahwa sinode telah mengungkapkan beberapa wawasan tentang peran perempuan dan kaum muda dalam Gereja masa depan.
“Wanita adalah anggota kunci Gereja; ada banyak kelompok wanita yang tertinggal dan perlu diizinkan untuk membagikan karunia mereka dalam Gereja dan masyarakat. Juga, para remaja mengenali Gereja sebagai sumber harapan. Mereka meminta diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri; mereka tidak boleh diam terhadap kekuatan negatif yang mempengaruhi hidup mereka.”

Setiap Orang Memiliki Sesuatu untuk Ditawarkan
Aspek-aspek lain yang telah terungkap oleh pengalaman sinode di Afrika termasuk tuntutan untuk mempromosikan spiritualitas persekutuan, konversi struktur Gereja melalui SCC dan gerakan Kristen yang akan meningkatkan rasa memiliki dan kepemilikan, sehingga mengatasi risiko klerikalisme.
“Semua ini membutuhkan katekese baru,” para delegasi menggarisbawahi ketika mereka mengakui bahwa melakukan perjalanan bersama, meskipun penting, juga sulit dan “memerlukan kesabaran karena ini berarti menghasilkan reformasi,” kelompok lain menyampaikan. Mereka menambahkan, “Setiap orang memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada Gereja dan bahwa sinodalitas menuntut komunikasi terus-menerus, mendengarkan satu sama lain dan umat awam memenuhi tanggung jawab mereka dalam Gereja dan menjalankan tanggung jawab bersama dengan para imam.”
Saat para delegasi mengakhiri hari pertama, sharing ini telah menetapkan dasar untuk penegasan rohani lebih lanjut dalam sisa tiga hari pertemuan. **
Andrew Kaufa, SMM – Addis Ababa (Vatican News)
