Gereja di Afrika membutuhkan pertobatan radikal untuk terbuka pada dialog, untuk bersama-sama membangun masyarakat yang ditandai dengan keadilan, rekonsiliasi, dan perdamaian, kata Uskup Keuskupan Emdeber, Ethiopia.
Berbicara kepada para peserta liturgi ilahi yang diadakan di Katedral Kelahiran Yesus pada Sabtu pagi, Uskup Musié Ghebreghiorghis O.F.M. Cap berfokus pada tahap kontinental dari Sinode tentang Sidang Sinodalitas yang sedang berlangsung di Addis Ababa.

Momen Berahmat
Uskup Musié menggambarkan tahap kontinental Sinode tentang Sinodalitas sebagai momen “berahmat” dan sebagai pengalaman yang bermanfaat bagi Gereja di Afrika.
“Seluruh Afrika terwakili dalam sidang ini. Kita berbicara bahasa yang berbeda. Kita memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Kita memiliki liturgi yang berbeda, namun kita adalah anggota (dari Gereja Katolik yang sama),” kata prelatus Ethiopia itu.

Hargai Nilai-nilai Budaya Kita yang Kaya
Menurut Uskup Musié, pertemuan itu merupakan kesempatan “dengan bebas berbagi kegembiraan dan keprihatinan kita” di benua Afrika. “Masyarakat Afrika,” katanya, “adalah masyarakat yang dinamis, dengan nilai-nilai budaya yang kaya yang membutuhkan perhatian penuh… Nilai-nilai ini tidak boleh dicairkan oleh kediktatoran demokrasi atau globalisasi karena nilai-nilai ini memiliki banyak hal untuk diajarkan ke seluruh dunia.”
Uskup Musié melanjutkan dengan mengatakan bahwa karena sebagian besar konflik di Afrika terjadi di antara umat Kristiani, Sidang Sinode mengajak Gereja untuk “terbuka pada dialog, untuk bersama-sama membangun masyarakat yang ditandai dengan keadilan, rekonsiliasi, dan perdamaian.” **
Sheila Pires (Vatican News)
