Misteri Sakramen Mahakudus (25)

Ketaatan Sejati

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Pusat jiwa adalah Allah
Tatkala jiwa mengasihi, mengerti dan menikmati Allah,
Jiwa memiliki kekuatan untuk masuk ke dalam pusatnya, yaitu Allah.
Kasihlah yang menyatukan jiwa dan Allah, itulah ketaatan sejati”

(St Yohanes Salib)

Adorasi Sakramen Mahakudus | Foto: Pinterest.com

Pengajaran

Dalam tujuh anak tangga kesempurnaan, St. Benediktus meletakaan “ketaatan” sebagai anak tangga pertama. Ketaatan adalah keutamaan yang paling dasar untuk mencapai kesempurnaan atau kesucian hidup.

Dalam ketaatan tersimpan sikap rendah hati dan siap mendengarkan. Kata kerja obiedere (mentaati) dekat dengan kata audire (mendengarkan). “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid” (Yes 50:4). Ini lukisan seorang murid yang “taat kepada guru-Nya!”

St. Paulus memuji Yesus karena ketaatan-Nya kepada Bapa yang kekal, bahkan sampai mati di kayu salib: “Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:8).

Dalam Sakramen Mahakudus Ia melakukan sesuatu yang lebih jauh dari itu: ia merendahkan diri tidak hanya sampai pada kematiaan-Nya tetapi sampai dunia berakhir. Maka kita dapat berkata, “Ia tidak hanya taat sampai mati tetapi Ia taat sampai akhir dunia!”

Ia adalah Raja Surga, datang dari surga mengenakan ketaatan sebagai manusia, Ia tinggal bersama manusia dan terlibat di dalamanya termasuk taat kepada dunia. Nabi Yesaya melukiskan ketaatan Yesus itu demikian, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Aku tidak memberontak!” (Yes 50:8).

Ia tidak memalingkan diri, sebaliknya Ia membiarkan dirinya direndahkan menurut kemauan manusia; hal ini juga terjadi dalam Sakramen Mahakudus. Dia membiarkan diri ditaktakan di dalam monstrans, atau disimpan dalam tabernakel.

Ia juga membiarkan dirinya dibawa ke mana saja. Kadang melalui jalan yang becek ke rumah seseorang. Ia membiarkan dirinya diterimakan kepada orang yang tidak layak, atau bersikap tidak pantas dan berada dalam keadaan berdosa.

St Lukas Penginjil menulis bahwa “Sebagai manusia, Ia taat kepada Bunda Maria yang terberkati dan kepada St Yusup bapa pengasuhNya!” Dalam sakramen mahakudus Ia taat kepada sembarang orang termasuk kepada seorang imam.

Tanggapan jiwa

Sekarang ijinkan saya memuji-Mu ya, Hati Yesus yang tercinta! Semua sakramen mencurahkan kasih, tetapi dalam Sakramen Mahakudus ini Kaucurahkan kasih-Mu yang paling besar. Dengan sukacita aku ingin memuji dan memberi penghormatan kepada-Mu sebagaimana Engkau menghormati Bapa yang kekal di surga. Aku tahu bahwa di atas altar Engkau tetap mencintaiku dengan kasih yang sama dengan ketika Engkau tergantung di salib, dan ini telah Kaubuktikan!


Oh, Hati Ilahi, terangilah semua yang mengenal-Mu walau banyak yang tidak tepat. Demi belaskasih-Mu bebaskanlah mereka dari api penyucian, atau paling tidak bebaskanlah mereka dari penderitaan khususnya mereka yang telah Kaupilih secara khusus menjadi mempelai-Mu yang abadi. Aku menyembah-Mu, aku bersyukur kepada-Mu, aku mengasihi-Mu dalam kesatuan dengan jiwa-jiwa yang saat ini mencintai-Mu baik mereka yang masih di dunia maupun yang sudah di dalam surga.

Ya Hati Yesus yang tulus dan murni, sucikanlah hatiku dari aneka keterikatan duniawi serta ciptaan-Mu, dan penuhilah hatiku dengan kasih suci dari-Mu! Oh, Hati yang manis, kuasailah seluruh hatiku sampai aku seluruhnya menjadi milikMu dan senantiasa bisa berseru, “Siapa yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? …. Kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah!” (Rom 8:35.39).


Pahatlah dalam hatiku, ya Hati Kudus yang mulia semua penderitaan yang pedih, yang telah Engkau alami dua ribu tahun lalu karena Engkau mengasihiku. Dengan mengingat derita-Mu itu saya pasti rela menanggung semua penderitaan hidup ini, paling tidak menjadi lebih sabar bila harus menderita.

Yesusku yang rendah hati, curahilah aku kerendahan hati yang Kaumiliki. Hati Yesus yang lembut, hiburlah aku! Ambillah dari hatiku hal-hal yang tidak berkenan pada-Mu; pertobatkanlah aku secara sempurna, sehingga aku tidak lagi mengikuti keinginan atau kehendakku sendiri tetapi melaksanakan kehendak-Mu saja.

Aku ingin hanya menjadi milik-Mu saja; dan Engkau berhak menempatkan aku di bawah kontrol dan perintahMu dan aku akan menyangkal diri demi terlaksananya kehendak-Mu.
Oh Hati Yesus, bertaktalah dalam hatiku!

Visitasi Bunda Maria

St. Bernadus menyebut Bunda Maria sebagai “Kapal surgawi!”; kapan saja kita mohon petolongannya, kita pasti dibebaskan dari aneka kesesakan, “Ia itu kapal yang menyelamatkan kita dari aneka kesesakan hidup!” Kapal yang memnyelamatkan nabi Nuh dari kehancuran dunia adalah gambaran siapakah Bunda Maria itu.


Tetapi Hesychius mengatakan bahwa Bunda Maria adalah kapal Nuh yang jauh lebih luas, lebih kuat dan lebih menarik. Di kapal nabi Nuh hanya beberapa orang dan binatang yang bisa diterima di dalamnya, lain dengan Bunda Maria – dia seupama kapal yang menerima semua orang yang berlindung di bawah mantelnya, dan pasti mereka semua ia selamatkan.

Celakalah kalau kita tidak memiliki Bunda Maria! Tetapi sayang ya Ratuku, karena berapa banyak orang yang hilang. Mengapa mereka hilang? Karena mereka tidak berlindung padamu! **

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.