Anakku Troublemaker, Solusinya Nikahkan Saja Ya, Romo?

Romo Teja yang baik, saya seorang ibu rumah tangga beranak lima. Selama ini selaku orangtua saya sering bingung memikirkan tingkah laku anak saya yang satu ini. Setelah menyelesaikan sekolah dan bekerja di tempat yang jauh, ia tidak lagi ingat jasa orangtuanya.

Memang ia masih ingat pulang ke rumah dan berkumpul bersama adik dan kakaknya di rumah. Tetapi sepertinya dia tidak lagi mempunyai rasa tanggungjawab terhadap orangtua. Setelah gajian ia pulang ke rumah, tetapi tidak sepeser pun uang ia beri kepada orangtua. Malahan ia menguras habis harta orangtua untuk keperluannya.

Lalu setelah kami sekeluarga berpikir dan berunding, kami memutuskan untuk segera menikahkan dia. Harapan kami adalah agar ia segera berubah. Tetapi tingkah lakunya itu tidak berubah, meski sekarang ia sudah menjadi kepala rumah tangga.

Pertanyaan saya, apakah keputusan kami menikahkan itu salah? Mengapa dia bertabiat seperti itu? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Vero – Pangkal Pinang

Solusi troublemaker: nikahkan saja, Apakah benar? | Foto: Tabloid KOMUNIO KOMSOS KAPal

Ibu Vero yang lagi bingung, keputusan keluarga untuk menikahkan anak tidaklah salah bila dimengerti ‘menikahkan’ anak adalah salah satu tugas orangtua. Bukankah dalam budaya timur kita meyakini bahwa tugas orangtua mendidik dan membesarkan anak-anak itu selesai bila semua anak sudah berumah tangga?

Namun kalau menikahkan anak dilihat sebagai jalan keluar untuk mengatasi kenakalan anak, maka kiranya kurang tepat. Mengapa? Karena hak untuk menentukan dan memutuskan perkawinan adalah hak dari anak yang bersangkutan. Keputusan untuk menikah itu salah satu keputusan hidup dan mati. Keputusan itu mengandaikan adanya kebebasan dan kesiapan mental, cinta dan pengorbanan diri. Ia juga mesti didukung oleh pengetahuan dasar akan nilai dan arti perkawinan Katolik. Peranan orangtua dalam hal ini adalah menyetujui dan merestui bila memang baik.

Terhadap masalah yang sedang ibu hadapi, saya melihat masalah utama bukan dengan menikahkan lalu membuat anak berubah, tetapi terletak pada karakter, sifat atau tabiat seseorang. Anak ibu bertingkah laku tidak sesuai dengan harapan orangtua dan moral umum. Karakter atau watak seseorang itu tidak bisa berubah secara total, karena hal ini merupakan pembawaan sejak seseorang lahir. Perkawinannya tidak akan bisa mengubah karakternya, karena ini sudah melekat dalam dirinya dan berasal sejak lahir. Lingkungan, pendidikan dan keluarga memberikan andil besar pula dalam pembentukan watak dan karakter seseorang. Lalu apa yang bisa dibuat?

Dari pihak anak, perlu suatu penyadaran diri. Si anak mesti ditunjukkan mengenai jati dirinya. Untuk mengenal dirinya bisa dengan ‘discernment’ yaitu mengenal dan mengetahui kelemahan dan kelebihan diri. Dengan melihat kelemahan dan kelebihan diri, anak disadarkan keberadaannya. Dengan demikian, ia sampai pada kemampuan untuk mengenal dan menerima diri apa adanya. Watak atau karakter yang disadari akan membuat anak mampu mengontrol dan menetralisir kecenderungan negatif yang ada dalam dirinya, sehingga tidak dominan menguasainya.

Dari pihak ibu (keluarga) yang bisa dilakukan adalah menyadarkan dia dan menunjukkan kelemahan itu. Selain itu juga menerima dia. Kalau memang tabiatnya demikian, mau apa? Orang Jawa bilang, “Watak wantu kuwi ilange yen digawa mati” (watak seseorang itu hanya hilang bersama matinya orang itu).

Menerima berarti lebih memahami dan menyadari bahwa itu adalah salah satu kelemahannya. Karena kita tahu kelemahannya, maka janganlah dia diberi kesempatan untuk berbuat sekehendak hatinya.
Mungkin kekecewaan ibu juga terletak pada harapan ibu yang terlalu besar terhadapnya. Ibu terlalu berharap bahwa setelah anak menerima segala kebaikan orangtua, lalu tahu membalas budi baik orangtua. Ini tidak salah.

Setiap orangtua mempunyai harapan demikian. Namun kalau harapan itu menjadi ‘motivassi dasar’ dalam mendidik anak-anak, akibatnya tidak akan baik. Atau kalau harapan berlebihan akan menyakitkan dan mengecewakan hati bila harapan itu tidak terpenuhi. Tahu membalas budi baik orangtua adalah salah satu ‘ukuran’ keberhasilan dalam mendidik anak.

Ibu tidak perlu terlalu berkecil hati. Dari sekian ‘anak baik’ dalam keluarga, selalu ada satu di antara mereka yang menjadi ‘anak tidak baik’. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi sejauh pengamatan dan pengalaman saya, dalam keluarga besar selalu ada satu anak yang menjadi troublemaker (pengacau atau pembuat onar).

Hal yang tidak boleh dilupakan seorang ibu adalah mendoakan anak. Kalau memang anak ini menjadi masalah dalam keluarga, kembalikan dia kepada Tuhan yang ‘menitipkan’ anak itu kepada ibu. Saya yakin, Dia yang di atas sana akan membantu. Berkat Tuhan melimpah. **

V. Teja Anthara SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.