Mamaku Malang, Mamaku Sayang

Romo Teja yang baik, ibu saya adalah anak paling besar dalam keluarga. Semasa kecil dia telah terbiasa bekerja. Ia sudah bisa memasak dan merawat adik-adiknya. Jika orang tuanya tidak punya uang, dia disuruh oleh nenek untuk meminjam uang dan nanti setelah kakek menerima gaji baru membayar utang itu.

Setelah mendengar cerita dari ibu mengenai masa kacilnya itu, saya mempunyai beban yang besar untuk membahagiakannya. Saya ingin membelikannya sebuah rumah dan ibu tidak perlu lagi bekerja. Semua paman dan bibi saya bernasib baik. Mereka telah memiliki rumah. Hidup mereka serba berkecukupan. Tetapi paman dan bibi saya itu tidak pernah memperhatikan ibu saya, jika hari raya sudah dekat. Padahal dulu ibu sayalah yang merawat mereka.

Nasib baik belum juga berpihak pada keluarga kami. Sampai saat ini kami belum punya rumah sendiri. Sering saya berpikir, kapan saya dapat membelikan mama saya rumah dan mobil untuk menyenangkan hatinya. Saatnya kini dia beristirahat menikmati masa tuanya.

Karena kami tinggal di rumah yang sederhana, paman enggan mengunjungi keluarga kami. Apalagi rumah kami yang kecil itu. Situasi inilah yang membuat saya bekerja keras dan ingin menunjukkan kepada paman dan bibi bahwa saya bisa membelikan rumah untuk mama. Kalau bisa saya akan berusaha dari hasil keringat saya sendiri untuk membelikan rumah untuk mama. Pikiran untuk membeli rumah itu sering menghantui saya. Kadang-kadang saya sampai stres.

Saya sih takut juga. Jangan-jangan pikiran seperti ini justru dapat menghancurkan hidup saya sendiri. Yang pasti saya ingin membahagiakan mama. Saya mohon agar Romo dapat membantu kesulitan saya ini.

Janet di Lampung

Mamaku malang, mamaku sayang | Foto: Tabloid KOMUNIO KOMSOS KAPal

Janet yang ingin membahagiakan orangtua. Secara pribadi Romo kagum terhadap empati Anda terhadap pengalaman masa lampau orang tuamu. Empati itu sungguh menjadi unsur pokok dalam usaha kita untuk bisa membahagiakan orang yang kita cintai.

Romo yakin empati itu pula yang mendorongmu untuk berusaha agar dapat membahagiakan orang tuamu. Sebagai seorang anak yang telah mengalami kasih sayang dan kebaikan orang tua, keinginan untuk membahagiakan orang tua adalah sikap yang wajib dimiliki oleh setiap anak.

Anda perlu meluruskan konsep membahagiakan orang tua yang sekarang ini Anda miliki. Konsep kebahagiaan yang dibutuhkan orang tua itu bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta benda yang telah kita berikan kepada orangtua. Yang sungguh mereka inginkan adalah melihat anak-anak mereka hidup bahagia, damai dan tenteram. Itulah kebahagiaan orang tua yang telah memberi kasih tanpa pamrih.

Yang pertama-tama dibutuhkan orangtua, termasuk mama Anda, bukanlah harta, melainkan perhatian dan sikap hormat kita terhadap jerih payah dan pemikiran mereka. Keinginan untuk membahagiakan orang tua dengan memforsir segenap tenaga justru akan menambah beban orangtua.

Anda sendiri mengatakan bahwa akibat dari kerja keras itu adalah stress. Bahkan Anda merasa takut hal ini akan menghancurkan hidupmu sendiri. Selain itu motivasimu membelikan rumah untuk mamamu pun tidak sangat baik. Anda ingin membuktikan kepada paman dan bibimu bahwa Anda mampu membelikan rumah untuk mamamu dari hasil keringatmu sendiri.

Janet, mungkin Anda perlu merenungkan kembali. Apakah benar dengan membelikan rumah untuk mamamu, dia sungguh akan bahagia? Kebahagiaan bukan terletak pada materi yang dimiliki, meskipun materi itu memang dibutuhkan dan perlu. Tetapi hati yang selalu mensyukuri setiap karunia yang Tuhan berikan dan Anda miliki itulah kebahagiaan menjadi nyata. Jadi kebahagiaan itu sebenarnya adalah soal hati dan bukan soal materi.

Membahagiakan orangtua dengan memaksa diri akan menimbulkan rasa bersalah dalam diri orang tua itu. Karena itu, tunjukkan pada mamamu betapa Anda mengasihi dan membutuhkannya. Itu akan membuat mamamu merasa berarti dalam masa tuanya. Tiada yang lebih membahagiakan dalam hidup ini, bila kita merasa dan mengalami untuk mencintai dan dicintai. Hidup dan keberadaan terasa semakin berarti bagi orang lain terlebih bagi orang-orang yang sangat dicintai.

Hindarilah tindakan melarang mamamu melakukan sesuatu yang masih dapat ia lakukan. Hal ini dapat membuat mamamu tersinggung dan merasa diatur, meskipun maksudmu itu mungkin sangat baik. Tujuannya agar ia tidak merasa lelah. Cukuplah ia lelah pada masa lalunya. Orang yang terbiasa bekerja keras di masa mudanya, tidak akan pernah dapat hidup berpangku tangan, sementara ia melihat orang lain sibuk bekerja. Selain itu dia juga tidak ingin orang lain melayaninya sejauh dia masih bisa melakukannya sendiri. Pengalaman semacam ini juga akan mamamu alami.

Akhirnya, kalau membelikan sebuah rumah adalah kerinduanmu untuk membahagiakan mamamu, usaha dan harapanmu akan diberkati Tuhan. Mungkin baik bila Anda tidak terlalu dibebani oleh sikap keluarga lain yang kurang memberikan perhatian kepada keluargamu. Semoga niatmu yang mulia itu diberkati oleh Allah Bapa di surga.

Untuk keluarga-keluarga atau pribadi, Anda dapat melanjutkan refleksi Anda dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

Pertama, sebagai anak dalam keluarga, apa yang akan Anda lakukan untuk memenuhi keinginan orang tua Anda?

Kedua, mengapa Anda mau melakukan hal itu?

Ketiga, sebagai orang tua, apa yang paling Anda inginkan dari anak-anak Anda? Mengapa Anda menginginkan hal itu?

Keempat, tempatkan posisi Anda sebagai anak ingin membelikan rumah untuk ibunya itu. Apakah Anda punya rasa dendam terhadap saudara-saudara ibu Anda yang seolah ‘habis manis sepah dibuang’? **

V. Teja Anthara SCJ

One thought on “Mamaku Malang, Mamaku Sayang

  1. Selamat pagi Romo Teja. Romo, perkenalkan saya Nuri. Romo, saya ingin meminta pencerahan Romo. Mungkin saat ini saya belum bisa berpikir jernih, karena pergumulan saya ini. Jadi saya mempunyai Bapak kandung yang dulu sangat saya banggakan Mo. Tetapi beliau melakukan kesalahan yang fatal Mo. Dia tidak setia dengan janji perkawinannya. Dia selingkuh. Dan akhirnya ketahuan Ibu. Perselingkuhan pertama ketahuan di bulan Desember 2022. Singkat cerita, sudah diultimatum Ibu. Pada akhirnya Bapak mengaku salah dan katanya berjanji tidak akan mengulangi lagi.
    Tetapi pada kenyataannya, kemarin Bapak mengulangi kesalahan ke 2, dia pulang dari Jakarta bersama si perempuan ini. Dan ketika saya pengen memberitahu si perempuan ini agar bisa menjauhi Bapak, Bapak melarang dengan keras. Dengan dalih Bapak melakukan itu karena ingin berbuat baik dengan semua orang, Bapak tidak bisa menolak apabila ada orang yang minta tolong (karena Bapak tipe orang yang memang suka membantu orang lain), dengan alasan lagi, Bapak mengikuti ajaran gereja untuk membantu banyak orang. Tetapi, menurut saya yang dia bantu adalah orang yang salah. Orang yang menghancurkan keluarga kami.
    Saya mohon pertimbangan dari Romo, saya harus bagaimana Romo sebagai anak? Ibu doanya sangat kencang, begitu dekat dengan Tuhan, sampai apabila Bapak melakukan kesalahan langsung diketahui Ibu. Saya sungguh sangat kasihan kepada Ibu. Di satu sisi, perkawinan gereja tidak ada kata perceraian.
    Mohon bantuannya Romo. Mungkin bisa sedikit membantu meringankan pergumulan saya. Karena memang sakitnya luar biasa Romo. Walaupun saya sudah memaafkan segalanya, tetapi masih membekas sangat dalam. Terimakasih banyak Romo. Tuhan Yesus selalu memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published.