Misteri Sakramen Mahakudus (28)

Dalam Dia, Kita Menjadi Kaya

(Sumber: Buku Visitasi kepada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria Yang Terberkati karya St. Alphonsus Maria de Liguori)

“Untuk mencapai kepuasan dalam semuanya,
Jangan menginginkan kepuasan apapun.
Untuk dapat memiliki segalanya,
Jangan ingin memiliki apa-apa!”

(St.Yohanes dari Salib)

Sakramen Mahakudus | Foto: pinterest.com

Pengajaran

Relasi Yesus dengan Allah sangat unik. Tatkala Yesus berdoa, Dia menempatkan diri sebagai “Anak yang sedang menghadap Bapa” – Dia menggunakan bahasa sederhana, dekat dan terasa aman seperti seorang anak yang sedang bicara kepada bapanya, abba. Disisi lain, Allah yang adalah Bapa, dengan cara yang bijak telah mempercayakan “segala-galanya” secara sempurna dan total kepada Yesus. Ia mempercayakan diri-Nya secara total, bahkan hidup di dalam Yesus, menjadi sumber hidup dan aneka rahmat setiap saat; Bapa mempercayakan semua misteri dan rencana abadi-Nya; Ia melakukan sejarah keselamatan-Nya dalam diri Putera-Nya.

“Allah yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

(Roma 8:32)

Kita tahu bahwa semua yang dimiliki oleh Bapa yang kekal telah diserahkan kepada Yesus Kristus.

“Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya …!”

(Yohanes 13:3)

Layaklah bila kita percaya akan kebaikan, akan belaskasih dan aneka anugerah dari Allah yang mahakasih. Ia telah memperkenankan kita kaya akan banyak hal dan hidup dalam tata rahmat, yaitu hidup dalam keselamatan. Dia telah memberikan Yesus kepada kita dalam Sakramen Mahakudus di atas altar.

“Di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal… dan kamu tidak kekurangan dalam segala karunia”

(1 Korintus 1:5.7)

Tanggapan Jiwa

Karena itu, ya Penyelamat dunia, ya Sabda yang menjadi daging, jika aku ingin memiliki Engkau, aku dapat merebut-Mu sebagai milikku untuk setiap saat. Tetapi pada waktu yang sama aku juga bisa berkata bahwa aku adalah milik-Mu, seperti kehendak-Mu!

Ah, Tuhanku, lindungilah aku; dan jangan pernah dunia menjadi saksi sikapku yang tidak karuan dan tak pantas; sikap liar – yang seolah-olah aku bukan milik-Mu!

Ah, tidak! Biarlah semua berlalu! Jika aku boleh hidup di saat ini, semua yang buruk yang melukai hati-Mu tidak terjadi. Mulai saat ini aku ingin berfokus hanya untuk-Mu saja; ya seluruh waktuku dan selamanya, aku ingin mempersembahkan hidupku, kehendakku, pikiranku, perbuatanku, dan penderitaanku kepada-Mu saja!

Sungguh diriku adalah milik-Mu; pakailah untuk korban persembahan yang berkenan pada-Mu. Ya Yesus, aku bersumpah di depan semua ciptaan-Mu, ingin mempersembahkan diriku hanya untuk-Mu saja! Bakarlah aku dengan api cinta ilahi-Mu. Aku berharap tidak ada satu ciptaanpun yang merebut hatiku.

Engkau telah memberiku kasih yang melahirkan aku menjadi ciptaan baru walau ketika itu aku tidak mengasihi-Mu, aku dalam keadaan berdosa! Engkau rela wafat di kayu salib ketika aku masih melukai-Mu. Sungguh ini bukti bahwa Engkau pasti menerima aku, karena cinta-Mu tulus dan tidak tergantung pada sikapku. Mulai saat ini dan seterusnya aku bertekad untuk mengasihi-Mu dan tanda cintaku, kuberikan seluruh hidupku kepada-Mu.

Bapa yang kekal, sekarang aku mempersembahkan kepada-Mu apa yang telah kuperoleh dari Tuhan Yesus Putera-Mu: semua keutamaan, perbuatan dan belaskasihku. Terimalah dengan kelembutan hati-Mu. Semua itu adalah milikku karena Ia telah memberikannya kepadaku; itulah rahmat yang Tuhan Yesus minta kepada-Mu untukku.

Dengan keutamaan itu, aku sungguh berterimakasih kepada-Mu ya Bapa. Melalui Tuhan Yesus aku mohon rahmat daripada-Mu – pengampunan atas semua dosaku, kemurahan, kebahagiaan dan di atas semua itu, aku mohon cinta kasih-Mu yang sejati.

Aku berani minta semua itu karena Tuhan Yesus telah berjanji, “Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku!” (Yohanes 16:23).

Maka Engkau ya Bapa tidak mungkin menolak aku. Ya Tuhan, keinginanku hanya satu yaitu mencintai-Mu; mempersembahkan seluruh diriku kepada-Mu tanpa syarat. Aku berjanji tidak akan lagi kurang ajar kepada-Mu seperti dulu kulakukan.

Berbahagialah aku, dan aku sungguh bersyukur karena Engkau telah mendengarkan kerinduanku; biarlah hari ini menjadi hari pertobatanku secara total kepada-Mu, sehingga aku tidak pernah berhenti mencintai-Mu.

Aku mengasihi-Mu, ya Tuhanku! I love You so much! Engkaulah kebaikan abadi! Aku mencintai-Mu, oh kekasih dan firdausku; hartaku dan segalanya bagiku! Ya Yesusku, hanya Engkaulah harta milikku; Engkaulah segala-galanya bagiku. Aku yakin Engkau senantiasa merindukan aku seperti aku senantiasa rindu tinggal bersama-Mu!

Visitasi Kepada Bunda Maria

Apa yang aku rasakan dan yang membuat aku menderita? Dan apa yang menghiburku tatkala aku dalam badai derita? Kekuatan apa yang aku temukan di tengah godaan? Jawabku: tatkala aku ingat dan memanggilmu, sebagai penolongku! Ya Bunda yang manis dan suci, Bunda Maria! Sungguh engkau penolongku yang sejati.

Semua orang kudus menyebutmu, “sumber sukacita bagi yang menderita!” St. Ephrem memanggilmu, “penyembuh bagi yang tertimpa bencana!” dan “Pelita dalam gelap” (St. Bonaventura). St. Germanus menyebutmu, “penghibur bagi yang sedang meratap”.

Bunda Maria, engkaulah satu-satunya ibuku yang mengerti aku! Hiburlah aku. Lihatlah aku yang berdosa dan sedang dikelilingi oleh musuh. Berilah aku ketabahan dan ketenangan dalam kasih Allah. Hiburlah aku, ya hiburlah aku dan biarlah sukacitaku ada dalam hidup baruku, yaitu hidup yang berkenan pada puteramu dan engkau, bundaku! Amin. **

Yohanes Haryoto SCJ

Leave a Reply

Your email address will not be published.