SABTU, (25/3) menjadi hari yang membahagiakan bagi umat Keuskupan Agung Palembang. Setelah sekitar enam tahun menanti, akhirnya pada pagi itu, Gereja Katedral Santa Maria ditahbiskan oleh Mgr. Piero Pioppo, Nuntius Apostolik atau Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia.

Kecuali itu, dalam perayaan yang sama, juga disyukuri 29 tahun tahbisan episkopal Uskup Agung Emeritus Aloysius Sudarso SCJ, serta penyerahan pallium dari Paus Fransiskus kepada Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang.

“Gereja di sebut katedral karena ada katedra, kursi uskup, simbol dari kekuasaan, wewenang, yang darinya, uskup menyampaikan pengajaran iman dan moral,” jelas Mgr. Harun, tentang katedral.

Ritual penahbisan dimulai dari pintu utama. Para uskup, imam konselebran, serta petugas liturgi berkumpul di sana. Kunci diserahkan oleh panitia pembangunan kepada Nuntius, lantas ia menyerahkannya kepada Uskup Agung Palembang. Pintu utama diberkati, menyusul pintu-pintu lainnya. Setelahnya, mereka memasuki bagian dalam gereja disambut umat dan iring-iringan lagu pembuka.

Bukan Sebuah Kebetulan
“Bukan kebetulan bahwa tahun 2013 ini, katedral (kita) yang baru telah selesai dibangun,” kata Mgr. Harun.
Baginya, penahbisan katedral punya makna lain.
“Kita dapat memaknai penahbisan katedral ini sebagai mahkota tahun syukur,” tuturnya.

Syukur, karena penyertaan Allah nyata terhadap umat-Nya, khususnya di Keuskupan Agung Palembang. Dengan ditahbiskannya gedung gereja ini, maka Katedral Santa Maria Palembang, menurut Uskup Agung, akan menjadi gereja katedral termegah di Regio Sumatera.


Bersama Bunda Maria
Penahbisan Katedral Santa Maria bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita. Duta Besar Mgr. Piero Pioppo, mengajak umat yang hadir unruk mempercayakan diri melalui perantaraan Bunda Maria.

“Kita percayakan setiap orang dan kita masing-masing dalam perantaan St. Maria. Perawan Maria, yang sejak hari ini tinggal bersama Tritunggal Mahakudus di katedral ini, kita rasakan kehadirannya di altar ini, selagi ia hadir di salib Puteranya dan di ruang atas dan hadir selamanya di jantung hati Gereja,” ajaknya.

Ia juga mengajak umat untuk belajar dari Bunda Maria, yang memberikan dirinya menjadi bait Roh Kudus.



Selain memberkati pintu, pemberkatan juga dilakukan untuk beberapa benda yang akan digunakan dalam liturgi, misalnya katedra, altar, tabernakel, mimbar, patung-patung, ruang pengakuan dosa, dan peletakkan relikui di bawah altar. Misa ini diikuti 13 orang uskup, sekitar 100 orang imam, serta ribuan umat yang terdiri dari awam, biarawan, dan biarawati dari berbagai belahan dunia.



Usai Ekaristi, acara seremonial dilangsungkan, yang mengundang aparatur pemerintahan, tokoh-tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh lintas agama.
** RD Widhy/ Kristiana Rinawati
