Danau Galilea: Locus Warta
“Muncak edisi akhir Mei 2013” demikian status WA salah seorang imam, teman ziarah. Sebelum muncak, kami rombongan Magdatama group memulai ziarah hari ini menuju Galilea. Galilea pada zaman dahulu dan modern, distrik paling utara Israel di barat Sungai Yordan dan Danau Galilea. Galilea kira-kira enam puluh mil (sembilan puluh tujuh kilometer) panjangnya kali tiga puluh mil (empat puluh delapan kilometer) lebarnya.

Pada zaman dahulu, itu meliputi sebagian dari tanah paling baik dan kota-kota Israel yang paling sibuk. Jalan-jalan raya penting menuju ke Damsyik, Mesir, dan sebelah timur Israel melewati Galilea. Iklimnya yang sangat bagus dan tanahnya yang subur menghasilkan banyak hasil panen zaitun, gandum, jawawut, dan buah anggur. Perikanan dekat Danau Galilea menyediakan perdagangan ekspor yang besar dan adalah sumber kekayaan yang besar.
Juruselamat melewatkan banyak waktu-Nya di Galilea. Misal terungkap dalam beberapa perikop: suatu terang yang besar akan bangkit di Galilea, Yes. 9:1–3 (2 Ne. 19:1–3), Yesus pergi hampir ke seluruh Galilea berkhotbah, mengajar, dan menyembuhkan, Mat. 4:23, Setelah Yesus bangkit, Dia menampakkan diri di Galilea, Mrk. 14:28 (Yoh. 21:1–14), Kemasyhuran Yesus menyebar ke seluruh Galilea, Luk. 4:14, Yesus memulai mukjizat-mukjizat-Nya di Kana, Galilea, Yoh. 2:11.

Danau Galilea merupakan lokus penting dalam pewartaan Yesus. Danau ini berlokasi di sebelah utara Israel. Itu juga disebut Danau Kineret dalam Perjanjian Lama dan Danau Genesaret atau Tiberias dalam Perjanjian Baru. Inilah destinasi pertama untuk memulai rangkaian ziarah hari ini. Yesus mengajarkan beberapa khotbah di sana (Mat. 13:2). Danau tersebut berbentuk seperti buah pir, 12,5 mil (20 kilometer) panjangnya dan 7,5 mil (12 kilometer) lebarnya pada sisinya yang paling lebar. Itu berada 680 kaki (207 meter) di bawah permukaan laut, yang sering menyebabkan udara sekelilingnya menjadi amat panas. Udara dingin yang mengalir turun dari bukit-bukit dan bertemu udara panas di atas air sering menimbulkan badai mendadak (Luk. 8:22–24).
Dalam balutan mentari pagi yang lembut kami naik sendiri mengelilingi danau tiberias guna mengenang di kala St. Petrus memilih mengandalkan Tuhan daripada mengandalkan kekuatan sendiri. Semalam suntuk tak mendapat ikan satu pun ketika mengandalkan diri sendiri. Situasi berubah di kala mengandalkan Tuhan; sejumlah besar ikan didapatkannya.

Peristiwa ajaib yang menghantar St Petrus pada ungkapan iman “in verbo tuo laxabo rete”. Pesan iman yang dapat dipetik adalah tanpa Tuhan, kita tak bisa apa-apa. Bersama Tuhan, tak ada jeripayah yang sia-sia.
Danau gambaran hidup manusia. Peristiwa angin ribut yang diredakan Yesus di danau ini mengingatkan kita badai kehidupan akan reda di kala kita mengundang Tuhan hadir dalam perahu hidup kita. Redakan amarah di perahu rumah tangga anda dengan menjadikan Tuhan Yesus sebagai nahkoda utamanya. Dengan demikian, hidup kita penuh bahagia.

Rute selanjutnya, kami mengunjungi Gereja Sabda Bahagia. Situs yang diyakini sebagai tempat Yesus mengajarkan Sabda Bahagia. Kebahagian itu sejatinya bersumber dari kasih Allah yang tiada batas, bukan karena kekayaan atau tanpa masalah lainnya. Kebahagiaan sejatinya harus dibagikan. Oleh sebab itu, kami melanjutkan ziarah menuju Gereja dimana Yesus memberi makan 5000 orang dalam mukjizat penggandaan 5 roti dan 2 ikan. Itulah penegasan bahwa kebahagiaan harus dibagikan; adalah lebih bahagia memberi daripada menerima.
Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman menegaskan hal senada perihal memberi. Diambil, dipecah-pecah, lalu dibagikan. Komitmen berani memberi diri itu kami segarkan dengan berziarah ke Gereja Mensa Ekaristi.
Sejarah mencatat di tempat inilah, Kristus yang bangkit meminta sarapan kepada para murid sekaligus penegasan Petrus sebagai pimpinan para rasul sesuai ditanya komitmennya akan kesetiaan mencintai Kristus.

Kita pun dalam konteks panggilan masing-masing diutus dengan kekhasan masing-masing. Hadir untuk menyembuhkan: yang sakit menjadi sehat, yang sedih menjadi bahagia. Menjejakkan kaki di kompleks rumah mertua Petrus yang diapit oleh puing bekas Sinagoga dan Gereja yang didedikasikan untuk St. Petrus, terungkap kembali kisah biblis tentang aksi orang membuka atap rumah demi si sakit agar disembuhkan oleh Yesus.
Peristiwa mukjizat yang diperbuat oleh Yesus Kristus ini secara khusus dicatat dalam tiga kitab Injil Sinoptik, yaitu pada Injil Matius bab 9, Injil Markus bab 2, dan Injil Lukas bab 5. Lokasi terjadinya peristiwa ini adalah di kota Kapernaum, Galilea yang disebut dalam kaitan dengan Yesus sebagai “kota-Nya sendiri”. Ternyata, sikap saling menolong merupakan kristalisasi sikap percaya bahwa Yesus mampu membuat segala sesuatu menjadi baik adanya, semua hidup bahagia.
Meresapi Gunung Suci
Sebuah gunung menjulang seperti kubah dari Dataran Yizreel menantang untuk didaki. Kontur Gunungnya unik. Secara beragam digambarkan: “berbentuk dada”, “berpunggung bungkuk”, dan “menyerupai cangkir teh terbalik”. Gunung ini berdiri sekitar 420 meter di atas dataran rendah di Galilea, 7 km timur Nazaret.
Menurut Tradisi Kristen pada abad-abad awal menamai gunung itu sebagai Tabor. Gelar ini dikutip dalam tulisan-tulisan apokrif awal dan diterima oleh gereja-gereja Syria dan Bizantium. Sepanjang sejarah tempat ini menjadi tempat mistik, di mana umat manusia mencari kontak dengan yang ilahi. Dalam Perjanjian Lama, digambarkan sebagai gunung suci. Peziarah awal biasanya menaiki 4.300 anak tangga yang memotong lereng berbatu untuk mencapai puncak.

Sejarah mencatat, setelah Tentara Salib dikalahkan pada abad ke-12 dan daerah itu diambil alih oleh Turki, sultan Mamluk Baybar menghancurkan semua bangunan keagamaan di Gunung Tabor pada tahun 1263. Tabor tetap kosong selama hampir 400 tahun sampai para Fransiskan merundingkan izin untuk menetap di sana.
Gunung Tabor di Israel ketinggiannya 575 mdpl, tapi dari gunung ini, keindahan Danau Galilea dan dataran sekitarnya menjadi sungguh sangat mempesona. Letak Gunung Tabor sendiri berjarak sekitar 18 km saja dari danau air tawar yang besar di Israel itu. Yang menarik di Gunung Tabor adalah kompleks biara Katolik Roma dan Eastern Orthodox yang berdampingan di puncak gunung tersebut.

Diyakini inilah tempat Transfigurasi Yesus seperti dilukiskan dalam Matius 17:1-9; Markus 9:2-8 dan Lukas 9:28-36. Konon kisahnya di gunung inilah Yesus bertemu dengan Nabi Elia dan Nabi Musa. Ada tiga orang murid Yesus yang menyertai Yesus naik ke gunung ketika peristiwa itu terjadi. Pada saat kejadian itu Yesus berubah rupa di hadapan murid-muridnya dan pakaian yang dikenakan Yesus menjadi sangat putih berkilat-kilat. Tentu saja hal tersebut menggambarkan betapa kudusnya peristiwa yang terjadi.




Sekarang, lihatlah apa yang ada di puncak Gunung Tabor. Satu bangunan indah yang bagian puncaknya menyerupai tiga kemah. Itulah wujud Gereja Transfigurasi yang ada di puncak Gunung Tabor. Kiri dan kanan puncak bangunan tersebut di dasarnya adalah sebuah kapel kecil masing-masing dengan lukisan pada langit-langit kapel yang sangat mudah ditebak untuk siapa kapel kecil tersebut didedikasikan. Ketiga bagian ini mengingatkan kita akan pernyataan Petrus untuk membangun tiga kemah, satu untuk Yesus, satu untuk Elia dan satu lagi untuk Musa.
Sejak abad ke-3 di gunung ini sudah ada tiga kapel yang dipersembahkan untuk Yesus, Musa dan Elia. Pada zaman Perang Salib, ketiga kapel ini disatukan menjadi sebuah basilika yang indah. Tembok-tembok maupun bangunan kokoh yang berdiri sampai sekarang di puncak gunung ini, berasal dari abad ke-12. Pada bagian kanan adalah Kapel Elia. Di dindingnya terdapat lukisan Elia yang sedang berdoa dan nyala api turun dari langit melahap kurban yang telah disediakan di atas mezbah (1 Raj. 18:20-46). Di bagian kiri terdapat Kapel Musa. Musa dilukiskan dengan kedua tangan memegang dua loh batu (Kel. 20 :1-17).

Basilika yang ada sekarang ini adalah hasil renovasi yang diadakan antara tahun 1919-1924 menurut rancangan seorang arsitek Italia, Antonio Barlucci. Di belakang altar utamanya terdapat kaca dengan gambar burung merak, yang merupakan lambang keabadian.
Sebelum muncak, kami rombongan Magdatama group memulai ziarah hari ini menuju ke danau tiberias. Dalam balutan mentari pagi yang lembut kami naik perahu guna mengenang di kala St. Petrus memilih mengandalkan Tuhan daripada mengandalkan kekuatan sendiri.

Semalam suntuk tak mendapat ikan satu pun ketika mengandalkan diri sendiri. Situasi berubah di kala mengandalkan Tuhan; sejumlah besar ikan didapatkannya. Peristiwa ajaib yang menghantar St Petrus pada ungkapan iman “in verbo tuo laxabo rete”. Pesan iman yang dapat dipetik adalah tanpa Tuhan, kita tak bisa apa-apa.
Bersama Tuhan, tak ada jeripayah yang sia-sia. Danau gambaran hidup manusia. Peristiwa angin ribut yang diredakan Yesus di danau ini mengingatkan kita badai kehidupan akan reda di kala kita mengundang Tuhan hadir dalam perahu hidup kita. Redakan amarah di perahu rumah tangga anda dengan menjadikan Tuhan Yesus sebagai nahkoda utamanya. Dengan demikian, hidup kita penuh bahagia.

Rute selanjutnya, kami mengunjungi Gereja Sabda Bahagia. Situs yang diyakini sebagai tempat Yesus mengajarkan Sabda Bahagia. Kebahagian itu sejatinya bersumber dari kasih Allah yang tiada batas, bukan karena kekayaan atau tanpa masalah lainnya. Kebahagiaan sejatinya harus dibagikan. Oleh sebab itu, kami melanjutkan ziarah menuju Gereja dimana Yesus memberi makan 5000 orang dalam mukjizat penggandaan 5 roti dan 2 ikan. Itulah penegasan bahwa kebahagiaan harus dibagikan; adalah lebih bahagia memberi daripada menerima.

Ekaristi sebagai sumber dan puncak iman menegaskan hal senada perihal memberi. Diambil, dipecah-pecah, lalu dibagikan. Komitmen berani memberi diri itu kami segarkan dengan berziarah ke Gereja Mensa Ekaristi.
Sejarah mencatat di tempat inilah, Kristus yang bangkit meminta sarapan kepada para murid sekaligus penegasan Petrus sebagai pimpinan para rasul sesuai ditanya komitmennya akan kesetiaan mencintai Kristus. Kita pun dalam konteks panggilan masing-masing diutus dengan kekhasan masing-masing. Hadir untuk menyembuhkan: yang sakit menjadi sehat, yang sedih menjadi bahagia.


Menjejakkan kaki di kompleks rumah mertua Petrus yang diapit oleh puing bekas Sinagoga dan Gereja yang didedikasikan untuk St. Petrus, terungkap kembali kisah biblis tentang aksi orang membuka atap rumah demi si sakit agar disembuhkan oleh Yesus.
Peristiwa mukjizat yang diperbuat oleh Yesus Kristus ini secara khusus dicatat dalam tiga kitab Injil Sinoptik, yaitu pada Injil Matius bab 9, Injil Markus bab 2, dan Injil Lukas bab 5. Lokasi terjadinya peristiwa ini adalah di kota Kapernaum, Galilea yang disebut dalam kaitan dengan Yesus sebagai “kota-Nya sendiri”. Ternyata, sikap saling menolong merupakan kristalisasi sikap percaya bahwa Yesus mampu membuat segala sesuatu menjadi baik adanya, semua hidup bahagia.

Menimba Spirit Pengampunan Nabi Elia
Belajar melalui pengalaman pasti memberikan kesan, tetapi bukankah terkadang lebih baik belajar dari kesuksesan dan kegagalan orang lain? Alkitab memberitahu kita bahwa orang-orang yang mendahului kita adalah contoh-contoh bagi kita (1 Korintus 10:6 dan 11) yang diberikan agar kita dapat belajar apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Sepak terjang Nabi Elia menawarkan banyak pelajaran berharga. Pelayanan Elia tidak terlalu panjang, namun penuh pelajaran kehidupan yang dapat kita gunakan. Seseorang yang diangkat ke surga dalam angin badai pasti memiliki sesuatu untuk disampaikan.

Merayakan Ekaristi bersama rombongan Magda Group di Kapel Elia, menerbangkan ingatanku perihal Kisah Elia dan Ahab yang bermula dari kerakusan Ahab mau merampas kebun anggur Nabot. Awalnya Nabot menolak maka Izebel, istri Ahab mulai ‘bertindak’. Izebel menciptakan isu palsu dan sensitif bahwa Nabot telah mengutuk Allah dan raja. Dengan dua saksi palsu yang dihadirkan, Izebel berhasil memprovokasi massa sehingga merajam Nabot dengan batu hingga mati. Dan impian busuk Ahab merampas kebun Nabot pun terwujud padahal dengan cara jahat. Apakah kisah ini hanya terjadi ribuan tahun silam, atau masih ada Nabot yang lain di zaman ini?


Mengapa Ahab berbuat demikian? Karena sikap tidak puas dengan apa yang sudah ada padanya menumbuhkan kerakusan dalam dirinya. Tetapi sebenarnya akar pertama dan terutama dari semuanya ini yakni karena Ahab telah meninggalkan Allah, dan mengikuti Izebel istrinya menyembah berhala Baal sehingga mereka hidup menurut jalan-jalan duniawi (bdk 1Raja 17). Bermula dari kesesatan iman (Tuhan bukan lagi menjadi penuntun hidupnya), disusul kerakusan akan harta orang lain (menghidupkan impian duniawi dalam diri), dimuluskan oleh strategi jahat istri yang bertentangan dengan jalan Tuhan (memakai cara-cara kotor), berakhir dengan pertumpahan darah orang yang tidak bersalah.

Apakah dalam situasi seperti ini Ahab dan Izebel harus diampuni? Jawaban dari kita tentu pro kontra berdasarkan situasi batin kita. Di sinilah kita dituntut menerapkan ajaran Yesus yang diterapkan oleh Nabi Elia di mana dia harus mengampuni Ahab dan Izebel. Bila kita menghadapi situasi demikian dengan ‘prinsip balas dendam’ maka kita seperti Elia yang awalnya menghendaki ‘gigi ganti gigi’. Namun Tuhan justru menyuruh Elia mengampuni mereka. Di sini Nabi Elia diajar Tuhan untuk berkarya seturut kehendak Tuhan bukan berdasarkan emosi manusiawinya.
Tindakan mengampuni demikian sebagaimana diajarkan Yesus, hanya bisa terjadi kalau kita menjadikan Tuhan sebagai pengontrol diri kita dan melibatkan-Nya dalam perjuangan ini sehingga rahmat dan kuasa-Nya yang memampukan kita. Karena dalam situasi demikian bila sisi manusiawi dan prinsip ‘gigi ganti gigi’ lebih kuat, maka orang akan lebih memilih balas dendam yang jelas memperumit situasi.

Hanya ketika kita berpegang teguh pada keyakinan bahwa mengikuti jalan Tuhan lebih baik, maka kita akan memilih tidak balas dendam. Hanya ketika Roh-Nya diberi ruang yang lebih luas dalam diri kita sehingga menguasai dan mengontrol kita, maka kita bisa dimampukan untuk mengampuni dengan ikhlas. Pengampunan Paus Yohanes Paulus II kepada Ali Aqha yang mencoba membuhnya turut menjadi testimoni akan kebenaran ajaran Yesus ini.

Pilihan Nabi Elia untuk mengampuni adalah sikap total untuk mengabdi Tuhan. Kendati mengampuni itu bagai mendaki gunung yang tinggi menjulang, namun itulah jalan sunyi yang perlu ditempuh untuk menggapai kekudusan.
Mencintai Itu Mengampuni
Berziarah di Kapel Elia mengajak saya untuk belajar mencintai Tuhan melalui sikap berani memaafkan sesama. Cinta dan pengampunan mengubah Noise menjadi Voice. Kecanggihan teknologi membantu manusia semakin mudah mengakses media sosial. Banyak peristiwa terdokumentasikan di sana. Akibatnya, medsos bisa menjadi noise (suara gaduh); medsos juga bisa menjadi voice (suara merdu). Noise adalah simbol dari kegaduhan dendam, voice adalah simbol dari cinta menyatakan pengampunan. Menyebarkan noise berarti menyebarkan genderang dendam, menyebarkan voice berarti menyebarkan cinta penuh pengampunan.


Beberapa waktu belakangan ini, kata noise dan voice menjadi primadona di media sosial. Memang dua kata bahasa Inggris itu sangat mirip dengan bunyi yang juga nyaris sama. Bedanya hanya bunyi “n” dan “v” saja. Noise yang bermakna gaduh, berisik, resek selalu disematkan kepada akun sosial yang viralkan apa-apa yang tak penting dan belum terbukti kebenaranya. Sementara voice viralkan sesuatu yang penting, terhormat, teratur, dan terpercaya. Noise dan voice tak bisa dipersatukan dengan cara apapun seperti air dan minyak.

Kebohongan dan kebenaran tak pernah bisa disandingkan. Kebohongan adalah musibah, sedangkan kebenaran adalah berkah dari sikap jujur. Mengelabui orang lain dengan ”menyatakan hal yang benar” kini sudah jamak di masyarakat. Itu sebabnya muncul istilah baru yang disebut paltering atau kalau diterjemahkan artinya mempermainkan kebenaran. Kebohongan jenis ini beredar luas di masyarakat masa kini, sehingga batas antara kejujuran dan kebohongan menjadi abu-abu. Batas antara benar dan salah menjadi tak jelas.


Banyak orang suka berbohong. Padahal bohong lebih menguras mental daripada mengatakan kebenaran secara jujur. Banyak orang memilih saling mendendam daripada saling memaafkan. Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, pernah mengatakan bahwa ‘tidak ada manusia yang sanggup mengingat dengan baik untuk bisa menjadi pembohong yang sukses.” Rasanya, tak ada pula orang menggapai kesucian tanpa memiliki cinta dan pengampunan.

Mari memulai hari dan waktu kita dengan kasih sayang , dengan semangat kasih. Cinta yang mengubah noise menjadi voice. Dengan demikian, dunia akan menjadi lebih indah dan damai. Bukan kegaduhan, tapi senandung merdu. Semua insan saling mencintai bukan saling melukai hati. Semua bisa dimulai dari diri. Karena cinta pastilah anda tak tega saling balas dendam. Nabi Elia telah meneladankannya. Dikala cinta melahirkan sikap memaafkan, di sana kita mengalami transfigurasi dalam hidup sehari-hari.
**Widhy
