Saat iman kita terbangun dengan benar melalui tradisi dan budaya kita, kita akan menjangkau hal-hal yang berguna bagi hidup kita.
Tallit adalah syal yang dipakai oleh orang Yahudi untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau tzitzit. Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan.
Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka sebagai tanda pengharapan itu.
Tuhan berfirman kepada Musa, “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun. Dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah Tuhan, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap Tuhan.”

Simbol-simbol
Tradisi keagamaan sering dihidupi dalam peziarahan hidup manusia. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk pembuat tradisi. Tradisi yang kudus itu diciptakan oleh manusia menurut kehendak Tuhan. Ketika manusia mengikuti kehendaknya sendiri, manusia akan mengalami hidup yang menderita. Ketika manusia melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Tuhan, manusia akan mengalami keselamatan.
Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk menghidupi tradisi-tradisi baik yang ada dalam budaya kita masing-masing. Hal ini bukan hanya untuk meneruskan tradisi, tetapi sungguh-sungguh memaknai panggilan hidup kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Orang Yahudi menghidupi tradisi mengenakan Tallit ketika berdoa sebagai tanda kepatuhan mereka kepada Tuhan.
Manusia merupakan makhluk yang dipenuhi dengan simbol-simbol. Satu budaya berbeda makna simbol dari budaya yang lain. Lantas di tingkat yang lebih tinggi terjadi kesepakatan untuk menggunakan simbol tertentu yang kiranya memiliki makna yang sama. Ketika orang mau menghidupinya, orang mesti setia agar tidak terjadi perubahan makna. Dengan demikian, tidak terjadi kebingungan dalam hidup bersama.
Orang beriman menghidupi tradisi dengan simbol-simbolnya untuk semakin memaknai hidup bersama sebagai kesempatan untuk saling membahagiakan. Karena itu, orang beriman mesti saling membantu dalam menghidupi tradisi-tradisi itu. Selalu semangat. Salam sehat. Tuhan memberkati. **
Frans de Sales SCJ
