Bapa Uskup KAPal, Mgr. Harun, akhirnya ‘ketok palu’, menetapkan Kuasi Paroki St. Yohanes Paulus II yang perayaan syukur penetapannya di gelar pada Selasa, 20 Juni 2023 di Bina Karsa. Perayaan meriah dan dihadiri oleh umat dari Paroki Kristus Raja Tugumulyo OKI, umat Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari, umat dari Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegal Rejo, Para imam, Bruder, Suster.
Keputusan penetapan Kuasi Paroki didasarkan antara lain karena umat katolik di wilayah Mesuji Makmur dan Mesuji Kab. OKI SumSel yang selama ini stasi-stasinya merupakan bagian dari Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari dan Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegal Rejo dipandang berkembang baik secara kuantitas dan kualitas.
Mengingat dan menimbang pula laporan dan permohonan dari Tim Persiapan Wilayah tertanggal 12 Juni 2023, yang bekerja sesuai surat tugas No. 92/Dio.KAPal/III/2023 tertanggal 9 Maret 2023. Pertimbangan lainnya adalah keputusan Rapat Dewan Imam KAPal tanggal 13-14 Juni 2023. Berdasar pertimbangan tersebut, Bapa Uskup KAPal mengeluarkan keputusan dalam bentuk Dektrit Pendirian Kuasi Paroki St. Yohanes Paulus II Bina Karsa No. 482/Dio.KAPal/VI/2023.
Selain penetapan pendirian Kuasi Paroki, dalam dekrit disampaikan pula beberapa keputusan, antara lain: teritorial Kuasi Paroki St. Yohanes Paulus II Bina Karsa meliputi tujuh Stasi dan tiga Lingkungan. 1) Stasi St. Fransiskus Asisi Mesuji Jaya. 2) Stasi St. Yoseph Bringin Jaya. 3) Stasi Hati Kudus Cahaya Mas IV. 4) Stasi St. Yoseph Cahaya Mas I. 5) Stasi St. Yoseph Kampung Baru. 6) Stasi St. Thomas Bina Tani. 7) Stasi St. Paulus Catur Tunggal. 8) Lingkungan St. Maria Surya Karya. 9) Lingkungan St. Thomas Mesuji Makmur. 10) Lingkungan St. Agustinus Labuhan Jaya Mesuji.

Batas wilayah Kuasi Paroki, yang merupakan wilayah pelayanan no urut 8 di Dekanat II ini, sebagai berikut. Sebelah Utara berbatasan dengan Paroki Kristus Raja Tugumulyo OKI. Sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegal Rejo dan Kab. Way Kanan Lampung. Sebelah Timur berbatasan dengan Paroki St. Andreas Simpang Pematang Lampung dan Paroki St. Yoseph Pekerja Tulang Bawang Lampung. Sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Para Rasul Kudus Tegal Sari dan Paroki St. Maria Tak Bernoda Tegal Rejo.
Nahkoda perdana yang diangkat oleh Bapa Uskup sebagai Pejabat Sementara Kepala Kuasi Paroki St. Yohanes Paulus II Bina Karsa adalah RP. Amatus Sukadi SCJ. Bapa Uskup berharap Romo Sukadi bersama Dewan Pastoral Kuasi Paroki dan Prodiakon yang dilantik, serta bersama umat dapat meletakkan dasar-dasar yang baik dalam bingkai keutamaan St. Yohanes Paulus II.

Mengawali homilinya, Uskup KAPal, yang adalah Imam Diosesan Pangkalpinang dan pernah menjadi Uskup Tanjungkarang, merangkum keutamaan-keutamaan St. Yohanes Paulus II. Beliau adalah pribadi yang teguh memelihara iman, seorang filsuf yang menerjemahkan kebijaksanaan dalam tindakan praktis. Santo Yohanes Paulus II adalah paus yang menetapkan Hari Orang Muda dan Hari Orang Sakit. Beliau seorang Paus yang rendah hati dan pemaaf.
Nilai-nilai luhur tersebut diharapkan melandasi upaya mengembangkan Kuasi Paroki ini dalam kacamata ArDas KAPal. Dengan demikian, Kuasi Paroki yang berlokasi di tanah milik KAPal yang selama ini digunakan Pansos dapat melahirkan SDM, umat Allah yang bertumbuh dalam Kasih Allah.

Bina Karsa: Wadah Menyatukan Hati, Membina Cinta dan Asa
Domisili Kuasi ini di Desa Bina Karsa, Kec. Mesuji Makmur OKI. Kuasi Paroki mix tersebut menjadi wadah untuk menyatukan hati umat yang memiliki latarbelakang paroki berbeda. Saling membina hati dan membina asa, melahirkan iman, harap, dan kasih sehingga Kuasi Paroki dapat bertumbuh kembang dengan baik dan mendatangkan kebahagiaan bagi semua pihak.
“Saya bahagia sekali karena apa yang saya pikirkan dan cita-citakan sebagai pastor paroki Tegal Sari dulu, kini telah terjadi. Tempat ini istimewa, bukan hanya lokasi tetapi umat yang berdinamika untuk ‘supaya menjadi satu (sint unum); sesuai tema perayaan ini. Sebuah semboyan yang indah. Membangun kesatuan, pertama-tama kesatuan kita sendiri dan kemudian kesatuan dengan masyarakat” tegas RP. Andreas Suparman SCJ, Propinsial SCJ Indonesia dalam sambutannya.
Senada dengan itu, saat sambutan Bpk. FX. Supardi selaku ketua Dewan Kuasi Paroki terpilih sekaligus ketua panitia mengajak umat mengacungkan jempol tanda sukacita dan kesatuan yang luar biasa.
“Inilah awal yang baik. Allah yang telah memulai, biarlah Allah yang menyelesaikannya” pungkasnya.
Perayaan Syukur dimulai dengan seremoni dengan Pamong Masyarakat. Kapolsek Mesuji Makmur, Bpk. Ipda Pupardjo SH menegaskan dalam sambutannya bahwa dalam hari istimewa ini yakni peresmian Kuasi Paroki maka diucapkan selamat dan sukses. Penghargaan luar biasa bagi Kapolres sebab inilah acara pertama yang dihadiri beliau. Ia berharap semoga hidup bermasyarakat semakin adem ayem.
Menyusul sambutan berikutnya, Mgr. Yohanes Harun Yuwono diberi blangkong sebagai tanda kasih umat. Beliau menegaskan dalam sambutannya, Bina Karsa kendati umatnya sedikit dipilih menjadi pusat. Ia ucapkan terimakasih pula kepada umat Catur Tunggal yang rendah hati, kendati siap menjadi pusat tapi merelakan status itu bagi Bina Karsa. Maka diucapkan proficiat kepada umat, selamat membina kesatuan iman dalam menyatukan hati dalam Kasih Kristus.
Usai acara seremoni dilanjutkan Misa Syukur dengan tagline ‘semoga mereka menjadi satu’. Dalam homili Misa Syukur Penetapan Kuasi Paroki Bina Karsa, beliau menegaskan:
“Dalam perjalanan bersama itu. Tidak ada yang boleh lari duluan lalu nanti istirahat di depan. Atau tertinggal jauh karena payah. Dilupakan dari perhatian yang lain. Tidak boleh. Berjalan bersama sungguh harus bersama, yang kuat harus menuntun yang lemah. Yang sehat harus mendorong membawa menuntun yang sakit. Yang kuat harus mengandeng yang lemah. Dalam perjalanan bersama itu, setiap orang harus merasa bahwa yang dari kelompok tak boleh memisahkan diri karena perbedaan. Apakah karena kesehatan atau karena perbedaan pandangan? Tak pernah boleh memisahkan. Berjalan bersama itu harus sehati sejiwa. Senasib sepenanggungan. Dari latar belakang apapun, hendaknya tetap bisa kompak. Untuk berjalan bersama harus menentukan bersama berunding bersama. Kapan kita akan mulai. Kapan akan dimulai, di mana startnya? Apa yang harus kita bawa? Perlengkapan apa saja? Perjalanan itu sejauh mana sebetulnya? Perjalanan itu tujuannya ke mana? Harus dirundi bersama. Buatlah pertemuan bersama, jangan eker-ekeran. Jangan berkelahi. Sekali lagi dalam segala perbedaan, kebersamaan itu harus solid.”
Bagi Uskup yang mengusung motto ‘Deus Caritas Est’ ini, berjalan bersama dapat diwujudkan bila kita sungguh menghidupi spiritualitas KAPal, ‘Seperti Kristus, berkenan kepada Bapa karena kasih yang tanpa pamrih dan tanpa membeda-bedakan dalam semangat persaudaraan yang sejati’. Maksudnya, berada dalam Allah dan selalu bersama dengan Dia adalah cara agar kita berkenan kepada Bapa, sebab dengan begitu kita akan berbuah banyak (Yoh 15: 4).
Rasa dan pengertian demikian hendaklah menjadi daya dorong kehidupan sehari-hari. Marilah mencontoh dan menghidupi teladan hidup, kata dan perbuatan atau karya Yesus. Dalam situasi apapun Dia berkenan kepada Bapa. Keberadaan kita juga akan semakin berkenan kepada Bapa jika kita terus-menerus dan dalam situasi hidup seperti apapun, dalam suka maupun dalam duka, setia kepada Bapa. Bapa tidak pernah meninggalkan kita.
Hendaklah kita, di dalam Yesus, selalu sadar untuk tidak pernah meninggalkan Bapa. Marilah terus menerus dengan sadar hidup di hadirat Allah secara pantas sebagai anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Marilah hidup dengan semangat hidup Allah, sehati sejiwa dan sepikir seperasaan dengan Dia. Semoga dengan demikian kita selalu berkenan kepada-Nya (Yoh 14: 23).
“Dengan menghidupi Spiritualiras ArDas Keuskupan kita, pasti kita akan kompak dan tidak ada yang bermusuhan. Tidak ada yang akan menganggap orang lain sebagai saingan yang harus disingkirkan. Namun, akan menganggap siapa pun sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita; dan kita bagian yang tak terpisahkan dari hidup setiap orang sehingga kita bisa berjalan bersama” papar Uskup Agung KAPal.
Harapan itu rasanya tergambar jelas dalam kebersamaan umat di Kuasi Paroki Bina Karsa, yang dilukiskan dengan indah oleh Mgr. Harun saat berpantun, “Pagi-pagi tanam pepaya, sore hari tanam pepaya juga. Kepada umat Bina Karsa, anda semua sungguh luar biasa.”
** Romo Widhy
