SanP10 Remaka Dekanat II: Arena Bina Persaudaraan Iman

Tepuk ArDas: “Bersaudara, bercahaya, beriman, bersaksi. Yes…yes…yes…ArDas KAPal”, demikian yel yel SanP10 2023. Perhelatan akbar Remaja Katolik Dekanat II Keuskupan Agung Palembang (KAPal) dengan tagline “Persaudaraan Dalam Iman” ini dilaksanakan pada 21-25 Juni 2023 di Stasi Keluarga Kudus Tegal Arum, Paroki St. Petrus dan Paulus Baturaja.

Gelaran bertajuk SanP10 (Sanpio_red.) yang diambil dari nama Santo Pius X, muncul karena keprihatinan para pendamping Remaka. Prihatin karena melihat begitu banyaknya jumlah anak-anak usia remaka di wilayah Dekanat II, tetapi mereka belum memiliki “wadah” bersama untuk berkumpul dan berdinamika bersama. Pada tahun 2013, melalui even Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) dan Pertemuan para pendamping Remaka yang digagas oleh OMK Dekanat II maka dibentuklah wadah untuk berkegiatan bagi remaka Dekanat II dengan nama SanP10 Cup.

SanP10 merujuk kepada Santo Pius X. Tokoh suci gereja yang peduli kepada bina iman remaja dengan mengizinkan anak-anak menyambut Komuni Suci. Beliau lahir pada tahun 1835 di Riese Italia dengan nama kecil Giuseppe Sarto.

Beliau diangkat menjadi Paus tahun 1903 dengan memilih nama Pius X. Secara istimewa Paus Pius X dikenang karena kasihnya yang berkobar-kobar pada Ekaristi Kudus. Beliau mendorong semua orang sesering mungkin menyambut Yesus bahkan setiap hari! Beliaulah menetapkan ketentuan yang mengizinkan  anak-anak menyambut komuni kudus.

Ia menghendaki setiap orang Katolik mengenal dan mencintai keindahan kebenaran ajaran iman Katolik sejak dini. Ketika Perang Dunia I, Bapa Paus merasa sangat menderita. Ia tahu bahwa akan ada banyak orang terbunuh.

Ia mengatakan, “Aku akan dengan senang hati menyerahkan nyawaku demi menyelamatkan anak- anakku yang malang dari penderitaan yang mengerikan ini”.

Beliau wafat tanggal 20 Agustus 1914 dan dikanonisasi tahun 1954. Gereja merayakan setiap tanggal 21 Agustus. Semangat Santo Pius X ini-lah yang diharapkan menjiwai semua pihak yang terlibat dalam gelaran SanP10 dan kegiatan Bina Iman Remaja. Berjalan bersama untuk bahu-membahu menanamkan nilai-nilai kekatolikan pada anak-anak sedini mungkin.

Gagasan awal, hajatan SanP10 akan diadakan secara rutin setiap tiga bulan sekali (triwulan). Mengingat dana yang harus dikeluarkan cukup besar dan waktunya terlalu dekat, maka rencana itu dibatalkan. Akhirnya disepakati acara ini diadakan setiap 2 tahun sekali pada tahun Genap, bertempat di Stasi Keluarga Kudus Tegal Arum – Baturaja.

Gelaran perdana SanP10 Cup diadakan pada tahun 2014, kepanitiaan dikomandoi oleh OMK Dekanat II. Pola awal ini dimaksudkan sebagai kaderisasi agar gelaran berikutnya dapat dikoordinir langsung oleh pendamping atau pengurus Remaka Dekanat. SanP10 edisi kedua dilaksanakan pada tahun 2016. Para Pendamping Remaka se- Dekanat II menjadi motor utama kegiatan tersebut. SanP10 ketiga pada tahun 2018 menggunakan pola yang sama dengan edisi kedua.

Sesuai kesepakat bersama, SanP10 adalah acara dua tahun sekali, maka semestinya tahun 2020 adalah waktunya untuk gelaran SanP10 edisi keempat. Menyambut hajatan terbesar bagi remaja Dekanat II tersebut maka struktur kepengurusan baru sudah dibentuk lengkap dengan perangkat dan program kerjanya. Namun akibat Pandemi Covid-19, kegiatan belum bisa terealisasi. Setelah pandemi berubah menjadi endemi, Bulan Juli 2022 para pengurus Remaka se-Dekanat II mulai berkumpul membicarakan ulang agenda yang tertunda tersebut. Tercapailah mufakat bersama bahwa SanP10 Cup akan diselenggarakan pada 22-25 Juni 2023.

Atas dasar kesepakatan itu, Romo Moderator Remaja Dekanat II, RD. Romanus Edi Suryono, bersama panitia menyiapkan acara tersebut, baik dalam bentuk rapat offline maupun via WhatsApp Group. Inilah secuil goresan kisah, berawal dari sebuah keprihatinan yang dipandang dalam kacamata iman, maka lahirlah kepedulian dalam nuansa persaudaraan iman. Semua itu dirayakan dalam gelaran SanP10 2023 Dekanat II.

Merajuk Benang Persaudaraan dalam Gladi Jasmani dan Gladi Rohani

Remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Remaja berusaha membangun identitas diri. Remaja menghabiskan sebagian besar pembelajaran melalui dunia pendidikan. Pendidikan merupakan tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan yang dipergunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, dan sikap. Pendidikan perlu menyentuh sisi jasmani dan rohani. SanP10 dikonsep untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka ada mata acara gladi rohani dan gladi jasmani. Melalui kedua gladi tersebut diharapkan terajut benang-benang Persaudaraan dalam iman.

Menyadari masa remaja disebut masa adoleson, di mana terjadinya pematangan fungsi-fungsi psikis dan pisik yang berlangsung secara teratur, yang dikenal sebagai masa terakhir dari perkembangan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Pada masa ini mereka mulai melakukan intropeksi dan merenungkan dirinya sendiri. Akhir perenungan meraka menemukan ego-nya .

Kondisi seperti ini remaja mampu menemukan keseimbangan dan keharmonisan atau keselarasan antara sikap dari dalam dan dengan sikap dari luar dirinya. Oleh sebab itu, internalisasi nilai-nilai iman diperlukan dalam kegiatan tersebut. Maka, materi ArDas menjadi sesi pokok dalam acara tersebut. Materi ArDas dikemas dalam bentuk dinamika permainan kapal yang disampaikan oleh para biarawan-biarawati, pendamping kelompok.

Dalam sesi pembekalan bagi biarawan-biarawati pendamping, RD. Kris menegaskan pentingnya pemahaman dan penghayatan, bukan hafalan.

“Bukan supaya mereka hafal visi, misi, dan spiritualitas dalam ArDas KAPal. Namun yang pokok adalah mereka tahu spirit (rohnya); memahami lalu menghayati dan kemudian menghidupi. Animasi Kapal digunakan dengan maksud menerjemahkan ArDas untuk anak remaja. Harapannya mereka paham identitas dirinya karena baptisan dan menyadari kesatuannya sebagai Gereja, umat Allah KAPal. Mengerti dan melakukan perannya masing-masing maupun bersama yang lain dalam satu kesatuan arah yang dituju KAPal sesuai ArDas” urai Dekan Dekanat II.

Remaka Membangun Persaudaraan Iman

Persaudaraan dalam iman perlu digalakkan dikalangan umat Katolik, khususnya Remaja Katolik. Ajakan ini dilatar-belakangi oleh pola trend bahwa seiring dengan lajunya perkembangan teknologi dan media sosial, maka perkembangan tersebut juga mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan pada anak-anak kita remaja Katolik.

Perkembangan ini apabila mengikuti sisi positifnya maka akan menjadi baik bagi tumbuh kembang iman Remaka. Sebaliknya akan menjadi negatif, bila tak ada pendampingan yang secukupnya. Menyadari bahwa usia remaja merupakan masa transisi di mana keberadaannya sudah lepas dari masa kanak-kanak (BIA) namun belum bisa dikatakan dewasa (OMK). Untuk itulah melibatkan mereka dalam kegiatan SanP10 merupakan titik tolak penting dalam pembentukan karakter bagi tunas dan generasi penerus gereja.

Hajatan Sanpio yang digelar diharapkan menumbuh-kembangkan semangat persaudaraan dalam iman dikalangan para remaja. Dengan demikian, mereka saling mengasah dan mengasuh untuk bertumbuhnya rasa tanggung jawab, mandiri, sportivitas, dan disiplin. Pun pula semangat mencintai Ekaristi Kudus ditanamkan sedini mungkin, agar anak-anak semakin mengenal dan mencintai keindahan iman ajaran Katolik.

Nilai-nilai luhur tersebut menjadi modal penting bagi remaja zaman ini dalam menyikapi perkembangan teknologi yang tak terbendung lagi. Buah yang diharapkan adalah teknologi tak mengaburkan iman namun justru memperteguh iman, bahkan teknologi menjadi ladang baru perihal kesaksian iman kekatolikan.

Secara lebih rinci, SanP10 2023 ini dilaksanakan dengan beberapa tujuan. Pertama, sembina rasa persaudaraan dan kepedulian menuju persatuan dan kesatuan diantara Remaka. Kedua, menggali bakat dan Potensi Remaka. Ketiga, membentuk karakter Remaka yang, disiplin, cerdas dan sportifitas. Keempat, belajar hidup mandiri, mempertebal rasa solidaritas dan tanggung jawab akan diri sendiri, komunitas dan lingkungan. Kelima, anak anak dan pendamping diajak untuk mensyukuri anugerah iman supaya belajar hidup mandiri dan tanggung jawab didalam lingkungan dan komunitas masing masing.

Tujuan akan dicapai melalui kegiatan yang dirancang panitia. Kegiatan dikemas dalam dua kategori, yakni gladi jasmani dan gladi rohani. Ekosistem lain yang besar andilnya dalam mencapai tujuan ini adalah para pihak yang terlibat. Oleh sebab itu, dalam rangka sosialisasi ArDas KAPal dan Promosi Panggilan maka dalam acara ini diundang beberapa tarekat/ kongregasi untuk terlibat aktif.

Kongregasi yang hadir adalah: Kongregasi Fransiskus Santo Gregorius Martir (FSGM) 10 orang, Kongregasi Puteri Kasih (PK) 4 orang, Kongregasi Puteri Bunda Hati Kudus (PBHK) 3 orang, Kongregasi Alma 2 orang, Kongregasi Ordo Pewarta (OP) 2 orang, Kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Kudus (HK) 4 orang, Kongregasi FCh 10 Orang, Kongregasi Carolus Borromeus (CB) 2 orang, Bruder Fratrum Immaculatae Conceptionis ( FIC ) 1 orang, Suster CCSS dari Korea 2 orang, dan Frater TOPer dan Diakon Diosesan Keuskupan Agung Palembang 2 orang, serta 2 orang Diakon Keuskupan Agung Kupang yang berkarya di KAPal.

Kehadiran kaum berjubah tersebut juga dimaksudkan untuk promosi panggilan. Memperkenalkan pilihan hidup khusus ini kepada anak remaja. Harapannya banyak yang terpanggil menjadi penerus jejak hidup mereka; menjadi Imam, biarawan-biarawati masa depan gereja.

Gelaran SanP10 2023 yang dikuti oleh sekitar 1000 orang, terdiri dari 916 Remaka Dekanat II dan selebihnya pendamping dan panitia ini dibuka dengan Perayaan Ekaristi pkl. 17.00 Wib. Selebran utama adalah Mgr. Yohanes Harun Yuwono; didampingi oleh 4 Diakon dan 15 Imam.

Dalam kotbahnya, Uskup KAPal menegaskan jangan ragu-ragu berbuat baik.

“Mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang bermula dari kebaikan anak kecil yang membawa 5 roti dan 2 ikan. Anak itu tidak ragu berbuat baik dengan memberikan roti dan ikan tersebut. Jangan ragu berbuat baik, apalagi berbuat baik dalam Tuhan. Bukan hanya soal roti, kita harus berbuat baik supaya menjadi anak yang berkenan kepada Tuhan. Yesus sejak kecil berkenan kepada Bapa. Sepanjang hidupnya selalu berbuat baik”, tegas Mgr. Yuwono.

Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa ajakan untuk tidak ragu berbuat baik tersebut dapat diupayakan dengan menghidupi spiritualitas KAPal, yakni Seperti Kristus, berkenan kepada Bapa Karena kasih yang tanpa pamrih dan tanpa membeda-bedakan dalam semangat persaudaraan yang sejati.

Uskup KAPal menguraikan bahwa Ketika Yesus keluar dari air sewaktu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Dia dihinggapi burung merpati sebagai lambang kehadiran Roh Kudus. Dan segera terdengar suara Bapa yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 3: 17). Dia memang Anak Allah yang Mahatinggi (Luk 1: 32). Namun Dia bukan Anak yang sombong, melainkan yang rendah hati yang taat kepada Bapa-Nya, bahkan taat sampai mati, sampai mati di salib (Fil 2: 8).

Baru dipermandikan, Bapa sudah mengatakan bahwa Dia berkenan kepada-Nya. Artinya sesungguhnya Dia sudah berkenan kepada Bapa sebelum melaksanakan karya perutusan penebusan. Dia adalah Firman Allah yang sejak kekal bersama dengan Allah. Pernyataan Bapa ditegaskan lagi ketika Dia menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam kemuliaan di gunung Tabor (Mat 17: 2).

Dan Dia akan lebih berkenan setelah karya penebusan-Nya terlaksana. Allah akan menganugerahkan kepada-Nya nama yang melebihi segala nama (Fil 2: 9). Sebab Dia telah melaksanakan kehendak Bapa, yakni karya penebusan manusia sampai selesai, sampai tuntas (Yoh 19: 30).

Yesus sudah berkenan kepada Bapa sebelum kelahiran-Nya di dunia. Sebab ketika Philipus meminta Yesus menunjukkan Bapa kepadanya, Yesus menjawab bahwa, “Barangsiapa melihat Aku melihat Bapa” (Yoh 14: 9). Dia sejak semula bersama dengan Bapa (Yoh 1:1). Dan ketika Dia menjadi manusia, “Seluruh kepenuhan Allah ada dalam Dia” (Kol 1: 19-20). Dia dan Bapa tak terpisahkan. Kita dapat mengatakan bahwa sesungguhnya sepanjang hidup-Nya, baik sebelum kelahiran maupun sesudah menjadi manusia, Dia selalu berkenan kepada Bapa.

Bapa Uskup mengajak Remaka untuk menjadi anak yang berkenan kepada Tuhan dengan terus berbuat baik. Dengan cara itu, mereka mengharumkan nama sendiri, orangtua, dan Gereja. Kebaikan yang dilakukan juga mampu merajut persaudaraan dengan semua orang. Memperlakukan siapapun sebagai saudara-saudari. Landasannya adalah kita semua saudara-saudari Kristus maka harus saling mengasihi tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, dan tanpa membeda-bedakan dalam persaudaraan sejati.

Remaka Hebat, Jadilah Berkat

Dalam guyuran hujan acara seremoni pembukaan dilaksanakan. Acara ini dihadiri oleh tamu undangan dari pihak pemerintah, dan pamong masyarakat setempat. Asisten II, H. Hasan HD, S Sos M.SE, mewakili Bupati OKU menyampaikan apresiasi bagi Gereja Katolik atas kiprahnya dalam membina generasi masa depan bangsa melalui kegiatan SanP10 yang sejak dini mengajarkan kepada anak untuk membangun persaudaraan demi terpeliharanya persatuan kesatuan NKRI. Menurutnya, gladi jasmani dan rohani dalam kegiatan ini mengandung nilai-nilai penting yang mempererat persaudaraan, yakni kejujuran, kerjasama, komunikasi, sikap saling menghormati, semangat beribadah, dan nilai baik lainnya.

Dalam sesi materi, Mgr. Harun mengajak anak remaja untuk mensyukuri anugerah tersebut.

“Pada pagi hari ini diguyur hujan yang deras, namun patutlah bersyukur karena berkat air kita memperoleh kesegaran dan kesejukan. Air menyucikan hidup kerohanian kita sebab saat menerima sakramen baptis kita diangkat menjadi anak Allah yang membawa kita kepada kesucian. Walau di  permandikan dan disucikan namun karena keterbatasan dalam diri kita dan adanya aneka godaan kita terjerumus dalam dosa maka untuk hidup suci selain menerima sakramen baptis kita juga menerima sakramen pengakuan dosa” harap Mgr. Yuwono.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Orang  katolik harus hidup suci melalui melalui pengakuan dosa. Apabila kita berbuat dosa jika dibiarkan maka akan seperti pohon yang semakin kuat sehingga susah untuk dicabut dan sulit ditumbangkan. Apabila pohonnya masih kecil seperti kecambah akan gampang dicabut. Dalam kehidupan sehari-hari jangan pernah berdosa supaya tidak merusak relasi dengan Tuhan dan sesama. Anak Remaka diharapkan bisa menjadi orang hebat dan menjadi berkat.

“Dalam Perjanjian Lama banyak anak muda yang hebat, seperti Yusuf anaknya Yakob. Yusuf tukang mimpi dan mimpinya benar. Kakak-kakaknya minta gandum di Mesir, Yusuf anak kecil tidak melawan dan tidak membalas dendam namun mengampuni dan berbelas kasih. Yusuf kecil, Yusuf hebat.” Tegas Uskup KAPal dalam materinya.

Ia melanjutkan, masih ada kisah dalam Perjanjian Lama yang hebat seperti Musa yang masih muda berani melawan orang Mesir dan membela orang tertindas. Semua tokoh iman itu diharapkan menginspirasi Remaka untuk mengembangkan diri menjadi Remaka Hebat yang menjadi berkat.

Setelah  peneguhan dari Mgr. Harun, dilanjutkan oleh RP. Yohanes Sigit Winarno SCJ, DirDios KKI KAPal. Beliau menggunakan metode berdialog yang membangkitkan semangat anak-anak untuk terlibat aktif. “Motto “Children helping children” dengan semangat 2D2K (Doa, Derma, Kurban, Kesaksian). Hal ini perlu terus dikembangkan untuk menanamkan kepedulian anak terhadap sesamanya, lebih-lebih pada anak-anak yang berkekurangan.

Anak-anak SanP10 telah menerima Sakramen Baptis berarti menjadi misionaris yang diutus ke mana berada. Sebagai anggota Gereja, kita melepas kepentingan diri sendiri, melepas keegoisan dan siap melayani sesuai apa yang dibutuhkan oleh lingkungan di mana kita berada.” Ungkap Rm. Sigit SCJ.

Selaku Moderator Remaka Dekanat II KAPal, Romo Suryo Pr merasa bersyukur kepada Yesus; sekaligus memberi apresiasi yang baik bahwa pelaksanaan SanP10 Cup didukung oleh banyak pihak: para romo  dekanat II, pendamping remaka, orangtua, donatur dan kehadiran para tamu dari berbagai macam Kongregasi Suster, Bruder dan Imam.

Syukur dan apresiasi itu muncul juga karena melihat antusiasme anak remaja yang luar biasa. Antusias yang sama juga tergambar dalam diri panitia yang berjuang keras mempersiapkan hajatan ini sejak bulan juli 2022 lalu.

“Jumlah peserta yang hadir diperkirakan mendekati seribu orang. Tema yang diangkat dan direnungkan adalah Persaudaraan Dalam Iman. Melalui tema ini, saya berharap beberapa hal berikut ini. Pertama,  anak- anak tetap menyadari bahwa mereka adalah saudara-saudari satu sama lain. Kedua, saya ingin Visi KAPal sungguh dimengerti, dihayati dan dihidupi oleh anak-anak. Maka dalam kegiatan SanP10 ini ARDAS KAPal disampaikan oleh pendamping dalam kelompok-kelompok. Ketiga, saya berharap bahwa iman anak-anak terus tumbuh dengan baik. Menjadi Anak Remaja yang militan dan Cinta Kristus. Anak anak tetap semangat, penuh berkat, jadi terang dan garam di tengah-tengah para sahabatnya.” Harap Pastor Moderator Remaka Dek. II sekaligus Pastor Kepala Paroki St. Maria Assumpta Mojosari.

Selamat berdinamika membangun persaudaraan dalam Iman melalui event SanP10 2023. Remaka hebat, jadilah berkat!!!

**Sr. Pascal OP/ Widhy

Leave a Reply

Your email address will not be published.