Paus Fransiskus mengenang beatifikasi 9 anggota keluarga Ulma di Polandia, dan memuji kepahlawanan mereka karena memberikan nyawa mereka untuk menyelamatkan orang Yahudi selama Perang Dunia II. Kesembilan anggota keluarga Ulma dibeatifikasi Minggu (10/9) di kampung halaman mereka di Markowa, Polandia, di mana mereka menjadi martir oleh tentara Nazi karena menyembunyikan orang-orang Yahudi selama Perang Dunia II.
Paus Fransiskus menjunjung tindakan keluarga sebagai teladan kehidupan Kristiani yang dapat diikuti semua orang, ketika ia berbicara pada doa Angelus, Minggu (10/9).
Beliau menyebut keluarga Ulma sebagai “teladan yang patut ditiru dalam upaya kita berbuat baik dan melayani mereka yang membutuhkan.”
“Sebagai jawaban terhadap kebencian dan kekerasan yang terjadi pada masa itu, mereka menganut cinta evangelis,” katanya.
Paus menambahkan bahwa keluarga Polandia itu “mewakili secercah cahaya dalam kegelapan Perang Dunia Kedua” dan mengundang semua orang untuk memberikan tepuk tangan bagi para Beato yang baru.
Paus Fransiskus kemudian mendesak umat Kristiani untuk mengikuti teladan mereka dengan “menentang kekuatan senjata dengan kasih, dan retorika kekerasan dengan doa yang gigih.”
“Semoga kita berdoa terutama untuk banyak negara yang menderita akibat perang,” katanya.
“Secara khusus, marilah kita meningkatkan doa kita untuk Ukraina yang menjadi martir… yang sangat menderita.”

Misa Beatifikasi
Kardinal Marcello Semeraro, Prefek Dikasteri Penggelaran Para Kudus, memimpin Misa beatifikasi di Markowa, yang dihadiri oleh 7 Kardinal dan 1.000 imam, dengan lebih dari 32.000 umat terdaftar untuk hadir.
Anggota keluarga yang dibeatifikasi adalah Jozef dan Wiktoria Ulma, dan anak-anak mereka Stanisława, Barbara, Władysław, Franciszek, Antoni, Maria, dan seorang anak yang tidak disebutkan namanya yang lahir pada saat Wiktoria mati sebagai martir.
Dalam homilinya pada Misa, Kardinal Semeraro mengatakan rumah keluarga Ulma menjadi “sebuah penginapan di mana orang-orang yang dihina, diasingkan, dan mereka yang terkena kematian disambut dan dirawat.”
Dia mengatakan Jozef dan Wiktoria menjalani “kekudusan yang tidak hanya terjadi dalam pernikahan tetapi sepenuhnya tertanam dalam seluruh keluarga mereka.”
Bayi yang Tidak Bernama
Kardinal Semeraro juga menjunjung tinggi kesaksian Kristiani mengenai anak yang baru dibeatifikasi dan tidak disebutkan namanya.
“Tanpa pernah mengucapkan sepatah kata pun,” katanya, “hari ini Sang Terberkati berseru kepada dunia modern untuk menyambut, mencintai, dan melindungi kehidupan, terutama mereka yang tidak berdaya dan terpinggirkan, mulai dari saat pembuahan hingga kematian alami.”
Dia mengatakan “suara polos anak tersebut berupaya mengguncang hati nurani masyarakat di mana aborsi, euthanasia, dan penghinaan terhadap kehidupan yang dipandang sebagai beban dan bukan anugerah merajalela.”
“Keluarga Ulma,” kata Kardinal, “mendorong kita untuk bereaksi terhadap budaya membuang-buang, yang dikecam oleh Paus Fransiskus.” **
Devin Watkins (Vatican News)
