Hampir seabad, tepatnya pada 24 September 2024 mendatang, Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) hadir berkarya melayani di Negara Maritim ini. Menyongsong moment ini, para Dehonian (sebutan mereka yang berspiritualitaskan Hati Kudus Yesus yang dibawa oleh Pater Leo Dehon), menengok ke belakang, bagaimana benih iman ditanam oleh para misionaris.
Sabtu pagi, (23/09) bertempat di Aula St. Lucia Rumah Retret Giri Nugraha Palembang, diselenggarakan seminar bertema Misi Dehonian dalam Kolaborasi: Kolaborasi Bersama Para Religius dan Gereja Lokal. Seminar ini bernarasumberkan Romo Titus Waris Widodo SCJ, Rektor Seminari Menengah St. Paulus Palembang; dan Romo Yohanes Samiran, Vikaris Jendral Keuskupan Tanjung Karang.
Romo Titus, yang pernah menjabat Provinsial SCJ Indonesia mengisahkan bagaimana karya Kongregasi SCJ dimulai di Bumi Pasemah, Tanjung Sakti, sebuah desa kecil di Provinsi Sumatera Selatan. Kolaborasi bersama para religius kongregasi lain.

Kolaborasi Bersama Para Religius
“Penetapan Bengkulu sebagai Prefektur Apostolik tanggal 27 Desember 1923, Tanjung Sakti masuk keresidenan Bengkulu, yang sebelumnya masuk Prefektur Apostolik Padang. Di tengah Rimba Raya Sumatera, sudah ada karya misi yang sangat penting saat itu,” kata Romo Titus, mengawali pemaparannya. Waktu itu, Ordo Teatin, Ordo Kapusin, dan Ordo Serikat Yesus (SJ), lebih dulu menyemai benih kekatolikkan.
“Apa yang menjadi fokus pelayanan (Ordo Serikat Yesus) waktu itu?” tanyanya.
“Pertama, pewartaan Kerajaan Allah, Injil,” kata Romo Titus, “harus diwartakan. Kedua, pelayanan pendidikan. Maka, Suster-suster Kongregasi Belas Kasih diundang ke Sumatera Selatan. Ketiga, pelayanan di bidang kesehatan.
“Pastor van Meurs SJ sudah melayani pendidikan, tapi juga kesehatan pada zaman itu. Dia luar biasa. Selain mengajar, dia juga seorang tabib,” jelasnya.

Kongregasi SCJ mengambil estafet misi. “Setelah Dehonian hadir di Tanjung Sakti, para Dehonian mengundang kongregasi lain untuk bergabung (berkolaborasi), mewartakan Injil dengan cara yang berbeda bersama para Dehonian,” kata Romo Titus.
Mengapa berkolaborasi? Karena jumlah anggota SCJ yang terbatas saat itu. Saat mau membuka misi, Pater Dehon menghitung berapa tenaga yang dibutuhkan.
“Karena keterbatasan SDM, juga barangkali kualifikasinya (keahlian), kalau mau pendidikan, seperti Romo Meurs, mungkin tidak ada yang seperti itu. Lalu SCJ memperluas Misi. Pastor van Oort meninggalkan Tanjung Sakti dan pergi ke Palembang. Pastor Smeets, (Prefek Apostolik Bengkulu saat itu), mengangkat Pastor van Oort menjadi pastor Paroki Hati Kudus Palembang,” kisah Romo Titus.
Palembang dipilih menjadi pusat misi saat itu, karena dipandang sebagai kota besar. “Cukup banyak penduduknya. Umat Katolik lebih dari 100 orang, juga sudah ada rumah warisan OFM Kapusin, karena Ordo Kapusin (waktu itu) sudah merencanakan untuk mengembangkan misi ke Palembang,” jelasnya.
Berkembangnya misi pelayanan Kongregasi SCJ adaah berkat kolaborasi dengan kongregasi lain. Misalnya, karya pendidikan yang dilayani oleh Frater-frater Kongregasi Bunda Hati Kudus (BHK), Suster-suster Kongregasi Belas Kasih dari Hati Kudus Yesus (HK), Suster-suster Kongregasi Carolus Borromeus (CB), Kongregasi Para Suster Fransiskan Misionaris Maria (FMM); karya kesehatan oleh Suster-suster Kongregasi St. Fransiskus Charitas (FCh), Suster-suster Kongregasi Fransiskanes dari St. Georgius Martir (FSGM). Pelayanan tidak hanya di Palembang, melainkan meluas ke Kota Bengkulu, Jambi, dan Provinsi Lampung.




Kolaborasi Bersama Gereja Lokal
Mengapa SCJ tidak berkarya di bidang khusus, misalnya kesehatan atau pendidikan?
“Awal kedatangan SCJ diutus untuk menanamkan ‘Gereja Lokal’ melalui ‘katolikisasi’ (pengajaran iman Katolik). Dalam perjalanan waktu, SCJ harus berani menyerahkan bidang-bidang yang bisa ditangani oleh awam setempat (sosial, pendidikan, kesehatan) dan bahkan juga mendorong agar panggilan tumbuh berkembang,” jelas Romo Samiran.
Melihat pelayanan yang makin berkembang berkat kolaborasi, maka Kongregasi SCJ Provinsi Indonesia harus ‘move on’, keluar dari zona nyaman, memulai karya di tempat-tempat lain.


“SCJ juga berkali-kali menegaskan komitmennya untuk tetap berjuang dan melayani Gereja dan masyarakat sesuai tuntutan bidangnya, termasuk menyiapkan tenaga dan kompetensi yang dibutuhkan untuk bidang parokial, spiritual-religius, formatio panggilan, sosial, dan pendidikan. Kehadiran SCJ tetap dibutuhkan,” kata Romo Samiran.
“Entah untuk pelayanan parokial maupun kategorial, juga cakupan atau tempatnya juga berkembang tidak hanya terbatas pada Sumbagsel. Di dalam negeri di Papua, Padang: Riau, Keuskupan Agung Medan, Kalimantan (Keuskupan Agung Samarinda). Luar negeri di Filipina, India, Vietnam, China, Taiwan, Hongkong, USA, Canada, Argentina, Colombia, dan Madagaskar,” katanya.

What’s Next?
Kolaborasi yang relevan untuk dikembangkan di masa depan menurut Romo Titus adalah karya sosial, rumah retret, pelayanan untuk anggota SCJ lansia dan sakit, pendidikan tinggi, dan pengembangan asrama.
Tentang karya sosial, secara spesifik, Romo Titus mengatakan, “Banyak kebutuhan untuk karya sosial. Ada korban narkoba, human trafficking (perdagangan manusia), lingkungan hidup, home care, buruh, dan migran.”
Tentang rumah retret, ia memandang kebutuhan pembinaan rohani semakin lama semakin meningkat, namun ketersediaan rumah retret masih sangat terbatas. Pelayanan anggota SCJ lansia dan sakit perlu dipikirkan. Ini karena sepuluh tahun ke depan, akan ada sekitar 40 anggota SCJ yang berada di usia lansia. Ia menyarankan kombinasi dengan pelayanan lansia awam.
“Pendidikan. Kita sudah punya pengalaman berkolaborasi di Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC). Ada peluang pendirian lembaga pendidikan tinggi lain, misalnya di Jambi,” sarannya, sembari mengingatkan bahwa karya pelayanan yang makin meluas, juga membutuhkan ekstra sumber daya, baik tenaga dan biaya.
** Kristiana Rinawati
